Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa

Jejak Kepahlawanan Ma Eroh, Belah Gunung untuk Alirkan Air Menuju Desa
info gambar utama

Pada KTT COP26 hampir 100 kepala negara menandatangani deklarasi untuk menghentikan dan mengembalikan hutan yang hilang pada tahun 2030.

Mengutip Suara, Senin (15/11/2021), ada 12 negara yang berjanji membelanjakan 12 miliar dolar dana publiknya mulai tahun 2021 dan 2025. Nanti juga akan ada bantuan dari pihak swasta untuk melindungi dan memulihkan hutan sebesar 7,2 miliar dolar.

Deklarasi para pemimpin ini mencangkup komitmen untuk melestarikan hutan dan ekosistemnya darat lainnya serta mempercepat pemulihan. Mereka juga menegaskan akan adanya keselarasan aliran keuangan untuk mengembalikan fungsi hutan.

Pada kesempatan itu, World Wide Fund for Nature (WWF) menyambut baik terjadinya deklarasi tersebut. Bagi WWF, deklarasi ini sesuai dengan janji beberapa pemerintah untuk mengembalikan hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030.

Tambrauw, Daerah yang Perlakukan Hutan Layaknya Ibu

"Hutan menyediakan jasa ekosistem yang sangat penting bagi kesejahteraan manusia, ekonomi dan sosial, namun mereka terus menghilang pada tingkat yang mengkhawatirkan. Komitmen oleh lebih dari 100 pemimpin dunia untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi dan degradasi lahan pada tahun 2030 disambut baik karena mengakui nilai penting hutan dan ekosistem alam lainnya," kata Fran Price, Global Forest Practice Lead WWF.

Karena itulah WWF menegaskan janji tersebut harus diikuti dengan komitmen dari para kepala negara, seperti meningkatkan partisipasi, akuntabilitas, transparansi, dan mengatasi perilaku korupsi.

Pasalnya menurut Price, upaya perbaikan lingkungan perlu disertai dengan komitmen dari setiap negara. Tanpa adanya kominten isu perubahan lingkungan ini hanya akan menguap karena kalah dengan derasnya kepentingan pasar.

Ma Eroh, membelah gunung untuk mengalirkan air ke desa

Gunung Galunggung (Shutterstock)

Ketika India memiliki Dasrath Manjh, pria yang selama 22 tahun menggunakan linggisnya untuk membelah gunung, Indonesia punya sosok Ma Eroh atau Nyi Eroh yang selama 40 hari memapras bukit cadas di lereng Gunung Galunggung.

Wanita asal Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ini melakukannya bukan karena iseng tetapi demi mengalirkan air menuju desanya yang kekeringan.

Hanya menggunakan alat sederhana seperti belencong dan cangkul, Ma Eroh begitu gigih menggali saluran air sepanjang 5 kilometer melintasi perbukitan di lereng Gunung Galunggung pada 1987.

Dipaparkan Pikiran Rakyat, Ma Eroh memulai membangun saluran air itu saat umur 45 tahun. Sementara itu awal pembuatan parit dilakukannya selepas Gunung Galunggung meletus pada 1992.

Memang selepas meletusnya gunung tersebut warga Pasirkadu dan Tasikmalaya mengalami kekeringan. Rumah dan pertanian warga tertutup pasir dan abu Galunggung.

Sementara itu, sehari-hari Ma Eroh mencari mata pencaharian dengan masuk hutan untuk mencari supa lember (jamur). Dirinya memang telah menjadi tulang punggung keluarga, pasca suaminya sakit dan tidak bisa berjalan.

COP26, Kegagalan Negara Maju Penuhi Kesepakatan dan Dilema Berakhirnya Era Batu Bara SA Siti Nur Arifa

Karena sering masuk dan keluar hutan inilah, Ma Eroh berhasil menemukan sumber air yang berasal dari curug di Pasirlutung. Ternyata setelah diperhatikan, sumber air ini tidak tertutup oleh abu dari Galunggung.

Melihat hal ini, dirinya kemudian mencoba untuk membuat saluran air sepanjang 4,5 kilometer, tentu saja resikonya harus menggali perbukitan tepi jurang. Berbekal alat sederhana yaitu belencong dan linggis, dirinya tanpa kenal lelah memapras perbukitan setiap hari.

Memberikan manfaat yang luas walau dicibir

Jika bicara soal pendidikannya, Ma Eroh hanya menyelesaikan tahun ketiga sekolah dasar (SD) dan tidak memiliki pengetahuan geologi dan arsitek. Tetapi berbekal semangat, dia terus berusaha membuat terowongan yang menembus bukit padas dan tanah liat sepanjang 45 meter.

Sebenarnya aksi nekat Ma Eroh juga mendapat cibiran dari warga, banyak yang menyebutnya sudah gila karena membuat saluran air di lereng Galunggung yang curam. Akan tetapi dirinya saat itu tak menggubrisnya.

"Pernah ada yang menyebut gila. Tetapi Ma Eroh mah tidak menjawab, tetap aja dilakukan apa yang dicita-citakan," ungkap Maesaroh, anak ke-3 dari Ma Eroh dalam Ayotasik.

Ma Eroh memang perempuan yang bermental baja, hanya menggunakan tali ala kadarnya untuk bergelantungan di dinding bukit dan membuat saluran. Dirinya terus membuat saluran air sepanjang 4,5 kilometer, mengitari beberapa bukit dengan kemiringan 60 hingga 90 derajat.

Akhirnya, penilaian masyarakat saat itu berubah setelah melihat saluran air yang dibuat Ma Eroh sampai ke perkampungan warga. Sebanyak 19 warga desa kemudian turut membantu untuk memperpanjang saluran air tersebut.

Sehingga dalam waktu 2,5 tahun (1988-1990) saluran sepanjang 4,5 kilometer yang mengitari 8 bukit itu berhasil diselesaikan. Tidak hanya mengitari 400 meter area sawah Ma Eroh, tetapi juga kampungnya.

Hasil dari kerja keras Ma Eroh ini tidak hanya mengairi Desa Santanamekar, melainkan juga dua desa tetangga, yakni Desa Indrajaya dan Sukaratu. Ia senang bisa membuat kawasan ini menjadi lebih subur dan penduduknya bisa memperbaiki ekonominya.

Saptoyo dan Lia Putrinda, Pengawal Kelestarian Alam Pesisir Pantai Sendangbiru

Jerih payah dari Ma Eroh ternyata langsung terdengar di telinga Presiden Soeharto. Akhirnya pada 1988, Ma Eroh diundang ke istana untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru dari presiden.

Diingat oleh anaknya bernama Rohanah, ada kisah lucu saat ibunya pergi ke Jakarta untuk menerima penghargaan. Ketika itu pemerintah kesulitan mendandani Ma Eroh karena tidak ada kebaya dan sandal yang sesuai dengan ukuran.

Maklum saja, selama ini perempuan besi ini melakukan aktivitas hanya bertelanjang kaki. Tentunya saja susah baginya mengikuti protokol istana yang mengharuskannya berpakaian formal.

Ketika masih hidup, Ma Eroh pun sering diundang dalam acara peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Kartini. Berbagai bantuan juga mengalir kepadanya.

Selain itu, di alun-alun Kota Tasikmalaya juga terdapat tugu Ma Eroh dengan Abdul Rozak yang menjadi ikon kota. Tugu ini berdiri kokoh, menghadap ke arah selatan dengan tangan menunjuk sambil memanggul bendera bertuliskan Kalpataru.

Ma Eroh menghembuskan napas terakhirnya pada 18 Oktober 2004, jenazahnya dikebumikan tepat di samping rumahnya. Di samping pusara ini terdapat pahatan bertuliskan ''Pahlawan Lingkungan Hidup Ma Eroh, Penerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Soeharto tahun 1988 dan Penghargaan Lingkungan Hidup dari Persatuan Bangsa-Bangsa tahun 1989''.

Jerih payah Me Eroh yang terlupakan

Namun setelah Ma Eroh meninggal karena stroke, seolah dunia telah melupakan jerih payahnya selama ini. Tak ada lagi undangan dan bantuan kepada keluarganya yang hidup sederhana di Santanamekar.

Sementara itu, keluarganya tidak menyimpan Piala Kalpataru yang didapat oleh Ma Eroh karena disimpan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya.

Sementara itu saluran air yang pernah dibuat oleh Ma Eroh malah diabaikan. Bedasarkan penelusuran Ayotasik, beberapa longsoran tanah telah menggerus saluran air tersebut.

Hal ini membuat saluran air itu tidak sampai ke pemukiman warga. Memang perawatan saluran air ini sudah terbengkalai sejak Ma Eroh wafat.

Sementara permintaan keluarga agar saluran air itu diperbaiki pun belum mendapat respons dari pemerintah setempat. Walau pada waktu Ma Eroh hidup, masih ada gerakan pembersihan saluran air dua kali saban bulannya.

Dikabarkan oleh Liputan6, memang sejak menerima penghargaan Kalpataru, Ma Eroh tidak mendapatkan dana untuk memelihara saluran air. Karena itulah dirinya tetap kembali bekerja untuk merawat saluran air.

Saat itu, dirinya setiap pagi harus naik turun bukit curam untuk memeriksa saluran air. Ternyata pekerjaan ini berdampak buruk kepada kondisi kesehatan Ma Eroh.

Melihat Status dan Upaya Konservasi Penyu di Indonesia

Dirinya bahkan pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Tasikmalaya karena hipertensi. Pinggang dan tulang belakangnya sering ngilu, membuatnya nyaris sulit bergerak.

Pada penghujung usianya, harapan Ma Eroh tidak muluk-muluk. Dirinya hanya berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke Kampung Pasirkadu.

Selain itu, dirinya juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Pasalnya, masjid terdekat berjarak sekira 2 kilometer dari rumahnya.

Sekarang, nama dan jasa besar Ma Eroh mulai dilupakan oleh masyarakat. Tidak banyak lagi yang mengenal, namanya hanya disebut saat penyelenggaraan Hari Lingkungan Hidup di Pemkab Tasimalaya, setelahnya namanya kembali terlupakan.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini