Beban Ganda Malnutrisi, Ketika Masalah Kesehatan Bukan Hanya Disebabkan Kekurangan Gizi

Beban Ganda Malnutrisi, Ketika Masalah Kesehatan Bukan Hanya Disebabkan Kekurangan Gizi
info gambar utama

Tepat hari ini, Indonesia tengah memperingati Hari Gizi Nasional untuk kali ke-62 sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1960.

Sadar atau tidak, selama ini jika membahas persoalan gizi hal yang lebih banyak disorot adalah mengenai fenomena kekurangan gizi akibat minimnya nutrisi yang diterima oleh tubuh orang tertentu. Padahal, permasalahan gizi di Indonesia tidak hanya terjadi dari segi kekurangan, melainkan juga kelebihan.

Bukan hal baru, fenomena tersebut yang nyatanya membuat Indonesia berada dalam kondisi Beban Ganda Malnutrisi atau DBM (double burden of malnutrition), di mana kondisi ini sudah dijabarkan situasi detailnya oleh World Bankpada tahun 2015.

Sementara itu pihak Kementerian Kesehatan sendiri, pada tahun 2018 sudah menyatakan jika kondisi DBM yang terjadi membuat Indonesia menghadapi dua sisi masalah gizi, yakni under-nutrisi yang menyebabkan permasalahan kesehatan seperti stunting dan sejenisnya, dan di sisi lain juga membuat Indonesia menghadapi masalah over-nutrisi, dan menyebabkan kondisi obesitas atau kegemukan.

Kebetulan, tema yang diangkat pada momentum peringatan Hari Gizi Nasional tahun ini menyoroti keduanya, yaitu dengan menggaungkan Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas.

Sampai di Peringatan ke-57, Bagaimana Kondisi Kesehatan Nasional Indonesia Saat Ini?

Kekurangan gizi bukan sekadar stunting

Dua kondisi kesehatan akibat kekurangan gizi
info gambar

Bukan kali pertama ini diulas oleh GNFI, kebanyakan orang pada dasarnya pasti sudah mengenal dengan baik fenomena stunting. Secara umum, stunting didefinisikan sebagai kondisi kurangnya asupan gizi dalam kurun waktu cukup lama, hingga menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak berupa tinggi badan lebih pendek dari anak seusianya.

Dalam kondisi lebih luas dari itu, kondisi kekurangan gizi nyatanya tidak sesederhana menimbulkan permasalahan pendek-tinggi serta besar-kecilnya badan.

Pada situasi yang lebih ekstrem, kekurangan gizi dapat menimbulkan kematian setelah lebih dulu mengalami beberapa situasi penyakit kekurangan gizi yang banyak terjadi pada beberapa kasus di sejumlah negara berkembang.

Secara klinis, kondisi kekurangan gizi pada anak dapat menyebabkan dua kategori permasalahan medis, yakni marasmus dan kwashiorkor. Seperti apa kondisi dari kedua masalah medis tersebut?

Tidak hanya dialami oleh anak, Marasmus sebenarnya adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya asupan energi harian, dan bisa dialami juga oleh orang dewasa.

Marasmus adalah kondisi malnutrisi karena kekurangan asupan energi dan protein yang menyebabkan hilangnya lemak tubuh dan jaringan otot secara akut. Sehingga, pengidap marasmus akan kehilangan jaringan tubuh dan lemak di wajahnya serta membuat tulang di bawah kulit mereka menjadi terlihat dengan jelas.

Kondisi berbeda terjadi pada kasus kwashiorkor. Jika marasmus kekurangan energi dan protein, pada kasus Kwashiorkor nutrisi yang kurang adalah protein, meskipun energi yang didapat cukup.

Karena itu ciri fisik pada kasus satu ini bukanlah kurus atau mengalami penurunan berat badan ekstrem seperti marasmus, melainkan tubuh yang membengkak terutama di bagian perut karena mengalami penumpukan cairan (edema).

Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah dan Hubungannya dengan Stunting

Ancaman kesehatan juga mengintai dari kelebihan gizi

Ilustrasi obesitas
info gambar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, malnutrisi tidak hanya terjadi karena kondisi kekurangan, melainkan juga kelebihan gizi. Jika kekurangan gizi menimbulkan kondisi marasmus, kwashiorkor, hingga stunting, maka kelebihan gizi menimbulkan permasalahan obesitas.

Apa bahaya dari obesitas? Orang yang memiliki kondisi tubuh terlalu berisi secara ekstrem akan mengalami penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh.

Mengutip Klikdokter, lebihan lemak-lemak tersebut akan membentuk plak di dalam pembuluh darah dan memengaruhi aliran darah ke seluruh organ dengan memunculkan potensi strok serta serangan jantung, apabila plak tersebut terlepas dan menyumbat ke organ jantung serta aliran ke otak.

Selain itu, peningkatan metabolisme lemak dan gula akibat meningkatnya jumlah lemak dalam tubuh juga dapat menyebabkan penyakit diabetes.

Waspada Diabetes, Penyakit Mematikan Nomor 3 di Indonesia

Pencegahan dan alasan digantikannya konsep ‘Empat Sehat Lima Sempurna

Panduan Pedoman Gizi Seimbang (PGS)
info gambar

Dalam menjalani pola hidup yang sehat, sejak dulu di tengah masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan istilah atau pemahaman Empat Sehat Lima Sempurna yang pertama kali dipopulerkan sejak tahun 1952.

Namun, entah disadari atau tidak saat ini konsep tersebut sudah hampir jarang terdengar karena memang sudah tidak lagi digunakan bahkan oleh pihak Kementerian Kesehatan sendiri. Alasannya, konsep Empat Sehat Lima Sempurna dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu dan permasalahan gizi yang sekarang banyak terjadi di tanah air.

Saat ini, konsep pemenuhan gizi yang dijadikan acuan adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Dengan acuan yang telah disempurnakan tersebut, disebutkan bahwa ada perbedaan besar yang membuat PGS lebih relevan dengan kondisi dan permasalahan kesehatan yang saat ini terjadi di Indonesia.

Perbedaan pertama yaitu mengenai imbauan atau pesan yang ingin disampaikan. Sebelumnya, konsep Empat Sehat Lima Sempurna menekankan pada konsumsi nasi, lauk pauk, sayur, buah, ditambah susu sebagai penyempurna.

Pada PGS, makna yang ingin disampaikan lebih spesifik dengan menekankan susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh, sehingga tidak menimbulkan kekurangan atau kelebihan.

Kedua, pemahaman bahwa susu bukanlah penyempurna melainkan kelompok sumber nutrisi yang dapat digantikan keberadaannya dengan makanan atau minuman lain yang memiliki kandungan nutrisi sama.

Ketiga, dalam konsep Empat Sehat Lima Sempurna tidak dijelaskan secara spesifik informasi jumlah makanan yang harus dikonsumsi dalam sehari. Sedangkan konsep PGS tidak hanya ada atau tidak, melainkan juga menjabarkan penjelasan tentang kuantitas atau jumlah (porsi) yang harus dimakan setiap hari, untuk setiap kelompok makanan sumber nutrisi yang bisa diserap oleh tubuh.

Misal, berapa banyak makanan sumber kalori, protein, lemak, dan jenis nutrisi lain yang harus diterima oleh tubuh sesuai dengan proposional dan aktivitas rutin yang biasa dijalani oleh setiap orang.

Terakhir, hal tak kalah penting yang nyatanya terlewat dan belum disertakan dalam konsep Empat Sehat Lima Sempurna adalah pentingnya konsumsi air mineral. Padahal, lazimnya kebutuhan air mineral minimal yang dibutuhkan oleh tubuh adalah sebanyak dua liter, atau lebih kurang sekitar delapan gelas per hari.

Membedah Jumlah Konsumsi Kalori Masyarakat Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini