Fakta Jembatan Perahu di Karawang yang Hidupkan Perekonomian Masyarakat Sekitar

Fakta Jembatan Perahu di Karawang yang Hidupkan Perekonomian Masyarakat Sekitar
info gambar utama

Jembatan perahu, adalah nama dari salah satu fasilitas umum yang berada di sebuah wilayah Karawang yang menghubungkan dua desa terpisah oleh Sungai Citarum, yakni Desa Anggadita dan Desa Parung Mulya.

Sebenarnya fasilitas umum satu ini sudah berdiri sejak lama, pembangunannya sendiri sudah dilakukan sejak tahun 2010 hingga terus berkembang dan berdiri dengan kokoh hingga saat ini.

Entah mengapa keberadaan jembatan perahu baru viral dan menjadi topik perbincangan hangat di jejaring sosial beberapa hari terakhir ini, bisa jadi karena bentuknya yang tak biasa dan fakta pengelolaan yang memang berbeda dari fasilitas umum lainnya.

Jembatan satu ini memang berbeda dengan jembatan biasa karena bagian jalan panjang pada fasilitas tersebut dihubungkan dan ditopang oleh susunan perahu. Di samping itu, hal lain yang membuat fasilitas ini berbeda adalah kenyataan kalau pembangunan dan pemeliharaannya sendiri sama sekali tidak melibatkan pemerintah melainkan dibangun oleh satu pihak tertentu, atau oleh masyarakat banyak disebut sebagai 'jembatan swasta'.

Tidak gratis, jembatan yang saban harinya dilalui oleh puluhan ribu pengendara sepeda motor ini menetapkan biaya retribusi sebesar Rp2.000, dan dalam waktu sehari dapat mendatangkan pendapatan mencapai lebih dari Rp20 juta.

Kondisi di atas pada akhirnya menimbulkan pro dan kontra, ada yang merasa sangat terbantu dan menganggap ‘bisnis’ jembatan tersebut sebagai hal yang lumrah, namun ada juga yang menyarankan agar keberadaan jembatan ini sebaiknya dialihkan atau dikelola oleh pemerintah agar dapat digunakan oleh masyarakat secara gratis.

Bagaimana sebenarnya pengelolaan dari jembatan perahu selama ini, dan respons dari pihak yang membangun jembatan mengenai segelintir permintaan agar jembatan tersebut diambil alih oleh pemerintah, atau setidaknya dioperasikan secara gratis?

Membelah Sungai dan Lautan, Inilah 10 Jembatan Terpanjang di Indonesia

Dibangun dengan menjamin sertifikat rumah

Haji Endang, adalah sosok yang diketahui membangun jembatan tersebut sejak tahun 2010. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jembatan yang terletak di Jalan Rumambe 1 dan menyintasi Sungai Citarum tersebut menghubungkan Desa Anggadita serta Desa Parung Mulya.

Wujud dari jembatan tersebut merupakan rangkaian jalan yang ditopang oleh perahu yang awalnya oleh warga setempat biasa disebut dengan perahu eretan.

Melansir video yang dipublikasi oleh Detikcom, Endang menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut sebenarnya diawali dengan keinginan untuk membantu warga sekitar mendapatkan akses jalan yang lebih cepat, pembangunannya pun masih dilakukan secara sederhana.

Sampai akhirnya melihat semakin banyak masyarakat yang melalui jembatan tersebut, Endang berinisiatif mengajukan pinjaman ke bank dengan menggadaikan sertifikat rumah miliknya untuk membangun jembatan perahu agar lebih kokoh.

Karena perahu yang awalnya dipakai terbuat dari kayu, daya tahannya diketahui rentan bahkan sempat sampai terbawa arus, akhirnya perahu-perahu kayu tersebut diganti dengan perahu besi yang harga per satu pasangnya membutuhkan biaya hingga ratusan juta.

Belum lagi biaya perawatan perahu yang rutin dilakukan agar jembatan tetap terjaga ketahanannya dan menjamin tidak ada risiko keamanan.

“Satu pasang ini (perahu besi) membutuhkan biaya sekitar Rp300 juta, untuk biaya perawatan kurang lebih minimal Rp20 juta sampai Rp25 juta untuk satu perahunya,” jelas Endang.

Jembatan Ini Terbuat Dari Akar Pohon

Bangun perekonomian daerah dan berdayakan masyarakat sekitar

Bisa mendatangkan keuntungan mencapai Rp25 juta dalam waktu satu hari lewat operasional jembatan perahu, Endang diketahui tidak serta-merta menggunakan pendapatan tersebut untuk kepentingannya sendiri.

Selain dipakai untuk biaya perawatan jembatan, uang tersebut juga dipakai untuk menggaji sebanyak kurang lebih 40 pekerja dari masyarakat sekitar yang mengawasi arus Sungai Citarum dan menjalakan operasional jembatan itu sendiri ketika kondisi alam sedang tidak bersahabat, sehingga dilakukan penutupan atau penghentian operasional.

Terlepas dari penggunaan untuk operasional jembatan dan sebagian untuk pendapatan pribadi, Endang juga dikenal kerap memberikan bantuan atas apa yang ia miliki kepada sejumlah orang yang membutuhkan, semisal dalam bentuk bantuan sembako bahkan hingga pemberangkatan umrah.

“Saya Alhamdulillah setiap tahun minimal delapan orang ada paket umrah gratis, ada tetangga, ada saudara, ada karyawan, yang penting rajin dan ibadahnya juga rajin, jadi jangan sampai mubazir,” jelas sosok yang sebelumnya diketahui pernah bekerja sebagai kernet, sopir, dan pembersih toilet itu.

Di lain sisi, jika melihat pada akses jalan secara keseluruhan di wilayah tersebut sebenarnya sudah ada jalan besar yang dapat memberikan akses dari pemukiman warga ke kawasan pabrik atau industri yang menjadi tempat bekerja masyarakat sekitar. Namun, sebelum adanya jembatan perahu masyarakat harus melalui akses yang memutar melewati wilayah perkotaan Karawang.

“Industri (pabrik) karyawan lewat sini lebih cepat, selisihnya sekitar 20 menit. Kalau dia pakai jalur utama, minimal 1 jam. Bahkan ada beberapa perusahaan yang pernah komplain karena kita tutup selama dua hari," paparnya.

Melihat Perkembangan Revolusi Industri di Indonesia

Pro kontra dan tanggapan permintaan digratiskan

Sama halnya seperti niat baik yang tak selalu mendatangkan respons positif karena pandangan setiap orang berbeda-beda, seiring dengan ramainya pemberitaan jembatan perahu ini ternyata muncul pendapat yang menyarankan agar Endang membebaskan akses jembatan perahu secara gratis, atau setidaknya pemerintah membangun jembatan permanen di lokasi yang sama.

Bagaimana Endang menanggapi hal tersebut?

Menurutnya, keberadaan jembatan perahu ini secara tidak langsung membantu program pemerintah seperti mengurangi kemacetan dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

“Dulu ini kan jalan buntu, dusun yang terisolir. Sekarang dengan adanya jembatan ini Alhamdulillah ekonomi lancar dan hidup,” tuturnya.

“Kalau pemerintah mau bangun (jembatan permanen) silakan saja, cuma bagaimana karyawan saya yang ada 40 orang karena di sini orang yang kerja tanpa batasan usia dan pendidikan.”

Di saat yang bersamaan, dirinya juga mengungkap bahwa orang yang bekerja dengan dirinya dalam mengoperasionalkan jembatan tersebut biasaya dibayar per satu atau beberapa hari tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para pekerja yang memang membutuhkan uang pegangan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Endang, nyatanya tak sedikit juga masyarakat yang menyetujui dan mendukung agar keberadaan jembatan perahu tersebut tetap berjalan seperti biasa. Menurut mereka, nominal yang dibayarkan untuk dapat melalui jembatan tersebut masih dapat diterima dan cukup beralasan jika melihat pada efek perekonomian yang dihasilkan.

Karena selain pendapatan yang diperoleh diputar untuk perekonomian masyarakat sekitar, jika jembatan rusak fasilitas tersebut bisa langsung diperbaiki dengan cepat tanpa harus menunggu perbaikan dari pemerintah.

Indonesia Akan Miliki Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia yang Berlokasi di Bogor

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini