Menilik Kebenaran Buah Merah Papua yang Disebut Mampu Obati HIV/AIDS

Menilik Kebenaran Buah Merah Papua yang Disebut Mampu Obati HIV/AIDS
info gambar utama

Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman flora termasuk beberapa jenis tanaman yang dijaga, tak dimungkiri bahwa selama ini masyarakat Indonesia telah hidup dengan kepercayaan bahwa berbagai tanaman tertentu memiliki khasiat sebagai sumber pengobatan alami untuk berbagai penyakit.

Tradisi tersebut tentu tidak salah, karena kenyataannya pada beberapa situasi kepercayaan tersebut telah terbukti kebenarannya.

Namun perlu dipahami, bahwa terkadang ada hal-hal atau kondisi yang memang belum ditemukan jalan keluarnya, termasuk di antaranya penyakit yang hingga saat ini belum memiliki obat pasti sebagai jalan untuk mendapatkan kesembuhan, bahkan dengan bantuan pengobatan tradisional baik itu tanaman rempah nan berkhasiat sekalipun.

Kondisi tersebut yang sejatinya terjadi pada salah satu penyakit yang belum ditemukan obat penyembuhnya hingga saat ini, yaitu HIV/AIDS. Jika mencari tahu lebih jauh, sampai saat ini masih banyak ditemukan klaim atau informasi jika salah satu buah dari tanaman yang berasal dari wilayah Papua, yakni buah merah papua diyakini dapat mengobati penyakit HIV/AIDS.

Benarkah demikian? Seperti apa sebenarnya wujud dari buah merah papua?

Riwayat Kesembuhan Pasien HIV yang Baru Terjadi 4 Kali di Dunia

Karakteristik buah merah

Pohon buah merah
info gambar

Sesuai namanya, buah yang sering kali juga biasa disebut dengan nama kuansu oleh warga lokal atau masyarakat Wamena ini jika dilihat secara sekilas memang memiliki warna merah dengan bentuk lonjong.

Lebih detail, kuansu biasanya memiliki ukuran memanjang hingga 55 sentimeter, dengan diameter di kisaran 10-15 sentimeter dan bobot mencapai dua hingga tiga kilogram.

Buah ini berasal dari pohon yang memiliki nama ilmiah Pandanus conoideus, dan termasuk tanaman yang masuk dalam keluarga pandan-pandanan (Pandanaceae), karena memang bentuk pohonnya yang menyerupai pandan. Bedanya, tanaman buah kuansu bisa tumbuh tinggi hingga mencapai 16 meter.

Mengutip penjelasan dari laman ugm.ac.id, tanaman kuansu umumnya bisa hidup hingga berusia 10 tahun dan akan mulai berbuah pada usia mulai dari tiga hingga empat tahun.

Sebenarnya saat masih muda, buah kuansu sendiri akan berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua. Mengenai wilayah penyebarannya, tanaman satu ini lebih mudah dijumpai di wilayah Papua Nugini dan Papua khususnya di wilayah pegunungan tengah.

Sementara itu berdasarkan publikasi dari LIPI, kuansu atau buah merah dikategorikan sebagai kultivar--varietas tanaman yang dibudidayakan--baik secara ex situ, yakni dengan upaya konservasi di Kebun Raya Biologi Wamena (KRBW), atau secara in situ berdasarkan upaya masyarakat setempat yang menanam tanaman satu ini di halaman rumah dan kebun milik mereka.

Matoa, Varietas Unggul dan Tanaman Identitas dari Tanah Papua

Bukan obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS

Buah merah
info gambar

Bicara lebih lanjut mengenai informasi yang menyebut bahwa kuansu atau buah merah dapat menyembuhkan HIV/AIDS, dapat dipastikan bahwa hal tersebut belum terbukti secara klinis karena masih membutuhkan penelitian lebih lanjut secara berulang.

Kepastian tersebut ditegaskan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong yang menjelaskan bahwa manfaat yang sebenarnya dimiliki dari buah ini hanya sebatas sumber antioksidan yang mana baik untuk daya tahan tubuh.

"Buah merah tidak bisa menyembuhkan AIDS. Tapi kalau sebagai antioksidan atau sebagai penambah vitamin dalam tubuh, mungkin bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh," ujarnya mengutip KlikDokter.

Lebih lanjut, kembali ditegaskan bahwa hingga saat ini sebenarnya belum ada zat ataupun obat yang dapat membunuh virus HIV secara seutuhnya, dan membuat virus tersebut hilang dari tubuh penderitanya.

Satu-satunya obat yang saat ini dikonsumsi oleh para penderita HIV/AIDS adalah ARV atau antiretroviral, yang itu pun memiliki peran untuk memperlambat sekaligus menekan pertumbuhan virus.

Mengenali Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

Manfaat dan khasiat buah merah yang sebenarnya

Jika ingin menelusuri awal mula munculnya informasi kurang tepat yang masih banyak beredar sampai saat ini, sebenarnya ada alasan tersendiri mengapa buah merah kerap dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS.

Beradasarkan penelitian dari sumber yang telah disebutkan sebelumnya, ditemukan fakta bahwa buah merah memang memiliki kandungan senyawa kimia berupa karoten sekaligus betakaroten yang sangat tinggi, di mana kedua kandungan tersebut dikenal sangat berperan besar sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Sebagaimana yang selama ini kita tahu, memang HIV/AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak heran jika anggapan tersebut muncul namun kenyataannya terlampau disalah artikan sebagai obat yang dapat mengobati HIV/AIDS secara penuh.

Faktanya, selain HIV/AIDS buah merah lebih tepat bila diklaim berkhasiat dalam meningkatkan kesehatan karena kandungan gizinya yang diketahui dapat memelihara serta memulihkan kesehatan mata, mencegah pengeroposan tulang, dan membantu meningkatkan kecerdasan.

Sementara itu terlepas dari pemahaman mengenai khasiat kesehatan, dalam beberapa kondisi nyatanya buah merah memiliki sederet manfaat lain bagi masyarakat lokal sendiri.

Mengutip penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, buah merah nyatanya telah menjadi komoditas penggerak perekonomian dan pengganti sumber pangan utama.

Buah merah sejak lama telah dijadikan alternatif bahan pangan karena dapat digunakan sebagai pengganti ubi jalar, diolah menjadi saus, dan digunakan sebagai pewarna makanan alami. Buah merah hasil panen bahkan biasanya diolah secara tradisional oleh masyarakat lokal untuk dijadikan santan dan minyak goreng.

Bahkan, disebutkan bahwa pada saat kekeringan melanda Wamena pada tahun 1997, banyak terjadi bencana kelaparan dan buah merah dijadikan salah satu cadangan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat kala itu (Yahya dan Wiryanta, 2005).

Sedangkan dari segi ekonomi, dijelaskan bahwa bagian daun, kulit batang, dan akar tanaman buah merah ternyata dapat dijadikan sebagai bahan kerajinan dan menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat setempat.

Karena sederet manfaat tersebut, tak heran jika selain dilakukan upaya konservasi ex situ, banyak masyarakat lokal yang menanam buah merah secara mandiri di halaman atau kebun mereka.

Musa Ingens, Pohon Pisang Raksasa Endemik Papua

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini