Inovasi Produk Cokelat Edamame, Rizqo Palefi: Kami Ingin Jadi Trendsetter Olahan Edamame

Inovasi Produk Cokelat Edamame, Rizqo Palefi: Kami Ingin Jadi Trendsetter Olahan Edamame
info gambar utama

"Menjalankan bisnis harus sesuai passion karena semangat dan energi itu bisa naik-turun. Kalau sesuai passion, ada sisi yang bisa mengembalikan semangat lagi karena itu penting."

---

Dalam menjalankan bisnis, kegagalan memang kerap datang tanpa diminta. Nampaknya, kegagalan sudah menjadi satu paket yang tak dapat ditawar lagi dalam dunia bisnis. Seperti kata pepatah lama, kegagalan adalah kunci keberhasilan. Dari mengalami kegagalan, setiap pengusaha bisa belajar, menjadikan momen terpuruk untuk refleksi, bangkit, dan berevolusi untuk mencapai kesuksesan.

Semangat tentunya menjadi poin penting dalam menjalankan sebuah usaha. Tanpa adanya semangat yang membara, tentu akan sulit keluar dari segala permasalahan yang ada. Bila si pemilik usaha sudah tidak lagi punya semangat, maka hal ini akan tercermin pada usahanya.

Mohamad Rizqo Palefi merupakan salah satu contoh pengusaha muda menjadikan semangat sebagai salah satu kunci dalam menjalankan bisnisnya. Pemuda asli Jember ini mengembangkan usaha kuliner dengan merek Fondre dan produknya berupa cokelat edamame.

Produk cokelat dan edamame memang bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Namun, jika keduanya dipadukan bersama, tentu ini merupakan sesuatu yang baru dan terbilang unik. Mengingat edamame sendiri biasa menjadi hidangan asin sedangkan cokelat identik dengan makanan manis.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Rizqo pun tidak langsung meraih kesuksesan dan pernah mengalami pasang-surut. Namun, ia tetap berevolusi agar bisnisnya terus maju dan bertahan walau banyak tantangan harus dihadapi.

Untuk mengetahui lebih dalam bagaimana perjuangan Rizqo dalam mengembangkan bisnis Fondre, Dian Afrillia dari GNFI berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan sang founder pada Rabu, (24/11/2021) melalui sambungan telepon.

Berikut rangkuman bincang-bincangnya:

Produk Fondre | Dokumentasi Fondre
info gambar
Berkenalan dengan 11 Sosok Anak Muda Perkasa yang Menginspirasi

Bagaimana awal Fondre terbentuk?

Tahun 2014 kita membuat suwar-suwir, yaitu cokelat dengan isian dodol tape. Awalnya bagus untuk pasarnya, tapi seiring berjalan waktu malah turun. Karena itu, kita berinovasi lagi mencari-cari bahan apa yang bisa dipadukan dengan cokelat.

Tahun 2015 kita coba membuat cokelat dengan edamame dan market-nya bagus. Dari yang awalnya ada beberapa varian rasa akhirnya kita discontinue dan fokus ke edamame. Namanya juga awalnya Jember Cokelat tapi kemudian diganti menjadi Fondre.

Apa inspirasi dalam memadukan cokelat dengan edamame?

Kita memang fokusnya membuat olahan cokelat untuk dijadikan oleh-oleh. Kita mencari apa yang bisa diangkat dan akhirnya memadukan cokelat dengan edamame karena memang termasuk salah satu komoditi ekspor andalan Jember.

Apa saja varian produk Fondre?

Ada Choco Bar dan Chocolate in Cup. Untuk rasanya, di Choco Bar ada milk chocolate, dark chocolate, oreo edamame, dan raisin edamame. Sedangkan di Chocolate in Cup ada milk chocolate dan dark chocolate. Perbedaan kedua produk yaitu di Choco Bar, cokelatnya lebih banyak. Sedangkan, di Chocolate in Cup sebaliknya, porsi edamamenya lebih banyak.

Produk fondre menggunakan cokelat jenis apa dan suplai edamame dari mana?

Saat ini kita menggunakan cokelat dari pabrik-pabrik lokal dan edamamenya juga dari Jember.

Boleh diceritakan proses pembuatan produknya?

Untuk pembuatan produk cokelat kita masih manual. Kalau pun bisa ada modal investasi, mungkin kita akan membuat mesin, jadi ada beberapa yang dimesinkan untuk mempercepat prosesnya.

Berapa harga produk Fondre dan dijual di mana saja?

Harga Choco Bar itu di Rp10 ribu dan untuk Chocolate in Cup itu Rp21 ribu. Kita juga jualan di toko oleh-oleh di Jember, Malang, dan Surabaya, dan bisa kirim-kirim ke luar kota juga. Kita ada online, ada Instagram, tapi memang belum optimal dan jarang update.

Sementara ini memang belum buka outlet sendiri dan masih sebatas ada workshop untuk tempat produksi. Kita masih home industry. Kalau buka outlet, konsekuensinya besar apalagi di pandemi ini. Jadi saat ini fokus kita masih ingin memperbesar kapasitas produksi.

Little Margo Catapult, Bisnis Katapel Anak Muda yang Tembus Pasar Internasional
Produk Fondre | Dokumentasi Fondre
info gambar

Produknya tahan berapa lama dan bagaimana penyimpanannya?

Untuk cokelat kita tahan sampai enam bulan. Itupun bukan expired, tapi best before. Jadi setelah enam bulan cokelat enggak rusak, tapi memang rasanya turun. Untuk penyimpanan disarankan dijaga di suhu sejuk dan enggak boleh kena udara hangat atau panas karena nanti meleleh. Untuk pengiriman luar kota biasa kita pertebal kardusnya untuk memperlambat panas. Memang risiko meleleh tetap ada karena basisnya kan dari minyak.

Apa peran Anda di Fondre?

Saya di Fondre sebagai founder. Tim kita juga masih kecil tetapi mulai bergerak dan punya target-target khusus untuk tahun 2022. Saat ini kita masih merangkak. Kalau saya sudah enggak mengurusi produksi, kadang-kadang turun, tapi sudah berkurang. Sekarang saya fokus di pemasaran, distribusi, inovasi, dan product development.

Apa ada latar belakang berbisnis?

Sebelumnya saya belum pernah bisnis yang lain, cuma pernah jualan-jualan saja. Kepikirannya atau inspirasinya itu dari temannya istri yang di Malang buka outlet menjual cokelat oleh-oleh Malang. Saya pikir kenapa enggak bikin di Jember. Jadi itu ide awalnya. Jadi saya langsung create product walau awalnya juga tidak mengerti bisnis itu bagaimana.

Awalnya istri yang membantu menjual cokelat ke toko oleh-oleh. Saya masih kerja di Surabaya, di salah satu perusahaan cokelat, dan di dapurnya banyak belajar soal development cokelat. Kalau untuk marketing, sambil jalan sambil belajar.

Apakah boleh tau soal modal dan omzet?

Untuk modal, sekitar Rp2 jutaan dan omzet itu terus bertumbuh.

Strategi apa saja yang dilakukan untuk mengembangkan bisnis ini?

Di awal kita memang langsung menitip ke toko oleh-oleh dan market-nya bagus dan terserap di pasar oleh-oleh. Selain itu, memang terbatas mau melebarkan penjualan ke mana lagi. Kita juga pernah masuk ke modern market, tetapi ternyata tidak sesederhana toko oleh-oleh, ada sistem yang harus kita ikuti dan memang kami sendiri enggak mungkin mengikutinya, jadi tidak diteruskan. Saat ini kita sudah masuk ke 20 lebih toko oleh-oleh.

Apakah Fondre memanfaatkan media sosial untuk pemasaran?

Sebenarnya kita ada media sosial tapi belum dimaksimalkan. Biasanya kalau satu brand food and beverage itu benar-benar update. Kalau kita memang belum continue untuk update. Walau begitu, ada saja orang yang tanya-tanya seperti harga dan langsung order juga. Harapannya ke depan kita bisa optimasi lagi di kanal digital marketing.

Ada berapa jumlah karyawan Fondre?

Kami ada lima karyawan itu untuk produksi, administrasi, packing, dan pengiriman.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam membangun Fondre?

Untuk tantangan kami saat ini meningkatkan demand, yang nantinya akan berimbas pada kapasitas produksi. Setelah PPKM, untuk demand Ini ada kenaikan sehingga sempat kejar-kejaran produksi. Untuk suplai bahan dan produksi sejauh ini masih aman. Di bagian SDM dan distribusi juga belum ada kendala.

Ada harapan untuk menambah modal dari luar, seperti investasi. Tapi sebelum ke sana kita mau benahin dulu fondasinya, secara administrasi dan yang berhubungan dengan dengan operasional.

Diawali Sebagai Gerakan Sosial, Chef Muda Tiarbah Lebarkan Sayap Melalui Nasi Goreng

Upaya yang dilakukan untuk menyiasati tantangan tersebut?

Salah satu upaya yang kita lakukan adalah mencari mentor untuk manajemen produksi, pemasaran, keuangan, aspek manajemen sendiri seperti SOP dan lain-lain. Upaya lain juga kita berjejaring dan belajar lebih dalam lagi untuk bisnis.

Alhamdulillah kami saat ini punya mentor dan beberapa kali jadi finalis di beberapa kompetisi bisnis, seperti FoodStartup Indonesia dan menjadi Perwira.

Boleh diceritakan soal program Perwira?

Perwira ini inisiasi Wakil Gubernur Jawa Timur, Pak Emil Dardak. Beliau menginisiasi untuk menjaring pemuda wirausaha yang nantinya akan di-monitoring agar usahanya bisa take-off. Akan ada upaya-upaya salah satunya mentoring dan pembelajaran. Untuk tahapannya sudah dipilih 10 besar dan kita menjadi salah satu yang lolos ke 10 besar itu.

Apa yang didapatkan dari program tersebut?

Salah satunya mentoring dan itu sangat berguna karena kita dibantu banget untuk mencari mana dulu yang harus diperbaiki. Mulai dari keuangan, di mana kalau mau mendapatkan pendanaan maka area itu harus diperbaiki. Kita juga belajar dari mentoring kalau bisnis itu enggak se-simple itu tapi banyak aspek yang harus diperhatikan, enggak hanya produksi dan jualan, tapi ada finance, manajemen, SOP, dan lain-lain.

Kalau soal inovasi, ada rencana tertentu kah?

Saat ini inovasinya lebih ke pemasaran, area penjualan, dan optimasi. Sambil bersamaan juga menjaga dari suplai. Kita sangat fokus di situ dulu karena kalau gagal akan jadi bumerang. Untuk inovasi produk ada keinginan, misalnya membuat produk seasonal, tapi belum dalam waktu dekat. Selain itu, ada keinginan untuk membuat olahan edamame lain, tapi memang belum disiapkan dan di-develop lebih dalam.

Jika ada bantuan dari pihak lain, kira-kira apa yang dibutuhkan Fondre?

Mungkin salah satunya di permodalan dan akses pasar dibantu untuk penjualan. Kita ada harapan untuk new market dan pastinya harus disiapkan juga dari sisi produksi biar enggak kejar-kejaran.

Apa harapan untuk Fondre ke depannya?

Harapan kami ingin jadi salah satu trendsetter di olahan edamame, khususnya cokelat dan edamame. Kita ingin tetap menjadi pelopor cokelat edamame pertama di Indonesia.

Ada tip untuk anak muda yang ingin mulai berbisnis?

Kalau dari awalnya, coba jualan saja dulu. Intinya berani jualan. Biasanya mental di awal masih malu jualan. Nah, kalau sudah mulai jalan coba lihat tren marketnya seperti apa. Bisa juga melihat problem yang ada di masyarakat dan carikan solusinya. Teman-teman di start up banyak yang mengembangkan produk terlihat sederhana, tapi ternyata bisa jadi solusi.

Untuk membuat produk sekaran ini juga banyak informasinya, misalnya dari Youtube. Memang belum tentu langsung berhasil, harus riset market agar bisa scalable. Juga bisnis itu pasti ada ruginya, kalau kita selalu fleksibel dan tetap bertahan. Jadi tidak sampai kosong stoknya. Di pandemi ini memang hantaman di awal dan saat PPKM. Di sisi lain, kita memang enggak mau stok sampai kosong dan harus ada stok. Lalu, di September kemarin ini sudah mulai naik.

Menjalankan bisnis juga harus sesuai passion karena semangat dan energi itu bisa naik-turun. Kalau sesuai passion, ada sisi yang bisa mengembalikan semangat lagi karena itu penting. Kalau founder sudah enggak semangat akan tercermin ke bisnisnya.

Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat


Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini