Tuksedo Studio, UMKM Asal Bali Garap Trofi untuk Juara Podium WSBK Mandalika 2021

Tuksedo Studio, UMKM Asal Bali Garap Trofi untuk Juara Podium WSBK Mandalika 2021
info gambar utama

Minggu (21/11/2021), akhirnya telah menjadi puncak penantian besar dari terselenggaranya rangkaian kejuaraan balap motor kelas dunia yaitu World Superbike (WSBK), World Supersport (WSS), bahkan seri Asian Talent Cup (ATC) yang seharusnya berlangsung seminggu sebelumnya, yaitu di tanggal 14 November.

Ya, karena beberapa situasi tertentu, ATC pada akhirnya diselenggarakan bersamaan dengan WSBK dan WSS sehingga membuat gelaran di hari Minggu kemarin menjadi semakin meriah. Momen tersebut membuat sirkuit Mandalika dipenuhi dengan berbagai pebalap kelas dunia yang masing-masing berkompetisi untuk menjadi yang tercepat.

Berpacu untuk meraih gelar juara, momen yang paling dinanti sudah pasti adalah saat para pebalap yang berhasil menjadi pemenang di masing-masing kejuaraan naik ke podium dan merayakan kemenangan dengan meriah.

Bicara soal juara, tentu ada satu hal yang tak boleh terlewat dari setiap perayaan yang dilakukan saat para pebalap tercepat menaiki podium, yaitu pemberian trofi. Menariknya, keberadaan trofi pada rangkaian ajang balap kali ini ternyata memiliki desain istimewa dan banyak menarik perhatian karena dibuat oleh kelompok UMKM yang didirikan oleh para seniman muda asal Bali, yaitu Tuksedo Studio.

Detail "Outfit Karya Anak Bangsa" Jokowi pada Peresmian Sirkuit Mandalika

Pembuatan trofi untuk WSS dan ATC

Meski yang paling disorot adalah trofi untuk kejuaraan WSBK, nyatanya UMKM yang dimaksud juga membuat trofi untuk dua ajang balap lainnya, yaitu WSS dan ATC.

Sebelum kejuaraan kemarin bergulir, kabar mengenai trofi yang dirancang sekaligus dibuat oleh UMKM asal Bali tersebut sebenarnya sudah jauh lebih dulu dikonfirmasi sejak beberapa waktu lalu.

Bambang Soesatyo, selaku Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI), kemudian kembali memastikan bahwa trofi yang diangkat oleh para pebalap kelas dunia kemarin merupakan hasil karya para seniman muda yang tergabung dalam UMKM Tuksedo Studio.

Mengutip keterangan dari laman resmi MPR, dijelaskan bahwa trofi yang dirancang untuk masing-masing kejuaraan nyatanya dibuat dengan menyertakan filosofi yang berfokus pada simbolisasi Mandalika sebagai sirkuit tempat rangkaian ketiga ajang balap internasional diselenggarakan.

"Trofi dibuat secara handmade oleh para seniman Indonesia di Tuksedo Studio Bali. Sehingga mampu meninggalkan kesan mendalam bagi para juara yang menerimanya, maupun bagi penggemar balap pada umumnya. Sekaligus menjadi bukti nyata betapa hebatnya talenta serta potensi warga Indonesia sebagai pekerja, partisipan aktif, hingga penyelenggara ajang olahraga otomotif di level internasional," jelas Bamsoet, saat menyaksikan gelaran WSBK Mandalika 2021.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa jajaran trofi tersebut dibuat dengan material yang berasal dari bahan dasar aluminium dan stainless steel sebagai representasi dari Tuksedo Studio Bali yang bergerak dalam bidang pembuatan kit car, modifikasi, re-kreasi, hingga restorasi kendaraan yang menggunakan kombinasi material sama dalam berbagai project kendaraan yang mereka hasilkan.

Jajaran Pebalap Indonesia yang Berlaga di Sirkuit Mandalika

Bengkel restorasi otomotif yang digawangi anak muda

Trofi
info gambar

Jika ditelusuri lebih jauh, terpilihnya Tuksedo Studio sebagai pihak yang mendapat kesempatan istimewa merancang sekaligus membuat trofi untuk gelaran balap WSBK dan lain-lain ternyata bukanlah tanpa alasan.

UMKM satu ini rupanya memang bergerak di bidang otomotif tepatnya sebagai pusat produksi berbagai kendaraan klasik di Indonesia. Menjawab tingginya minat beberapa kalangan akan mobil klasik di tanah air namun terhalang keberadaan mobil klasik yang sudah langka karena tidak diproduksi lagi oleh pabrikan aslinya, studio satu ini akhirnya hadir untuk menggarap berbagai jenis mobil klasik yang diinginkan oleh para peminat.

Berlokasi di kawasan Gianyar, usaha satu ini mengusung konsep 'Welcome to the place where science and art break even', mereka diklaim mampu memproduksi berbagai jenis kendaraan klasik dari nol, mulai dari menyiapkan sasis hingga bodi, dan didukung dengan hasil pengerjaan yang tidak kalah dengan wujud mobil klasik buatan pabrik aslinya namun dengan harga yang lebih murah.

Berdiri sejak tahun 2017, sejumlah model mobil klasik yang sudah dihasilkan oleh Tuksedo Studio di antaranya Porsche 356 Speedster (1957), Porsche 356 A Coupe (1955-1959), Porsche 550 Spyder (1953-1956), Mercedes Benz 300 SL Gullwing (1954 1957), dan masih banyak lagi.

Beberapa waktu lalu, UMKM ini sempat mendapat kunjungan sekaligus dukungan dari Bamsoet sekaligus Menparekraf Sandiaga Uno dan dipandang dapat menghidupkan geliat industri otomotif di tanah air, khususnya di kalangan anak muda.

"Tuksedo Studio Bali menjadi tempat bagi para anak-anak muda untuk belajar membuat kendaraan dari nol. Dimulai dari tahap 3D design, rekonstruksi rangka, dan memasang plat alumunium berbobot ringan, hingga tidak melupakan pembangunan aspek estetika dan ergonomi mobil. Melalui Tuksedo Studio Bali, membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga bisa meramaikan dunia produksi mobil klasik, yang kini juga sedang digandrungi oleh builder dari berbagai negara,” ujar Bamsoet.

Detail Motor yang Dipakai Jokowi di Sirkuit Mandalika, Karya Bengkel Kustom Lokal

UMKM berjaya di rangkaian ajang balap Mandalika

UMKM
info gambar

Tentu bukan hanya Tuksedo Studio satu-satunya UMKM yang mendapat kesempatan untuk banyak dikenal pada rangkaian kompetisi balap di Mandalika. Pada kemeriahan acara yang berlangsung kemarin, diketahui ada sebanyak 330 UMKM yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara tersebut.

Sejak awal pembangunan, sirkuit Mandalika sejatinya memang telah diproyeksikan sebagai salah satu sarana yang dapat menjadi pengantar bagi para pelaku UMKM setempat untuk naik kelas dan semakin dikenal oleh para wisatawan yang datang.

Pada rangakaian gelaran WSBK kemarin, ratusan UMKM yang berpartisipasi diketahui berasal dari berbagai bidang mulai dari pelaku usaha untuk produk cinderamata layaknya seni kriya, kuliner, pakaian, hingga aksesoris berupa mutiara.

Selama pelaksanaannya, diketahui bahwa pihak Mandalika sekaligus Pemprov NTB telah menyediakan sebuah lahan di area parkir sebelah timur sirkuit, dengan fasilitas berupa stan yang masing-masing memiliki ukuran 20x50 meter dan 20x20 meter. Selain itu juga terdapat beberapa stan yang berlokasi di pintu VIP sirkuit.

Seluruh UMKM yang terlibat dipastikan tidak dikenakan biaya maupun pemungutan pajak, alias gratis berjualan pada kesempatan tersebut.

“Pelibatan UMKM menjadi bukti bahwa karya mereka memiliki kualitas internasional, sekaligus menjadi tambahan dorongan bagi mereka untuk semakin meningkatkan kualitas dan produktifitas," pungkas Bamsoet.

Digitalisasi UMKM Melalui Event MotoGP Mandalika

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini