Divestasi Energi Fosil, Apa Kata Anak Muda?

Divestasi Energi Fosil, Apa Kata Anak Muda?
info gambar utama

Sejak 2012, kampanye divestasi #GoFossilFree telah menggema di seantero jagad. Kampanye tersebut memang digaungkan untuk menentang kekuatan politik bagi industri energi fosil yang menciptakan ketidakpastian masa depan.

Bayangkan, kita bergantung pada sumber daya yang bisa habis kapan saja, tanpa ada gantinya. Padahal, banyak sekali potensi energi baru yang bisa didapatkan selain mengandalkan energi fosil.

Di tahun yang sama pula, sekira 350 institusi dan pemerintah lokal serta ribuan individu yang berkomitmen untuk divestasi dari energi fosil. Jika dikalkulasi, angkanya menyentuh US$1,5 triliun.

Lain itu, kampanye ini juga mendapatkan dukungan masif dari 450 kampus, ratusan kota, yayasan, dan institusi lainnya di seluruh dunia.

Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Team Leader 350.org, menyebut, hingga November 2020 sudah 14 triliun dolar AS yang sudah divestasi dari energi fosil.

Tentunya, ini adalah upaya-upaya untuk membuat perubahan-perubahan yang transformasional, bahkan radikal. Dengan tujuan dan menyasar industri perbankan untuk dipengaruhi agar tak lagi termakan bujuk rayu para pengusaha pertambangan energi fosil.

Jika ini berhasil, kita tak akan mendengar lagi kawan kita di daerah lain meregang nyawa akibat tenggelam di kubangan bekas galian tambang batu bara. Tak akan pernah lagi mendengar tangis bayi yang napasnya penuh sesak oleh asap pembakaran batubara.

Pendek kata, apabila kita bisa memengaruhi satu bank saja dalam melancarkan misi kita ini, maka tentu akan menciptakan domino efek yang berdampak pada bank-bank lainnya. Hasilnya, tentu bakal banyak proyek industri fosil yang terkena imbasnya, mangkrak, kemudian bangkrut.

Soal Energi Terbarukan, Munawar Chalil: Pemerintah Harus Keluar dari Zona Nyaman
FF UI
info gambar

Salah satu kampus di Indonesia yang terus menggaungkan kampanye fossil free ini adalah Universitas Inodnesia (UI). Rizqy Maulana dari gerakan fossil free Universitas Indonesia (FF UI) menyebut, terus melakukan literasi kepada masyarakat terkait dampak energi fosil untuk keberlangsungan masa depan bumi.

''Kita memang baru dibentuk tahun ini (2021), tapi upaya-upaya kita untuk menyuarakan energi terbarukan terus digaungkan. Salah satunya kami menyambangi Kepulauan Seribu dengan mulai melakukan sosialisasi solar panel,'' katanya, Senin (6/12/2021).

Rizqy berharap, pemerintah dan para investor perusahaan tambang energi kotor juga mau memperhatikan isu perubahan iklim secara serius. Memang, gaungnya sudah terdengar, bahkan menggema melalui kementerian-kementerian. Namun menurut Rizqy, belum sepenuhnya dapat dicermati atau dipahami masyarakat secara untuh.

Pembentukan FFE di Indonesia memang mengarah pada energi fosil. Saat ini ada tiga kampus gencar mulai melakukan gerakan-gerakan ini, yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Udayana.

Mereka terus mencari komunitas-komunitas pendukung. Harapannya, bisa merangkul komunitas-komunitas dengan frekuensi sejenis.

Lantas, apa kata anak-anak muda lainnya?

Aisha Putri, pegawai swasta yang bekerja di Jakarta, bilang bahwa ia tahu soal bagaimana bank—salah satu pendonor perusahaan tambang batubara--menggunakan dana-dana nasabah.

''Sebenernya tahu sih, sudah lama. Tapi ya seharusnya setiap perusahaan yang mendukung perusahaan--yang merusak alam, bisa mengembalikan dan memperbaikinya kembali. Mungkin melalui donasi-donasi atau kegiatan CSR yang mendorong aktivitas keberlangsungan alam,'' kata perempuan yang hobi traveling ini, Sabtu (4/12).

''Jika bicara batubara, memang rada susah, sih. Mereka ini kan juga untuk kebutuhan listrik kita. Padahal ada PLTU batubara yang begitu banyak saja kebutuhan listrik di Indonesia yang masih belum merata. Jika tidak ada perbankan mau membiayai, pemenuhan akan listrik akan susah direalisasikan kelihatannya. Seperti dua mata pedang sih, jadi serba salah.''

Melihat Energi Terbarukan sebagai Upaya Demokratisasi dan Potensi Masa Depan
aisha putri
info gambar

Meski begitu Icha--panggilannya--serius mendukung rencana dan kampanye fossil free untuk menggenjot divestasi energi fosil, dan mengimbau bank juga memiliki rencana jangka panjang terhadap kelestarian bumi.

Ia juga mengapresiasi kampanye tersebut dan berharap itu dilakukan secara konkret dan berkelanjutan. Berkelanjutan dalam hal ini adalah memberikan juga pemahaman ke masyarakat luas.

Hal lainnya, selain pihak perbankan menyetop memberikan bantuan pendanaan ke perusahaan-perusahaan tambang batu bara, juga mendengungkan hal serupa kepada seluruh nasabahnya, serta melakukan keterbukaan terhadap uang yang mereka kelola.

''Jika bank di luar sana—luar negeri, aja bisa, kenapa di sini nggak? Ini kan lebih kepada niat, apakah masa depan bumi dan lingkungan menjadi konsern apa nggak,'' tandasnya.

''Tapi, soal peralihan ke energi terbarukan ini juga kan harus jelas peta jalannya, jangan sampai kita malah menjadi krisis energi akibat proses transisi ini. Mungkin harus jelas dulu infrastruktur dan metode pelaksanaannya. Kita-kita dan masyarakat juga harus merasakan dampaknya baik secara ekonomi maupun layanan.''

Icha juga menceritakan bahwa ia dan keluarganya saat ini tengah memesan solar panel untuk kebutuhan listrik rumah tangga mereka, hanya saja memang ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk transisi itu. Misal, meminta izin dari pihak PLN.

''Sekarang juga lagi coba pesan dan mau pasang solar panel untuk listrik di rumah, Cuma emang ya gitu, agak ribet prosesnya,'' curhatnya.

Pendek kata, Icha mau menegaskan bahwa untuk bisa mengimplementasikan energi terbarukan ini juga harus didukung oleh layanan dan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat untuk mengiplementasikannya.

''Emang rada mahal sih, tapi ini kan energi masa depan juga. Mungkin nilai plusnya dengan pasang solar panel juga jadi nggak sering mati lampu. Maklum aja, di masa WFH ini kan kerja di rumah pasti mengandalkan listrik dan internet,'' pungkasnya.

Energi Panas Bumi Melimpah, Potensi Besar Energi Terbarukan untuk Indonesia
riza firli
info gambar

Berbeda dengan Riza Firli. Pemuda pekerja lepas yang menyukai alam bebas ini mengatakan, tak tahu secara pasti uang yang ia investasikan di bank berputar ke industri apa saja. Yang ia tahu, bank memutar uang ke beberapa sektor.

''Ya, bisa jadi salah satunya perusahan tambang,'' kiranya.

Kala saja dia tahu, bank yang selama ini dipercaya mengelola uangnya untuk mendukung perusahaan tambang perusak lingkungan, dia cukup sedih. Riza saat ini mengaku belum bisa berbuat apa-apa, namun tetap berharap mereka--para bank--lebih aware dengan lingkungan dan memiliki tanggung jawab sosial.

''Kalau menurut saya sih, ketimbang disetor untuk perusahaan tambang yang jelas-jelas perusak, mending uang dialokasikan ke industri kreatif, digital, teknologi, yang hasil cuan-nya juga gak kalah gede.''

''Kalau misal anak muda ingin berinvestasi jangka panjang melalui investasi berkelanjutan, kan sekarang sudah ada emiten-emiten berbasis lingkungan. Bisa alokasikan dana investasi mereka ke sana juga. Semoga eksposur terhadap emiten yang sadar akan lingkungan dan tata kelola perusahaan yang baik makin besar.''

Soal kampanye fossil free, lanjutnya, ini merupakan inisiatif baik dan upaya generasi muda terkait masa depan mereka. Wajar saja, karena generasi muda masa kini masih ingin melihat bagaimana lingkungan yang sehat dan bersih di masa depan. Riza juga mengaku akan sangat tertarik jika dilibatkan dalam kampanye ini, terkhusus di ranah media sosial.

''Mau banget bantu-bantu hal positif kayak gini, misal repost IG, retrweet, atau apalah,’’ janji lajang yang berprofesi sebagai pekerja lepas digital marketing ini.

Riza juga melihat saat ini sudah banyak bangunan perumahan maupun industri—seperti hotel/café—yang sudah melakukan instalasi solar panel untuk mem-backup kebutuhan listrik mereka.

''Sepertinya penerapan energi terbarukan ini juga sudah terlihat nyata sih, pada beberapa perumahan dan café di BSD, saya lihat sudah memasang itu, tapi sepertinya belum sepenuhnya, masih mix dengan suplai listrik dari PLN. Saya juga lihat di kampus-kampus, seperti di UI dan UGM,’’ ungkapnya.

Untuk di masa depan, sambung Riza, sepertinya implementasi ini bisa terus digenjot dan diperkenalkan kepada publik secara masif. Soal infrastrukturnya, ia berharap pemerintah atau berbagai pihak terkait tidak melakukan beragam kesalahan yang tak perlu, seperti praktik korupsi misalnya, karena memang untuk mewujudkan energi bersih masa depan butuh investasi yang tak sedikit.

''Asal jangan dikorupsi dana investasinya, saya rasa program energi terbarukan bisa berjalan dengan baik,’’ pungkasnya.

Energi Terbarukan untuk Tingkatkan Kesejahteraan Daerah Pinggiran

Rizqy, Icha, dan Riza, adalah sekian dari anak-anak muda yang berharap industri perbankan peduli dengan lingkungan, memprioritaskan masa depan bumi. Juga memiliki asa bahwa kampanye-kampanye di dunia terkait isu iklim—seperti fossil free, bisa membuka mata pihak pendonor.

Harapan kita secara umum tentu agar bisa terus melihat di mana perputaran bisnis yang menguntungkan dan membangun dengan menghindari pembiayaan di sektor energi fosil sebagai bentuk dukungan terhadap kelestarian lingkungan.

''Ada sejumlah besar keengganan kelembagaan, baik dari sektor swasta maupun sektor publik. Solusi keengganan itu adalah momentum, yang kami percaya momentumnya dari gerakan sosial.’’

May Boeve, Executive Director 350.org

Transisi energi baru terbarukan

energi terbarukan
info gambar

Bicara energi fosil, nampaknya kurang sip jika tak membicarakan penggantinya, apalagi jika bukan energi baru terbarukan (EBT). Bahkan Indonesia sudah memiliki komitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Untuk mendukung pencapaian itu, Indonesia berkomitmen untuk mengatasi isu akses energi, smart and clean technology, dan pembiayaan di sektor energi. Maka, dilakukanlah upaya transisi energi dari emisi GRK ke energi yang bersih dan terbarukan.

“Kalau kita lihat energi yang menghasilkan emisi adalah energi yang berbasis fosil. Jadi kita harus cari energi lain, nonfosil yang terbarukan,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Maret 2021 lalu dalam acara daring “Katadata Future Energy: Tech and Innovation 2021”.

Pemerintah juga telah menetapkan target bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025. Hal ini tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Jika melihat data infografik di atas, tergambar dengan jelas Indonesia memiliki potensi EBT yang besar. Data Kementerian ESDM menyebut, total potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 417,8 giga watt (GW), dan salah satu potensi terbesar berasal dari surya atau matahari, yakni sebesar 208,8 GW.

Sementara potensi energi terbarukan lainnya berasal dari:

  • Arus laut atau samudra (17,9 GW),
  • Panas bumi (23,9 GW),
  • Bioenergi (32,6 GW),
  • Angin (60,6 GW), dan
  • Air (75 GW).

Namun nyatanya realisasi bauran EBT baru mencapai 13,55 persen per April 2021, masih ada gap 9,45 persen dari target yang harus dicapai pada 2025.

COP26, Kegagalan Negara Maju Penuhi Kesepakatan dan Dilema Berakhirnya Era Batu Bara

Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat, pada dasarnya Indonesia bisa dengan cepat melakukan transisi energi terbarukan, namun tentu butuh pendanaan yang tak sedikit.

Dalam takaran mereka, setidaknya dibutuhkan investasi 20-25 miliar dolar AS per tahun yang mulai dari sekarang hingga 2030. Angka yang lumayan fantastis ketimbang rata-rata investasi energi terbarukan saat ini yang hanya 2 miliar dolar AS per tahun.

kapasitas terpasang energi terbarukan
info gambar

Dalam satu dasawarsa terakhir (2007-2017), pertumbuhan rata-rata tahunan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi terbarukan Indonesia, sekira mencapai 4,5 persen. Jauh di bawah negeri jiran Malaysia yang tercatat 10,7 persen.

Catatan lain IESR juga menyebut, bahwa Indonesia butuh sekitar 60 miliar dolar AS per tahun untuk upaya dekarbonisasi, antara tahun 2030-2040.

''Besarnya tantangan tidak boleh mengaburkan fakta bahwa dekarbonisasi yang menyeluruh akan membawa manfaat dan peluang yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia,'' tegas Pamela Simamora, Koordinator Riset IESR.

Sayangnya, persoalan pembangunan infrastruktur masih menjadi kendala yang mengemuka. Coba lihat infografik di bawah ini.

pertumbuhan pembangkit listrik
info gambar

Dalam periode dasawarsa yang sama, rasio pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan dengan energi fosil, perbandingannya 1:7. Itu artinya, masih kurang sekali investasi pada infrastruktur pembangunan energi terbarukan itu.

Pertumbuhan kapasitas terpasang pembangkit listik saban tahunnya masih sangat di dominasi oleh energi fosil, terutama batu bara.

Sementara dalam kurun 2009-2017, listrik yang disediakan oleh pembangkit listrik energi terbarukan tiap tahunnya masih dalam kisaran rata-rata 12 persen (25 Twh). Bandingkan dengan pasokan yang berasal dari energi fosil--dalam hal ini BBM, yang mencapai rata-rata di atas 80 persen.

perbandingan produksi pembangkit listrik
info gambar

Namun begitu, Indonesia telah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dalam mengganggas program Mekanisme Transisi Energi untuk menghentikan PLTU batu bara.

Untuk mengejar target Paris Agreement, IESR menghitung bahwa Indonesia harus memensiunkan sekitar 10,5 gigawatt PLTU batubara sebelum 2030 agar sejalan dengan Paris Agreement.

Dari paparan di atas, tentu sejalan dengan kampanye fossil free terkait divestasi. Kita memang membutuhkan dana yang tak sedikit untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dengan tata kelola yang baik di masa depan.

renewable energi
info gambar

Optimisme ini tentu bukan omong kosong, karena menurut laporan anyar IESR yang bertajuk “Deep decarbonization of Indonesia’s energy system: A pathway to zero emissions by 2050”, ditunjukkan bahwa secara teknologi dan ekonomi, sektor energi di Indonesia sejatinya mampu mencapai nol emisi karbon pada 2050.

Laporan tersebut merupakan kajian yang cukup komprehensif dan pertama di Indonesia, yakni dengan menggambarkan peta jalan sistem energi untuk mencapai emisi nol karbon.

''Dengan kampanye keuangan kita bisa berupaya untuk terus menggaungkan isu energi fosil dan mengalihkannya ke energi terbarukan. Kita butuh kekuatan kolektif, cari teman dan bergerak bersama-sama.''

Sisilia Nurmala Dewi, Indonesia Team Leader 350.org

Bau Sangit Pendana Industri Batu Bara, Haruskah Terus Dibiarkan?

Catatan:

Artikel di atas merupakan kerja sama antara Mongabay Indonesia, 350.org, dan GNFI, dalam program fellowship.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini