Menilik Ekosistem Penyedia Layanan Data Center di Indonesia

Menilik Ekosistem Penyedia Layanan Data Center di Indonesia
info gambar utama

Bukan merupakan sesuatu yang baru, data center dalam dunia teknologi sebenarnya sudah ada sejak lama bersamaan dengan saat di mana industri teknologi terutama yang mengandalkan data itu sendiri hadir.

Belakangan ekosistemnya kian berkembang dan menjadi banyak disorot termasuk di Indonesia, karena kondisi di mana data--dalam bentuk digital--yang dimiliki sudah terkumpul dalam ukuran besar, sehingga memunculkan istilah big data yang kemudian membutuhkan tempat penyimpanan dalam skala besar pula.

Secara sederhana, big data tersebut nyatanya membutuhkan fasilitas berupa tempat penyimpanan dengan berbagai infrastruktur mumpuni dalam menjaga keamanannya, terutama jika bicara mengenai data rahasia dan data perusahaan atau organisasi tertentu.

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa untuk membuat atau membangun sebuah data center membutuhkan biaya yang terbilang fantastis. Infrastruktur yang memadai seperti tegangan listrik tingkat tinggi, keamanan, pemeliharaan, dan lain sebagainya membuat bagian penting satu ini tidak memungkinkan jika dibangun oleh tiap jutaan perusahaan yang ada di dunia.

Berangkat dari hal tersebut sekaligus menjawab kebutuhan yang ada, akhirnya muncul bisnis atau entitas perusahaan yang bergerak dalam bidang penyedia layanan data center, sebagai tempat di mana berbagai perusahaan atau organisasi lain mempercayakan penyimpanan datanya sekaligus sebagai server agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan baik.

Sebenarnya, tiap perusahaan pun masih bisa mendirikan atau memiliki data center-nya sendiri, namun biasanya data center tersebut berada dalam tingkatan yang lebih rendah, dengan segala keterbatasan infrastruktur ditambah tanggungan biaya operasional yang lebih tinggi dibanding jika menggunakan layanan dari perusahaan data center terpisah.

Lantas bagaimana dengan ekosistem dari keberadaan layanan data center yang saat ini ada di Indonesia?

Wow, Data Center Indonesia Ini Mendapat Penghargaan Terbaik Se-Asia

Mengenal istilah tier sebagai tingkatan data center

Ilustrasi data center
info gambar

Sebelum membahas lebih jauh mengenai ekosistem layaknya berbagai penyedia layanan data center dan bagaimana persaingannya di Indonesia, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dulu seperti apa sebenarnya tingkatan dari data center itu sendiri.

Secara garis besar pembagian data center dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu tier 1-4. Semakin tinggi tingkatnya maka semakin tinggi pula kemajuan infrastruktur yang dimiliki termasuk jaminan serta teknologi keamanan yang digunakan.

Dalam kelangsungan data center juga terdapat dua istilah penting yakni uptime (waktu aktif) dan downtime (waktu henti), uptime sendiri menjadi patokan tinggi karena data center sangat diperlukan untuk aktif selama 24 jam setiap harinya.

Sedangkan downtime menjadi batas toleransi gangguan atau saat di mana data center berada dalam kondisi mati yang biasanya terjadi dalam waktu beberapa jam saja dalam kurun waktu satu tahun. Semakin kecil batas downtime yang dimiliki maka semakin tinggi pula tingkatan data center.

Faktanya, saat sebuah data center mengalami gangguan atau dalam kondisi downtime meski dalam waktu beberapa jam saja, kejadian tersebut nyatanya dapat menimbulkan kerugian hingga mencapai nilai puluhan miliar.

Lebih jelas, berikut tingkatan data center yang perlu diketahui mengutip nagitec.com:

Tier 1 (Basic), level ini yang biasanya dimiliki secara mandiri oleh sejumlah perusahaan tertentu dengan infrastuktur standar sebagai data center berskala kecil namun rentan terhadap gangguan, dan memiliki level uptime sebesar 99,671 persen serta tingkat downtime selama 28,8 jam dalam setahun.

Karena masih dalam tingkat paling rendah, data center di level ini masih harus menerapkan metode kurang efisien dalam melakukan perawatan preventif yaitu dengan cara me-shutdown sistem secara keseluruhan.

Soal implementasi, disebut bahwa hanya dibutuhkan waktu tiga bulan untuk membangun fasilitas data center level ini.

Tier 2 (Redundant Components), satu tingkat lebih tinggi sebagai data center di level sedang, uptown yang dimiliki juga meningkat di angka 99,741 persen dengan downtime tahunan selama 22 jam.

Agak rentan terhadap gangguan, perawatan preventif untuk data center skala ini hanya perlu melakukan proses shutdown di bagian power path dan beberapa bagian tertentu atau tidak secara keseluruhan.

Membutuhkan waktu sedikit lebih panjang, pembangunan fasilitas data center tingkat ini ada di kisaran waktu waktu tiga hingga enam bulan.

Tier 3 (Concurrently Maintainable), mulai masuk ke skala yang lebih besar, fasilitas tingkat ini yang biasanya dimiliki oleh perusahaan penyedia layanan data center. Dapat dikatakan lebih aman dan tidak rentan terhadap gangguan terencana karena sudah memiliki skenario penanggulangan, namun masih rentan terhadap gangguan tidak terencana.

Perawatan preventifnya pun terbilang efektif karena data center di tingkat ini sudah memiliki sistem back-up. Lain itu, pada tingkat ini uptime yang dimiliki berada di angka 99,982 persen sehingga downtime tahunannya jauh lebih rendah yaitu hanya selama 1,6 jam saja.

Namun dengan keunggulan tersebut, pembangunan fasilitas data center tier 3 juga membutuhkan waktu lebih lama yaitu di kisaran 15 hingga 20 bulan.

Tier 4 (Fault Tolerant), sesuai namanya, data center di tingkat ini dapat dikatakan sudah berada di tahap tidak lagi rentan terhadap gangguan baik yang direncanakan ataupun tidak direncanakan.

Sama seperti tier 3 yang biasanya dibangun oleh perusahaan penyedia layanan data center skala besar, bedanya pada level ini kecanggihan lebih tinggi dimiliki yaitu berupa uptime di angka 99,995 persen dan downtime yang hanya terjadi dalam 30 menit dalam kurun waktu satu tahun.

Pembangunan fasilitas data center ini juga membutuhkan waktu lebih lama di kisaran 15 hingga 20 bulan.

Layanan Data Center RI ini Kini Kelas Dunia

Pemain lokal data center di Indonesia

Telkomsigma data center Sentul
info gambar

Bicara mengenai pembangunan dan keberadaan data center di tanah air, sebenarnya sudah ada beberapa pemain yang menghadirkan layanan ini bahkan sejak lama baik itu dari pihak swasta maupun pemerintah sendiri, yang dalam hal ini digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

Dari pihak swasta, salah satu pemain terbesar yang mendominasi ialah Data Center Indonesia (DCI) yang sudah hadir sejak tahun 2011, sebagai penyedia data center terkemuka di Indonesia yang menyediakan jasa aktivitas hosting dan aktivitas serupa seperti jasa pengolahan data, web-hosting, streaming, aplikasi hosting dan penyimpanan komputasi awan (cloud computing).

DCI bahkan didapuk sebagai perusahaan pusat data tier 4 pertama di Asia Tenggara, yang hingga saat ini sudah diandalkan oleh sekitar 44 perusahaan telekomunikasi, 134 perusahaan keuangan, dan beberapa perusahaan eCommerce terbesar di Asia sebagai pihak yang dipercaya untuk mengelola data berbagai perusahaan tersebut.

Perusahaan lain yang saat ini dikenal cukup gencar menyediakan layanan data center adalah Telkom, melalui anak usahanya yakni Telkomsigma yang bekerja sama dengan IBM.

Saat ini Telkomsigma tercatat sudah memiliki sebanyak 26 data center yang terdiri dari 5 data center bertaraf internasional, 18 neuCentrIX serta 3 data center di level tier 3 dan 4.

Terbaru, perusahaan telekomunikasi ini juga mengumumkan keberadaan data center baru dan terbesar di Indonesia atau disebut juga sebagai HyperScale Data Center (HDC), yang pembangunannya sudah memasuki tahap akhir dan berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Selain IDC dan Telkomsigma, pemain lainnya yang saat ini juga diketahui sedang membangun data center tier 3 dengan skala HyperScale adalah Dwi Tunggal Putra (DTP) lewat penggarapan DTP Area 31 data center yang berlokasi di Depok, Jawa Barat.

Bukan yang pertama, data center tersebut merupakan fasilitas ke-enam yang dibangun oleh DTP namun baru yang pertama kalinya berada di bawah naungan anak perusahaan terkait yakni Dunia Virtual Online (DVO).

Data center yang disebut memiliki potensi untuk menguatkan koneksi sinyal di daerah terpencil dan pegunungan tersebut sejatinya sudah memulai tahap pembangunan sejak pertengahan tahun 2019 lalu, dan ditargetkan akan rampung serta mulai beroperasi di Q2 2022 mendatang.

Di lain sisi, pihak pemerintah melalui Kemkominfo sendiri sejak beberapa tahun terakhir diketahui memang sedang mengakselerasi dan sudah memiliki peta jalan pembangunan data center, lewat program Pusat Data Nasional (PDN).

Pada bulan April lalu, Kemkominfo mengumumkan rencana pembangunan empat PDN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia meliputi Bekasi, Batam, Ibu Kota baru Kalimantan Timur, dan Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, rencana pembangunan PDN tersebut diproyeksikan akan rampung di tahun 2024.

Telkom dan Kemkominfo Berlomba Bangun Data Center Mumpuni di Indonesia

Persaingan ketat empat perusahaan teknologi dunia

Ilustrasi AWS data center yang baru meluncur di Indonesia
info gambar

Ekosistem data center di tanah air semakin ramai, karena layanan satu ini tidak hanya dihadirkan oleh pemain lokal melainkan juga pemain yang berasal dari luar negeri bahkan sekelas perusahaan teknologi yang sudah memiliki kapabilitas terbaik di bidangnya.

Adapun dalam beberapa tahun terakhir hingga saat ini, pihak yang sudah menjadikan Indonesia sebagai lokasi pembangunan data center di antaranya yakni Google Cloud, Alibaba Cloud, Microsoft Azure, dan yang terbaru Amazon Web Service (AWS).

Di antara keempat perusahaan tersebut, tercatat bahwa Alibaba adalah yang pertama kali mengoperasikan data center-nya di Indonesia pada Maret 2018 silam. Kurang dari satu tahun berselang tepatnya di bulan Januari 2019, data center ke-dua kembali diluncurkan.

Tidak berhenti sampai di situ, pada bulan Juli 2020 di tengah masa pandemi saat di mana berbagai kegiatan semakin terdigitalisasi dengan cepat, perusahaan ini dengan peka kembali menghadirkan fasilitas data center ke-3.

Satu bulan sebelum pembukaan fasilitas ke-3 milik Alibaba, Google Cloud tepatnya di bulan Juni 2020 juga ikut menghadirkan data center di Indonesia, sebagai fasilitas ke-2 yang beroperasi di Asia Tenggara setelah Singapura.

Disusul pada awal tahun 2021 tepatnya di bulan Februari, Microsoft Azure juga tak mau ketinggalan meresmikan fasilitas data center pertamanya di Indonesia, yang kala itu disebut bertujuan untuk melancarkan kelangsungan ekonomi digital di tanah air.

Pengoperasian data center ini bahkan diharapkan dapat menyumbang pendapatan baru hingga 6,3 miliar dolar AS atau setara Rp90,6 triliun dari ekosistem pelanggan dan mitra lokal tanah air, dan diharapkan dapat membuka sebanyak 60 ribu lapangan pekerjaan.

Jika Microsoft menjadi pembuka pertumbuhan ekosistem data center di Indonesia pada awal tahun 2021, maka AWS dapat dikatakann sebagai penutup manis di tahun ini. Sebagaimana yang diketahui bahwa baru saja pada hari Rabu (15/12) kemarin, perusahaan tersebut turut meresmikan data center dengan proyeksi sumbangsih PDB bagi Indonesia lebih besar ketimbang Microsoft, yakni di angka 10,9 miliar dolar AS atau setara Rp155 triliun.

Data Center AWS di Indonesia Resmi Beroperasi, Diproyeksi Ciptakan 24.700 Lapangan Kerja

Pada akhirnya, pemain lokal masih mendominasi

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi gencarnya berbagai perusahaan teknologi dunia di atas berani untuk berinvestasi membangun data center dengan infrastruktur yang mumpuni di Indonesia.

Perungkat pengguna internet terbanyak di dunia per Q1 2021 menurut Statista (dalam satuan juta)
info gambar

Pertama, hal yang sudah pasti tidak dapat dimungkiri lagi bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Hal tersebut terbukti berdasarkan data publikasi Statista yang menunjukkan, bahwa per Q1 2021 Indonesia menduduki peringkat ke-empat sebagai negara dengan pengguna internet terbanyak tepatnya di angka 171,26 juta pengguna, menyusul China, India, dan AS, yang secara beruntun berada di peringkat tiga besar.

Tingginya angka tersebut jelas menunjukkan bahwa perputaran data digital yang terjadi di Indonesia dan kebutuhan akan fasilitas yang menopang sistem tersebut sangat dibutuhkan.

Kedua, sejak tahun 2018 Kemkominfo menyatakan bahwa alasan Indonesia mulai dilirik dalam rencana pembangunan berbagai data center didasari oleh tingkat pengembalian modal investasi (ROIC) mencapai 11,6 persen, atau tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Namun terlepas dari berbagai investasi dan pertumbuhan tersebut, untuk saat ini kenyataannya kehadiran penyedia layanan data center di Indonesia ternyata masih didominasi oleh pemain lokal.

Hal tersebut juga terbukti lewat sebuah laporan yang dipublikasi oleh Mordor Intelligence, di mana terungkap bahwa di antara lima pemain besar industri data center di Indonesia, hanya ada satu yang berasal dari luar negeri.

Adapun lima urutan pemain besar yang dimaksud secara berurutan terdiri dari Telkomsigma, DCI Indonesia, NTT Communications Corporation (Jepang), Graha Teknologi Nusantara (GTN) Data Center, dan Omadata Padma Indonesia.

Menggunakan Data Center Lokal Diklaim Lebih Aman dan Efisien

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini