Kejayaan Pelabuhan Gresik, Sebuah Permata dari Timur Jawa

Kejayaan Pelabuhan Gresik, Sebuah Permata dari Timur Jawa
info gambar utama

Pantai utara Jawa merupakan tempat yang sangat strategis untuk perdagangan laut sejak abad 8 Masehi. Apalagi bila ditelusuri dari perdagangan cengkih dan pala yang hanya dihasilkan di kawasan timur Nusantara (Maluku).

Ditambah posisi Jawa Timur (Jatim) yang menjadi salah satu daerah terletak di tengah jalur pelayaran antara Sumatra dan Maluku. Karena itulah di tempat itu, ada beberapa kota pelabuhan yang cukup terkenal.

Di antaranya, Pelabuhan Kambangputih (Tuban), Pajarakan, Gresik, Surabaya, dan Canggu. Bahkan sebelum Majapahit, yaitu pada masa pemerintahan Raja Airlangga (abad ke 11 Masehi), di wilayah Jatim telah dikenal pembagian fungsi pelabuhan.

Dari beberapa pelabuhan yang terdapat di pantai utara Jatim agaknya pelabuhan Gresik yang paling berperan. Posisi pelabuhan Gresik menggantikan posisi pelabuhan Tuban yang mulai ditinggalkan pada masa akhir Majapahit karena dianggap tidak aman.

“Sehingga kapal-kapal saudagar Tionghoa menjauhinya. Mereka lebih suka ke Gresik dan Surabaya. Karena kapal-kapal Tuban memaksa dengan kekerasan kapal-kapal Tionghoa agar singgah ke Tuban. Selanjutnya disebutkan bahwa Tuban sebagai sarang lanun,” tulis W P Groeneveldt dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources.

Menepi ke Pelabuhan Pontianak, Melihat Kegiatan Perdagangan Internasional Tempo Dulu

Pelabuhan Gresik merupakan pelabuhan yang tumbuh sekitar pertengahan abad 14 Masehi dan mengalami perkembangan yang cepat sehingga mampu menjadi pelabuhan dagang terbesar dan terbaik di Jawa pada dasawarsa kedua abad 14 Masehi.

Selain itu, kondisi tanah di sekitar pantai Gresik yang sebagian besar adalah batu-batuan membuat minimnya proses pendangkalan. Selain itu kondisi masyarakat yang bermacam-macam baik secara etnis, maupun ekonomis.

Bedasarkan hasil penelitian arkeolog di Situs Manyar (Gresik), permukiman di Gresik telah muncul pada sekitar abad ke 13 Masehi. Meskipun telah lama dihuni, nama Gresik baru muncul pada masa Majapahit yang tertulis dalam prasasti Karangbogem.

Prasasti ini dikeluarkan oleh Bhre Lasem pada tahun 1387 Masehi, disebutkan adanya orang-orang Gresik, hana ta kawulaningon saking Gresik yang diperkerjakan di perusahaan tambak (perikanan) di Karangbogem.

Sedangkan menurut berita Tionghoa yang ditulis oleh Ma Huan (1433 Masehi), Gresik merupakan desa baru yang dalam bahasa Mandarin disebut Ko-erh-hsi. Desa baru ini terletak di sebelah timur Tuban pada jarak sekitar setengah hari perjalanan.

“Pada awalnya Gresik merupakan daerah pantai berpasir. Oleh orang-orang Tionghoa yang datang dari Tiongkok Tengah, antara tahun 1350 dan 1400 Masehi dibangun menjadi desa permukiman yang baru,” catat L C Damais dalam tulisannya berjudul Etudes Javanaises.

Permata dari Jawa

Gresik kemudian berkembang pesat setelah tahun 1400 Masehi, dan ketika Ma Huan datang ke Gresik telah menjadi kota pelabuhan terbaik dan terpenting. Nama Gresik (Ko-erh-hsi) juga disebut dalam Ying-yai Sheng-lan.

Gresik tertulis bersama-sama dengan nama Tuban (Tu-pan), Surabaya (Sulumai atau Su-erh-pa-ya), Canggu (Chang-ku), dan Majapahit (Man-che-po-i). Penghuninya telah berkembang menjadi lebih dari seribu kelurga.

Dicatat oleh J V G Mills dalam buku Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan. The Overall Survey of The Ocean Shore menyebut orang asing dari berbagai tempat banyak berdatangan ke tempat ini untuk berniaga.

“Berbagai jenis barang dagangan diperjualbelikan dalam jumlah yang banyak. Karena perdagangan ini penduduk kota Gresik menjadi sangat makmur,” tulisnya.

Setiap tahunnya sekitar 60 lebih kapal dengan jenis yang bervariasi datang ke Gresik. Sebagian kapal-kapal itu bermuatan rempah-rempah. Orang Banda membawa sendiri buah dan bunga pala mereka ke sana.

Selain menjadi pasar untuk rempah-rempah Gresik juga menjadi pengekspor makanan dan produk lain seperti beras, kacang, gula, ikan, hewan ternak, dan binatang buruan. Produk-produk yang lengkap ini menjadikan Gresik sebagai pelabuhan penting di Nusantara ketika itu.

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan

Selain itu, Ma Huan menyebutkan di pelabuhan Gresik juga diperjualbelikan emas dan batu permata, dan berbagai jenis barang dagangan dari luar negeri. Sementara itu juga ada kayu cendana dari Timor yang ketika itu menjadi komoditas unggulan.

Menurut Tome Pires dalam Suma Oriental, kota pelabuhan Gresik pada sekitar 1512 merupakan bandar yang besar dan terbaik di seluruh Jawa, sehingga dijuluki Permata dari Jawa. Para penguasa Gresik ketika itu juga melakukan kegiatan perniagaan.

Gresik memang berfungsi sebagai pusat pelabuhan dan pusat pasar bagi daerah lain di sekitarnya. Kota ini memiliki pelabuhan dengan jalur airnya yang sangat baik dengan kedalamannya yang cukup hingga pinggir kota.

Kapal-kapal yang berlabuh pun tidak perlu takut akan angin karena layar cucur perahu mereka bisa menempel pada rumah-rumah. Selain itu terdapat dua muara sungai besar dari pedalaman yang merapat di kota Gresik yaitu sungai Bengawan Solo dan muara sungai Brantas.

Dua sungai tersebut merupakan lalu lintas alamiah untuk jalur perdagangan regional. Dari Bengawan solo, bisa menghubungkan Gresik dengan daerah pedalaman Jawa Tengah. Sedangkan dengan muara sungai Brantas menghubungkan Jawa Timur.

Kemunduran pelabuhan Gresik

Pesatnya perkembangan perdagangan maritim di Pelabuhan Gresik tidak dapat dilepaskan dari pengaruh para syahbandar yang sukses memimpin pelabuhan Gresik. Ada beberapa syahbandar yang menjadikan pelabuhan Gresik maju pesat.

Nama pertama adalah Maulana Malik Ibrahim yang pernah menjadi syahbandar pada masa Majapahit. Awalnya dirinya bermukim di Romoo untuk berdakwah sembari berdagang. Kemudian Raja Majapahit mengangkatnya sebagai syahbandar di Gresik.

Lalu pada Babad Gresik juga memberitakan bahwa pernah hidup saudagar kaya yang merupakan istri seorang patih dari Kamboja. Saudagar itu bernama Nyai Ageng Pinatih, dia memutuskan untuk meninggalkan negeri dan mengabdi kepada Majapahit.

“Kemudian dia diberi hak untuk bermukim oleh raja. Usaha dan relasi dagangnya cukup luas sampai ke beberapa pelabuhan dagang di luar Jawa,” tulis Muhadi dalam jurnal sejarah Gresik Sebagai Bandar Dagang di Jalur Sutra Akhir Abad XV Hingga Awal Abad XVI (1513 Masehi).

Setelah Maulana Malik Ibrahmi wafat tahun 1419 Masehi datang lagi pedagang dan penyebar Islam dari negeri Cempa, Raden Ali Hutomo, Raden Rahmat dan Abuhuraeroh. Kemudian oleh raja Majapahit Raden Ali Hutomo ditempatkan di Gresik.

Pelindo III Operasikan Terminal Semen Indonesia Group

Ada kemungkinan Raden Ali Hutomo sebagai pengisi lowongan syahbandar Gresik setelah meninggalnya Maulana Malik Ibrahim. Faktor pendorongnya adalah adanya kegiatan agama Islam yang dilakukan bersama kegiatan dagangnya orang Asia Barat.

Sedangkan pada tahun 1478 Masehi kejayaan Gresik beriringan dengan majunya pemerintahan Sunan Prapen atau Sunan Giri II. Terdapat hubungan yang kuat antara penguasa Giri yang pertama dengan dunia perdagangan di Gresik.

Situasi ini nampaknya terus berlanjut hingga Giri jatuh akibat serangan dari Sultan Agung dari Mataram Islam pada tahun 1635. Kemudian memasuki abad ke 16, perdagangan Nusantara memasuki era baru.

Di mulai dari datangnya Portugis, disusul Spanyol, Belanda, dan Inggris serta jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) menyebabkan perdagangan di Laut Jawa. termasuk Gresik menghadapi kegoncangan.

Sempat bertahan pada masa VOC, Pelabuhan Gresik benar-benar mundur pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1830 Surabaya, Mojokerto dan wilayah sekitarnya dipilih sebagai perkebunan tebu.

Sedangkan di wilayah pedalaman dari Pelabuhan Gresik ternyata tidak mampu menghasilkan komoditas dagang yang laku saat itu seperti tebu, kopi dan gula, sehingga perlu di geser ke Pelabuhan Surabaya.

Hal ini membuat Surabaya menjadi wilayah yang mengalami proses dinamis dalam perkembangan ekonomi. Perkembangan tersebut disebabkan dukungan dan berkembangnya transportasi di Pelabuhan Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini