Pengembangan Jet Tempur KF-21 Boramae Memasuki Babak Baru

Pengembangan Jet Tempur KF-21 Boramae Memasuki Babak Baru
info gambar utama

Kerap dinanti sekaligus diantisipasi perkembangannya, proyek jet tempur KF-21 Boramae yang terjalin atas kerja sama pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan di tahun 2022 ini tengah memasuki babak baru.

Sedikit kilas balik, seperti yang pernah GNFI ulas di akhir tahun 2021 lalu bahwa progres pengembangan jet tempur yang menelan anggaran mencapai 8,8 triliun won (Rp114,5 triliun) ini sempat mengalami masa penangguhan dari pemerintah Indonesia, karena adanya ketidakcocokan dari kesepakatan yang terjalin dengan situasi ekonomi dan keuntungan yang akan didapat Indonesia dari kerja sama tersebut.

Namun akhirnya, setelah melalui sejumlah negosiasi Indonesia kembali berkomitmen untuk melanjutkan dukungan pengembangan proyek KF-21 Boramae, yang rencananya akan diproduksi secara massal pada tahun 2026 mendatang.

Memiliki agenda uji coba penerbangan udara secara perdana di tahun 2022 ini, sudah sejauh mana persiapan dan hasil dari rangkaian uji coba pendahulu yang telah dilakukan sepanjang tahun 2021 kemarin?

Komitmen Indonesia Lanjutkan Jet Tempur KF-21 "Boramae"

Pengoptimalan kokpit dan prosedur safe escape

Pengembangan KF-21 Boramae
info gambar

Mengutip pemberitaan media nasional Korea Selatan yang dimuat oleh ZonaJakarta.com, terungkap bahwa uji coba yang telah dilakukan adalah tahap pengetesan pilot dan uji kinerja melalui evaluasi PVI (Pilot Vehicle Interface), yang didalamnya termasuk pengujian untuk aspek-aspek prosedur ground escape, ejection clearance, serta uji pencahayaan yang mengukur kesesuaian pencahayaan interior dan eksterior kokpit untuk digunakan dalam pengoperasian pesawat dalam berbagai kondisi dan situasi.

Secara keseluruhan, ada sebanyak 6 purwarupa/prototipe KF-21 Boramae yang sedang dikembangkan saat ini, di mana unit nomor 3 menjadi prototipe yang digunakan untuk uji coba evaluasi PVI yang dimaksud.

Lain itu, rangkaian uji coba darat yang pelaksanaannya berlangsung selama empat minggu pada bulan November 2021 tersebut, diketahui melibatkan sebanyak 14 pilot pesawat jet yang terdiri dari tujuh pilot Angkatan Udara (AU) serta tujuh pilot Korea Aerospace Industries (KAI).

Meski begitu, hingga saat ini belum ada konfirmasi pasti apakah di antara ketujuh pilot AU yang terlibat sepenuhnya berasal dari pihak Korea Selatan atau ada yang berasal dari pihak Indonesia.

Adapun peran dari para pilot yang terlibat dalam rangkaian uji coba tersebut tidak lain adalah untuk memberikan pandangan, pendapat, dan tinjauan mereka untuk menciptakan ruang kokpit yang optimal sebagai komponen penting pada badan KF-21 Boramae.

Sementara itu berdasarkan penjelasan yang dimuat oleh Indomiliter.com, uji coba lain yang tak kalah penting dan ikut dilakukan adalah aspek keamanan yakni terhadap prosedur evaluation of injection performance for safe escape, atau yang secara sederhana menyorot mengenai kinerja kursi lontar (ejection seat).

Uji coba khusus untuk komponen ini kabarnya telah dilakukan pada tanggal 11 November 2021 lalu yang dilangsungkan bersama dengan Martin-Baker Aircraft, produsen kursi ejeksi lontar asal Inggris yang selama ini kerap dikenal sebagai ‘penyambung nyawa' bagi para pilot pesawat tempur di dunia.

Bagaimana dengan hasil rangkaian uji coba tersebut?

Untuk saat ini pihak KAI menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh para pilot terkait ground test dan evaluasi PVI masih akan ditinjau dan dibahas lebih lanjut, sementara itu untuk kinerja sistem kursi ejeksi lontar tunggal telah diverifikasi keamanannya oleh Martin-Baker Aircraft.

Daftar Belanja Alutsista Indonesia: Jet, Kapal Selam, dan Kapal Perang

Perubahan skema pembiayaan dari Indonesia

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, skema pembiayaan dari proyek ini awalnya dibagi dengan persentase 60 persen yang ditanggung oleh Pemerintah Korea Selatan, 20 persen menjadi beban KAI, dan 20 persen sisanya atau senilai 1,7 triliun won akan ditanggung oleh Indonesia.

Namun berdasarkan negosiasi dan perjanjian terbaru yang disepakati pada bulan November 2021 lalu, nilai pembiayaan proyek total KF-21 Boramae diketahui turun atau dipangkas menjadi 8,1 triliun won, yang otomatis juga menurunkan kewajiban investasi atau pembiayaan dari Indonesia menjadi 1,6 triliun won.

Sementara itu berdasarkan penjelasan yang dipublikasi oleh media Korea Selatan The Guru, Indonesia telah membayar kewajiban sebesar 227,2 miliar won. Adapun untuk kewajiban sisanya Indonesia akan membayar dengan skema cicilan selama lima tahun hingga tahun 2026 mendatang.

Lebih detail, uniknya sebagian sisa dari kewajiban yang harus dibayarkan Indonesia yakni sekitar 30 persennya akan dipenuhi dengan skema imbal dagang, di mana pembayaran akan dilakukan dalam bentuk barang atau komoditas seperti minyak sawit, karet mentah, dan sejumlah hasil bumi lainnya.

Melihat Kinerja Ekspor Indonesia di Akhir Tahun 2021

Indonesia menuju swasembada alutsista, AS cemas

KF-21 Boramae
info gambar

Di sisi lain, kerja sama pengembangan jet tempur KF-21 Boramae yang dipercaya akan membawa perubahan besar bagi kekuatan pertahanan Korea Selatan dan Indonesia ini ternyata menimbulkan kecemasan dari sejumlah pihak, salah satunya Amerika Serikat.

Pasalnya, jet tempur KF-21 Boramae memang menggunakan teknologi mesin General Electric F414 yang juga digunakan Lockheed Martin F-35 buatan AS, sebagai hasil dari perjanjian akuisisi transfer teknologi inti yang terjalin antara AS dan Korea Selatan.

Berbeda dengan Korea Selatan yang sudah mempunyai izin untuk mengakses teknologi inti General Electric F414 karena sudah membeli F-35, Indonesia yang oleh AS bahkan sempat disinggung ‘belum layak’ memiliki F-35 pasalnya sama sekali belum memiliki izin untuk mengakses teknologi inti tersebut.

Padahal, satu dari enam prototipe KF-21 Boramae yang saat ini dibuat, beserta sebanyak 48 teknologi inti nantinya akan diserahkan ke Indonesia untuk dijadikan acuan dalam menggarap KF-21 Boramae dalam jumlah sama, yang sepenuhnya dibuat di dalam negeri.

"Terus terang, delegasi Indonesia dilarang mengakses banyak bagian dari teknologi dan studi KF-21 Boramae, terutama yang berkaitan dengan teknologi AS," ujar seorang insinyur KAI yang tak mau disebutkan namanya, kepada Defense News pada 2018 lalu, yang kembali dimuat oleh ZonaJakarta.

Hal tersebut sebenarnya menjadi salah satu faktor yang menimbulkan keraguan dari Indonesia dalam kelanjutan proyek ini pada tahun lalu, dan membuat Korea Selatan terkesan rajin ‘merayu’ Indonesia untuk tetap terlibat.

Namun di sisi lain, sehubungan dengan ketatnya teknologi inti yang oleh AS masih belum boleh dieksplor lebih jauh oleh Indonesia, kedepannya sejumlah teknologi inti yang akan dikirimkan ke Indonesia untuk pengembangan KF-21 Boramae secara mandiri akan diawasi oleh insinyur Korea Selatan.

Sementara itu, hal lain yang membuat AS cemas adalah mengenai keyakinan mereka akan persaingan pasar karena KF-21 Boramae diperkirakan akan merusak pasar F-35 jika benar-benar sudah rampung. Ditambah lagi dengan kondisi tersebut, AS sendiri mengakui bahwa dengan adanya KF-21 Boramae, Indonesia akan sampai pada titik swasembada alutsista.

Sementara itu jika tidak ada perubahan dan tetap berjalan sesuai rencana, penerbangan perdana KF-21 Boramae untuk bisa mengudara akan terlaksana pada bulan Juli 2022 mendatang.

Laris Manis di Luar Negeri, Alutsista Mumpuni Karya Anak Negeri

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini