Ciptakan Instalasi Seni Terumbu Karang, Teguh Ostenrik: Ingin Berbuat Sesuatu untuk Negeri

Ciptakan Instalasi Seni Terumbu Karang, Teguh Ostenrik: Ingin Berbuat Sesuatu untuk Negeri
info gambar utama

"Diminta untuk membuat seni patung dan lukisan, saya bilang kalau boleh ingin berbuat sesuatu yang berbeda, ingin berbuat sesuatu untuk negara saya, untuk negeri saya."

---

Menjadi salah satu ekosistem penting di wilayah perairan, terumbu karang selama ini telah menjadi tempat tinggal bagi ribuan jenis hewan dan tumbuhan laut yang sebagian besar di antaranya memiliki nilai ekonomi tinggi.

Bukan hanya itu, ada banyak berbagai jenis hewan yang hidup dan mencari makan dengan berlindung di ekosistem satu ini. Siklus yang ditimbulkan pun berkelanjutan, banyak keanekaragaman sumber daya alam yang dihasilkan dari ekosistem terumbu karang telah menjadi sumber mata pencarian utama bagi ribuan bahkan jutaan masyarakat pesisir yang ada di Indonesia.

Sayangnya, jaminan akan siklus berkelanjutan tersebut saat ini berada pada status sedang tidak baik-baik saja, atau bahkan dapat dikatakan sedang dalam keadaan kritis, terkait situasi krisis iklim yang melanda dan membayangi masa depan bumi.

Pada gelaran konferensi iklim (COP26) yang berlangsung di dua pekan awal November kemarin, salah satu tujuan yang menjadi pembahasan utama adalah mengenai target untuk menjaga agar kenaikan suhu rata-rata bumi tetap ada di angka 1,5 derajat celsius.

Jika angka tersebut terlampaui, menurut para ilmuwan yang tergabung dalam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), dapat dipastikan bahwa sekitar 99 persen populasi terumbu karang di dunia akan musnah, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari berbagai prediksi mengenai masa depan ekosistem terumbu karang yang terancam, setidaknya saat ini semua pihak sedang dalam upaya terbaik untuk melakukan pelestarian terhadap terumbu karang.

Dan kabar baiknya, perjuangan yang telah dilakukan tersebut mengantarkan Indonesia sebagai negara nomor satu dalam hal pelestarian terumbu karang, menurut seorang peneliti terkemuka tentang ketahanan ekosistem terumbu karang asal Universitas Queensland, Peter Mumby.

Pandangan tersebut tentunya dapat diraih berkat partisipasi berbagai pihak, tidak hanya dari pemerintah melainkan juga sederet pihak independen yang dengan kesadaran penuh memiliki kepedulian akan keberlangsungan lingkungan dan ekosistem laut.

Salah satu di antaranya adalah Teguh Ostenrik, sosok seniman kawakan yang tidak hanya mencurahkan keahliannya untuk menghasilkan karya seni berupa lukisan atau patung, pria yang tahun ini diketahui telah melampaui usia 70 tahun tersebut nyatanya mampu menghadirkan karya berupa instalasi seni yang dapat dibawa langsung sampai ke dasar laut Indonesia, dan di saat bersamaan berperan dalam upaya pelestarian terumbu karang.

Adapun hasil karya yang dimaksud yaitu berupa ARTificial Reef atau terumbu karang buatan dengan rangkaian nama ‘Domus’ yang telah ia garap di berbagai wilayah perairan tanah air. Kepada GNFI, Rabu (17/11/201), Teguh membagikan sedikit cerita dan perjalannya dalam membangun sejumlah instalasi seni terumbu karang yang sudah ia lakukan sejak tahun 2013.

Indonesia Nomor Wahid dalam Upaya Pemulihan Terumbu Karang di Bumi

Bagaimana pendapat anda mengenai kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini, terutama terkait hasil dari COP26 kemarin?

Harus diakui bahwa sebenarnya kondisi terumbu karang di Indonesia memang sudah rusak, sebagai salah satu dari lima negara yang masuk dalam kawasan coral triangle, dulu sekitar tahun 1950 kondisi terumbu karang kita masih sehat, sekarang kabarnya kondisi yang benar-benar masih sangat bagus hanya tinggal sekitar enam persen.

Sebenarnya bukan hanya karena pemanasan global atau perubahan iklim saja, tapi juga karena ulah manusia sebagai akibat dari kegiatan fishing yang tidak ramah lingkungan.

Kapan mulai memutuskan untuk membuat instalasi seni terumbu karang?

Mulai tahun 2013 saya diundang oleh Qunci Villas untuk menjadi salah satu artist residensinya mereka. Biasanya hotel atau resort mengundang seniman untuk berkarya di properti mereka untuk melukis, membuat patung, dipamerkan, lalu jadi dekorasi hotelnya.

Tapi saya sedikit menolak waktu itu, saya bilang kalau boleh ingin berbuat sesuatu untuk Pulau Lombok, ingin berbuat sesuatu untuk negara saya, untuk negeri saya.

Akhirnya mereka minta presentasi, lalu saya membuat konsep instalasi seni yang ditenggelamkan ke laut dan menjadi tempat karang tumbuh dan akhirnya menjadi terumbu karang.

Indonesia Miliki Transek Terumbu Karang Terbanyak di Global Reef Record Asia Tenggara

Bagaimana konsep dalam pembuatan instalasi seni tersebut?

Karena berangkatnya dari seni, jadi instalasi ini saya namakan ARTificial Reef karena memang selain pelestarian, tujuan utamanya juga menjadikan intalasi seni tersebut sebagai atraksi di bawah air berupa rumah bagi biota laut.

Prinsip saya dalam membuat seni adalah menghasilkan karya yang dapat membuka nafkah bagi orang-orang di sekitarnya. Jadi kalau instalasi tersebut menjadi dive spot tentu-ibu-ibu sekitar yang biasa menawarkan jasa mengangkat botol oksigen kecipratan rezeki, belum lagi yang punya perahu, dive master-nya, dan lain-lain. Jad ibarat sekali tepuk dua-tiga lalat tertangkap.

Saat ini sudah ada berapa banyak karya instalasi terumbu karang yang dihasilkan?

Kurang lebih sudah ada 10, sebelumnya itu sudah ada Domus Musculi atau rumah siput di Kepulauan Seribu, Domus Longus atau rumah panjang di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Domus Piramidis Dogong atau rumah piramida dugong di Pulau Bangka, Sulawesi Utara, Domus Sepiae atau rumah cumi-cumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang paling baru itu kemarin Domus Coronarius Circularis di Banyuwangi.

Kenapa nama instalasi yang terakhir Domus Coronarius Circularis?

Iya sesuai namanya karena dibuat pada saat kondisi pandemi melanda, waktu itu kurang lebih sudah satu tahun semenjak Corona, saya gambarkan situasi kita ibaratnya sedang tidak tahu apa yang sedang dihadapi, virusnya baru, mencari solusinya pun masih banyak eksperimental.

Hal yang sama juga saya terapkan setiap membuat instalasi terumbu karang sebelumnya, saya selalu menerapkan makna atau filosofi yang biasanya bergantung pada kondisi di masing-masing wilayah perairan.

Salah satu contohnya di Lombok yang pertama itu Domus Sepiae saya buat untuk menghormati keberadaan cumi-cumi, karena waktu saya pertama kali menyelam di Senggigi tahun 1984 itu karangnya masih bagus, terkenal akan gudangnya cumi-cumi dan lobster tapi sekarang sudah seperti gurun pasir alias sudah habis.

Restorasi Terumbu Karang Makin Digalakkan Seiring dengan Kondisi yang Mengkhawatirkan

Berapa lama proses yang dibutuhkan untuk membuat setiap instalasi dan bagaimana prosesnya?

Kalau secara fisik biasanya dua minggu sudah selesai karena saya punya tim yang sudah biasa membuat karya-karya saya.

Saya juga bekerja sama dengan berbagai pihak yang berasal dari disiplin ilmu lain, mulai dari tenaga sipil, 3D operator, teman-teman kelautan, marine biology, pokoknya macam-macam. Kami juga bekerja sama dengan teman-teman peneliti kelautan di IPB dan Universitas Brawijaya.

Bahkan teman-teman dari marine biology banyak mengirimkan mahasiswanya untuk penelitian skripsi, jadi kami juga bekerja sama dengan mereka untuk membuat laporan mengenai pertumbuhan terumbu karang di instalasi tersebut.

Karya ini pernah dituding merusak lingkungan terumbu karang yang sudah ada di lokasi, bagaimana situasi yang sebenarnya?

Sebenarnya memang salah satu penurunan instalasi yang terjadi waktu itu pernah menyenggol sedikit bagian terumbu karang di lokasi, tapi terumbu karang yang tersenggol pada waktu itu kenyataannya adalah karang yang sudah mati. Dan faktanya ketika instalasi terumbu karang yang diturunkan sudah berjalan selama satu hingga dua tahun justru mulai terlihat dan terbukti sendiri jika dampak yang diberikan lebih besar dengan adanya populasi karang yang hidup di instalasi ini.

Bisa dilihat sendiri di YouTube sekarang banyak karya yang saya buat sudah berhasil menumbuhkan terumbu karang, tapi akhinya orang-orang yang sebelumnya beteriak mengenai kerusakan sampai sekarang tidak pernah membicarakan keberhasilannya.

Proses pemeliharaan dan pemantauan dari instalasi terumbu karang itu sendiri sebenarnya seperti apa?

Dari awal itu ya pasti kami memiliki tim survei, semuanya dilakukan dengan berkonsultasi lebih dulu dengan berbagai pihak yang memang memiliki wewenang dan penilaian mengenai kondisi di lapangan yang sesungguhnya.

Dari awal kita turunkan instalasi itu ke laut setiap hari selalu ada yang mengawasi, kalau ada karang yang mati dilepas lalu dibuat pembibitan lagi, setiap karang yang di transplant itu difoto lalu di kasih nomor, setiap dua bulan dibuat laporan sudah tumbuh berapa sentimeter, segala macam itu kita ada timnya.

Apa kedepannya masih ada rencana untuk menghadirkan instalasi serupa?

Impian saya semakin banyak ARTificial Reef ya semakin bagus, karena dilihat dari yang sudah jadi di Pulau Wakatobi itu terbukti berhasil mengembalikan keberadaan terumbu karang, lautan Indonesia itu kan luas sekali, masih banyak yang perlu diperbaiki.

Mari Menengok Keadaan Terumbu Karang Indonesia

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak pahlawan lingkungan yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan, angkat topi untuk ''Para Penabur Lingkungan''.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini