Menaikkan Tarif Demi Merawat Candi Borobudur, Perlukah?

Menaikkan Tarif Demi Merawat Candi Borobudur, Perlukah?
info gambar utama

Sekitar tahun 780-840 Masehi, Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur sebagai tempat pemujaan Budha dan tempat ziarah. Candi Borobudur merupakan tempat yang berisikan petunjuk agar manusia menjauhkan diri dari nafsu dunia dan menuju pencerahan dan kebijaksanaan menurut Buddha.

Borobudur dibangun dengan gaya mandala yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Di dalam kawasan candi terdapat 72 stupa Buddha, 2.672 panel relief berupa naratif dan dekoratif serta 504 arca Buddha.

Berusia lebih dari 1.000 tahun, Candi Borobudur kemudian dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Magelang, Jawa Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magelang, jumlah kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur mencapai 3,75 juta pada tahun 2019 dan turun menjadi 965.699 pada 2020 karena buka-tutup terkait kondisi pandemi. Pada momen libur lebaran, Kamis (5/5/2022), kunjungan ke candi bahkan mencapai 31.089 orang.

Baru-baru ini tengah ramai diperbincangkan terkait pernyataan pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, yang menyatakan bahwa tiket masuk Candi Borobudur akan mengalami kenaikan. Kemudian, pernyataan tersebut menuai kontroversi. Ada apa di balik peningkatan tarif dan perlukah tiketnya menjadi kian mahal?

Misteri Borobudur: Bunga Teratai Raksasa yang Dibangun di Tengah Danau

Isu kenaikan harga yang menuai kontroversi

Candi Borobudur | Wikimedia Commons
info gambar

Selama ini, tarif untuk wisatawan lokal ke Candi Borobudur adalah Rp50 ribu (usia 10 tahun ke atas), Rp25 ribu untuk usia 3-10 tahun dan rombongan pelajar. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara adalah 25 dolar AS (usia di atas 10 tahun) serta 15 dolar AS untuk usia 3-10 tahun dan pelajar.

Jika sesuai wacana terbaru, akan ada perubahan pada tiket ke Candi Borobudur menjadi Rp750 ribu, tetapi itu hanya untuk wisatawan yang ingin naik ke bangunan stupa di bagian atas Candi Borobudur. Sementara itu, tiket masuk ke area candi secara keseluruhan masih sama, yaitu Rp50 ribu dan untuk pelajar malah akan turun dari Rp25 ribu menjadi Rp5 ribu.

"Tarif dan pembatasan ini nantinya berlaku untuk wisatawan yang akan menikmati naik ke atas Candi Borobudur. Pemerintah membuat ini semata-mata agar menjaga statusnya sebagai cagar budaya maka pemerintah kemudian melakukan hal tersebut," kata Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi.

Namun, rencana kenaikan tiket ini pun hingga saat ini masih dalam pembahasan dan akan diputuskan oleh Presiden Joko Widodo terkait 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia (DPSP). Sebelumnya, Luhut juga mengatakan bahwa akan ada kebijakan baru terkait pembatasan jumlah wisatawan yang bisa naik ke struktur Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang per hari.

Menyoal kenaikan harga tiket tersebut, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) menyatakan bahwa pihaknya kaget dengan pemberitaan tersebut. Mereka mengaku khawatir jika rencana tersebut malah akan memicu kecemburuan sosial.

Koordinator Publikasi Dewan Pimpinan Pusat Walubi Rusli Tan, mengatakan bahwa umat Buddha bisa memahami mengapa Candi Borobudur yang merupakan tempat ibadah membuat banyak orang terpikat dengan keindahan bangunannya.

Menurut pendapat Rusli, naiknya harga tiket dikhawatirkan akan berdampak buruk pada para pedagang di sekitar candi dan membuat wisatawan dengan anggaran pas-pasan menjadi ragu untuk melancong ke Borobudur.

"Karena yang datang dengan membayar seharga itu, berarti wisatawan yang mampu membeli makanan, dan minuman, dan cinderamata yang mahal. Kalau yang berpenghasilan UMR gimana mau bawa keluarga sama anak berwisata ke Candi Borobudur?" tanya Rusli.

Doktor bidang sejarah dan sejarawan dari Masyarakat Sejarah Indonesia, Andi Achmadi, mengatakan ia menolak wacana tersebut diberlakukan karena akan menjadi bencana dalam ilmu pengetahuan.

“Itu kan bencana ya dalam artian ilmu pengetahuan. Diseminasi pengetahuan. Hanya menjadikan warisan sejarah itu buat orang yang punya uang. Dan itu adalah suatu bencana nasional. Saya akan bilang seperti itu kalau itu diterapkan,” kata Andi kepada Kumparan.com.

Senada dengan pendapat Rusli, Andi juga merasa bahwa rencana tersebut akan merugikan pelaku usaha di sekitar candi.

“Jadi kan itu hanya wilayah ekonomi menengah ke atas, ya sudah pasti yang kecil kecil tidak akan diliriklah ya. Yang akan datang ke Borobudur ya pastinya yang sudah siap dengan harga tiket seperti itu. Dan mereka kan tidak akan mau makan di warung pinggiran. Mereka hanya mau di kelas-kelas tertentu. Dan itu pastinya yang sektor ekonomi kecil akan gulung tikar," tegasnya.

Menurut Andi, solusi yang tepat justru tiket masuk Borobudur digratiskan, tetapi dengan syarat mengatur kuota kunjungan. Jadi semua orang bisa masuk, tetapi tidak dalam waktu bersamaan. semua orang bisa mengunjungi pada saat yang sama.

''Di situ manajemennya ya," jelas dia.

Menyaksikan Kemeriahan Musik Nusantara dalam Relief Candi Borobudur

Mengapa harga tiket harus naik?

Candi Borobudur | Wikimedia Commons
info gambar

Ada beberapa alasan yang dibeberkan di balik naiknya harga tiket ke Candi Borobudur. Menurut keterangan Luhut, langkah ini merupakan salah satu upaya dalam merawat candi. Kebijakan ini juga diambil berdasarkan rekomendasi dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan para pakar dengan tujuan utama yaitu menjaga bangunan candi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, mengatakan penetapan kuota pengunjung sebanyak 1.200 per hari memang diperlukan untuk menjaga kondisi struktur bebatuan candi yang terus mengalami keausan.

“Bukan artinya wisatawan merusak, tapi setiap kali wisatawan naik ke struktur Borobudur, secara otomatis (batu) mengalami keausan,” kata Sandiaga.

Tak hanya pembatasan pengunjung, pengelola juga menyiapkan sandal khusus bagi wisatawan yang akan naik ke candi guna mengurangi keausan batu.

“Ini adalah peradaban kita, ini merupakan peninggalan dari heritage, kelestarian budaya kita, juga dari nenek moyang kita," terangnya.

Ia juga akan melakukan langkah-langkah strategis setelah mendapatkan masukan dari para warganet, para ahli, dunia usaha, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, ahli budaya, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Kepala Balai Konservasi Borobudur Wiwit Kasiyati membenarkan bahwa Candi Borobudur mengalami kerusakan di beberapa bagian akibat membludaknya pengunjung. Pihaknya juga memiliki data jumlah kunjungan yang juga semakin meningkat yang ternyata memang berdampak pada keausan tangga dan lantai candi.

"Terkait dengan harga naik itu memang kalau ditarik benang merahnya, memang ada keterkaitan dengan pembatasan jumlah pengunjung. Dirjen kebudayaan khususnya Balai Konservasi Borobudur yang melakukan kegiatan pelestarian berdasarkan data keausan tangga maupun lantai Borobudur," kata Wiwit.

Sebelum ada berita kenaikan tarif, sebenarnya pihak pengelola juga sudah membuat rencana pembatasan pengunjung. Namun, meski ada pembatasan, pengunjung akan disebar ke kawasan lain.

"Kami mempunyai situs-situs di kawasan cagar budaya Borobudur. Kemudian masyarakat Borobudur itu memiliki potensi luar biasa. Ada 20 desa di Borobudur ini potensinya luar biasa. Potensi seni, budaya, tradisi dan wisata alam, wisata buatan itu banyak ada di sekitar Borobudur," jelas Wiwit.

Sepakat dengan naiknya harga tiket, Pengamat sejarah dan cagar budaya Kuncarsono Prasetyo menyatakan wacana tersebut adalah strategi jitu dalam membatasi jumlah manusia untuk menyelamatkan struktur cagar budaya.

Kata Kuncarsono, perawatan dan pelestarian cagar budaya memang harus hati-hati supaya tidak menimbulkan kerusakan pada titik atau bagian dari bangunan tersebut. Ia menyebut kekhawatiran terkait rusaknya Borobudur bahkan telah jadi perbincangan sejak satu dekade lalu karena beberapa titik dan bagian stupa, anak tangga, dan bagian lain mengalami perubahan bentuk.

Dusun Prumpung, Tempat Para Pematung Ulung di Balik Kemegahan Candi Borobudur

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini