Mengenal 5 Wilayah Adat yang Jadi Dasar Pemekaran Provinsi Papua

Mengenal 5 Wilayah Adat yang Jadi Dasar Pemekaran Provinsi Papua
info gambar utama

Pulau dan Provinsi Papua sedang jadi perbincangan hangat saat ini. Hal tersebut lantaran adanya rencana pemekaran sebanyak tiga provinsi dari yang sebelumnya sudah ada. Adapun tiga calon provinsi baru meliputi Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Pegunungan Tengah.

Yang menarik, pembagian Provinsi baru itu juga ditetapkan berdasarkan kawasan wilayah adat yang ada di Papua. Di mana sebenarnya ada sebanyak lima wilayah adat di sana. Awalnya pun, pemekaran yang diajukan terdiri dari lima provinsi baru, sesuai dengan masing-masing wilayah adat yang ada.

Tapi karena belum mencapai kesanggupan fiskal dari pemerintah, pemekaran tahap pertama baru mencakup tiga wilayah adat terlebih dulu.

Apa saja lima wilayah adat yang ada di Provinsi Papua? Berikut penjelasannya.

Mengenal 3 Calon Ibu Kota Provinsi Baru di Papua

Mamta

Ondoafi pemimpin wilayah adat Mamta (it’s smile/Flickr)
info gambar

Wilayah adat pertama ini meliputi Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Mamberamo Raya. Satu hal yang membedakan wilayah adat Mamta dengan wilayah adat lain, yakni sistem politik tradisional kepemimpinan dengan nama Ondoafi.

Salah satu ciri utama dalam sistem ondoafi adalah adalah pewarisan kepemimpinan. Sebagai contoh, bila seorang ondoafi meninggal maka jabatan akan diwariskan kepada salah seorang dari anak-anaknya. Biasanya anak yang dimaksud merupakan anak laki-laki yang tertua.

Berada di daerah pusat pemerintahan Provinsi Papua, wilayah Mamta telah ditetapkan sebagai daerah pengembangan sektor industri, perkebunan dan pariwisata. Di Kabupaten Keerom dikembangkan Perkebunan Sawit, Coklat, Peternakan Sapi, Perikanan Budidaya, dan Tanaman Pangan.

Sementara itu untuk Kota Jayapura dikembangkan hortikultura dan peternakan ayam. Saat ini di Kabupaten Sarmi dikembangkan Perkebunan Kelapa seluas 361 hektare, cokelat, dan perikanan. Di Kabupaten Mambramo Raya dikembangkan perkebunan sagu seluar 60.000 hektare, pisang dan perikanan.

Sedangkan untuk Kabupaten Jayapura dikembangkan perkebunan cokelat seluas 13.342 hektare, hortikultura, dan peternakan ayam.

Kampung Tobati, Desa Wisata di Jayapura dengan Keunikan Hutan Perempuan

Saereri

Distrik Numfor di wilayah adat Saereri (Michael Thirnbeck/Flickr)
info gambar

Saereri adalah wilayah adat kedua yang dihuni oleh suku-suku yang hidup di wilayah utara Provinsi Papua, khususnya di daerah pesisir. Karena letaknya pula, kawasan satu ini menjadi pusat pengembangan industri kelautan seperti rumput laut dan perikanan tangkap.

Wilayah adat satu ini meliputi Kabupaten Biak Numfor, Supiori, Kepulaun Yapen dan Waropen. Salah satu suku yang mendiami wilayah adat satu ini adalah Suku Biak Numfor. Orang Biak sejak dulu menyembah dewa persatuan dan pujaan mereka yaitu ’Manseren Koreri’, yang kemudian dikenal dengan nama ’Manarmakeri’.

Ada cerita menarik di balik kepercayaan tersebut, di mana Manarmakeri rupanya adalah nama panggilan berupa penghinaan. Sosok tersebut digambarkan sebagai orang tua yang berkudis, borok, dan kotor yang menyebabkan banyak orang jijik kepadanya. Nama asli dari Manamakeri sendiri diyakini adalah Yawi Nusyado.

Meski begitu, Manamakeri disebut selalu membuat tanda-tanda ajaib yaitu dapat menggantikan kulitnya yang berkudis, kadas, dan borok menjadi makanan dan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Lain itu, ia juga kerap dipuja sebagai juru selamat.

Saereri sebelumnya telah dijadikan sebagai pusat pengembangan budidaya rumput laut yang berada di Kabupaten Yapen, Supiori dan Biak. Wilayah Saereri juga dijadikan sebagai pusat pengembangan Perikanan tangkap yang di berada di Kabupagten Biak, Supiori, Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen.

Sementara itu Kabupaten Biak, Supiori dan Kepulauan Yapen ditetapkan sebagai pusat pengembangan wisata kelautan dan kehutanan.

Tradisi Pernikahan Suku Biak, Warisan Budaya di Pulau Ujung Timur Indonesia

Anim Ha

Meliputi kawasan Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi. Wilayah adat Anim Ha merupakan wilayah terluas sekaligus kawasan terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Marind Anim, adalah nama suku yang menjadi tuan rumah di tanah datar ini. Suku tersebut terdiri dari tujuh marga besar yakni Gebze, Kaize, Samkakai, Ndiken, Mahuze, Balagaize, dan Basik-basik.

Menurut penjelasan J Van Baal dalam karyanya, ‘Dema’: Description and Analysis of Marind Anim Culture’, dahulu Suku Marind atau Malind punya kepercayaan terhadap dema. Dema sendiri adalah roh yang dipercaya bisa menjelma sebagai apa pun di alam, baik manusia, binatang, tumbuhan, atau batu.

Mereka percaya jika semua alam semesta berasal dari dema, yang muncul berupa kekuatan gaib dalam alam, atau berupa roh-roh orang mati. Semua itu juga terkait dengan konsep mereka tentang totemisme.

Totemisme sendiri adalah agama mempercayai adanya daya atau sifat ilahi yang dikandung sebuah benda atau makhluk hidup selain manusia. Karena itu biasanya terdapat sejumlah makhluk yang disakralkan seperti yorma (dema laut), wonatai (totem buaya), yawi (dema kelapa), dan lain-lain.

Suku lainnya yang berada di wilayah Anim Ha adalah Suku Asmat, mereka dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi Suku Asmat di sana terbagi dua, yakni mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman.

Kedua populasi tersebut saling berbeda satu sama lain dalam hal cara hidup, struktur sosial, maupun ritual. Orang-orang Asmat pandai membuat hiasan ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Lebih dari itu, setiap ukiran yang dibuat juga memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang.

Bagi Suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa melainkan jalan bagi mereka untuk berhubungan dengan para leluhur.

Suku Asmat, Titisan Dewa yang Mendiami Bumi Papua

La Pago

La Pago terdiri dari kabupaten-kabupaten yang ada di wilayah pegunungan tengah sisi timur. Kawasannya mencakup Kabupaten Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Tolikara, Nduga, Puncak Jaya, Yalimo, Yahukimo, Membramo Tengah, dan Kabupaten Puncak.

Di daerah ini lah dijumpai masyarakat yang biasanya memiliki pakaian adat koteka (penutup penis) bagi kaum laki-laki. Koteka tersebut biasanya terbuat dari kunden kuning. Sementara masyarakat perempuannya menggunakan pakaian “wah” yang terbuat dari rumput atau serat.

Contoh suku yang mendiami kawasan adat ini adalah Suku Dani, Suku Nayak, Suku Nduga, Suku Yali. Lebih detail membahas salah satunya yakni Suku Yali, mereka memiliki kepercayaan menyembah ular. Persembahannya dilakukan dengan memotong babi kemudian darahnya diletakkan di daun keladi. Sementara itu dagingnya dimasak lalu diberikan ke ular.

Sebagai kawasan yang berada di daerah pengunungan, La Pago memiliki beberapa komoditas unggulan yang didorong pengembangannya seperti kopi, ubi jalar, buah merah, bawang, gaharu, karet, nanas, jeruk, dan sayuran dataran tinggi.

Di samping potensi tersebut, ada fakta tak terhindarkan bahwa rata-rata tingkat kemiskinan di Kawasan La Pago mencapai 40,93 persen. Meski begitu, wilayah adat ini sebenarnya memiliki salah satu gelaran pariwisata tahunan yang yang sudah cukup terkenal, yakni Festival Lembah Baliem dan Jayawijaya Peaks.

Hangat di Kedinginan Celah Pegunungan Jayawijaya

Mee Pago

Wilayah Mee Pago meliputi Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Nabire, Intan Jaya, Paniai dan Mimika. Hampir seluruhnya masyarakat yang hidup di kawasan ini berasal dari suku yang sama, yaitu Suku Mee.

Mee sendiri memiliki makna sebagai orang-orang yang telah dipenuhi dengan akal budi yang sehat. Mereka menaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat paling utama yang dilarang adalah hal perzinahan.

Suku Mee mempercayai dunia mereka diciptakan oleh Ugatame. Di mana dunia yang di ciptakan Ugatame ini terdiri dari lima unsur yakni roh, manusia, binatang, tumbuhan, dan benda benda tak berjiwa.

Pola perkampungan masyarakat Mee tinggal dalam desa yang membentuk suatu federasi desa sebagai kesatuan politik terbesar. Tiap federasi tersebut dipimpin oleh orang yang disebut Tonowi, yang memperoleh kekuasaan karena banyak memiliki orang yang tunduk dan setia kepadanya.

Namun yang menjadi catatan, para pengikut atau orang yang tunduk bukan dimiliki karena paksaan, melainkan kemauan. Mereka biasanya tertarik pada kedermawanan, kepandaian dalam berperang, serta fasihnya seorang Tonowi dalam berbicara.

Bicara mengenai potensi alam, wilayah Mee Pago sebenarnya mempunyai potensi yang cukup besar namun belum dimanfaatkan dengan maksimal. Beberapa bentuk kegiatan ekonomi yang sebenarnya bisa dilakukan di wilayah ini mencakup pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

TWA Sorong Papua, Tempat Rekreasi dan Edukasi Tentang Pelestarian Alam

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini