Ragam Cara Tradisional Menangkap Hasil Laut Ala Masyarakat Papua

Ragam Cara Tradisional Menangkap Hasil Laut Ala Masyarakat Papua
info gambar utama

Indonesia memang memiliki sumber daya hasil laut yang melimpah, tapi bukan berarti pemanfaatannya bisa dilakukan secara eksploitasi lewat kegiatan-kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Bukan dengan pukat atau bom, ada berbagai cara lebih sederhana yang bisa dilakukan untuk menangkap hasil laut.

Bahkan dari sekian banyak cara yang dimaksud, tak sedikit cara tradisional yang sudah digunakan oleh masyarakat pesisir sejak lama. Sebelumnya ada Bubu, alat tangkap ikan tradisional berupa perangkap yang sudah digunakan sejak tahun 1970-an.

Namun di samping itu, masih ada ragam cara tradisional lain yang banyak digunakan masyarakat di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga saat ini. Salah satunya adalah masyarakat pesisir Papua. Wilayah di paling timur Indonesia ini memiliki tradisi mengenai cara menangkap hasil laut yang cukup beragam.

Ditambah lagi, hasil tangkapnya bukan hanya ikan melainkan sumber daya lainnya seperti lobster, tiram, berbagai jenis kerang, dan masih banyak lagi.

Apa saja cara menangkap hasil laut tradisional yang ada di Papua? Berikut 3 contohnya.

Cara Nelayan Banyuwangi Ungkap Rasa Syukur Dengan Petik Laut

Balobe

Cara tradisional satu ini berasal dari kebiasaan masyarakat di Kampung Lopintol dan Kampung Warsandim, Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat. Balobe adalah tradisi mencari hasil laut pada malam hari saat bulan tidak nampak, atau disebut sebagai bulan gelap.

Kegiatan tersebut biasanya dilakukan di atas jam 22.00 malam, menunggu air laut di pesisir surut. Mengenai alat, mereka menggunakan tombak dari kayu yang disebut kalawai. Namun pada ujung kalawai dipasang besi bermata tiga yang tajam.

Para nelayan hanya mengandalkan insting mereka dalam membaca kondisi alam. Biasanya dibantu oleh penerangan dari lampu petromaks, para nelayan sudah mahir menghujamkan tombak mengenai sasarannya.

Meski kondisi bulan gelap, namun menurut mereka hal tersebut pertanda bahwa kerumunan ikan tidak akan jauh-jauh berekspansi. Ikan juga diyakini akan memiliki penglihatan yang terbatas sehingga ikan lebih pelan dalam bergerak. Biasanya hasil tangkapan yang diperoleh berupa ikan, udang lobster, teripang, dan gurita.

Selain di Papua, cara menangkap hasil laut satu ini nyatanya juga banyak dilakukan oleh masyarakat di pulau seberang, tepatnya di Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Nelayan Kepiting Ini Merasakan Manfaat Rehabilitasi Mangrove

Bameti

Berbeda dengan balobe, bameti lebih kepada memungut hasil-hasil laut ketika air laut sedang surut atau bahasa daerahnya air laut sedang meti. Aktivitas satu ini bahkan sudah ada jauh sebelum metode bameti dilakukan. Sedangkan pelaksanaannya sendiri bisa dilakukan baik di malam atau siang hari.

Sasaran utama yang jadi titik memungut hasil laut biasanya berada di daerah pesisir yang landai dan menjorok. sehingga ketika surut akan nampak kolam-kolam kecil dan batu karang. Mengenai alat, bameti hanya dilakukan dengan peralatan seadanya, mulai dari cungkil kerang, dan baskom/serok penangkap.

Yang menarik, aktivitas bameti dilakukan tidak hanya oleh nelayan. Kegiatan ini biasa dilakukan oleh tiap keluarga untuk mengisi waktu senggang sambil rekreasi. Bahkan, tak sedikit yang memanfaatkan kegiatan ini sebagai ajang pertemuan dengan keluarga lain dalam satu kampung.

Selain di Papua, aktivitas yang memiliki nama lain retamoti di desa Sawai Kecamatan Seram Utara ini juga telah diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di Maluku. Selain ikan, hasil tangkapan yang biasanya diperoleh dari aktivitas bameti biasanya terdiri dari udang lobster, kerang laut, dan tiram.

Uniknya Tradisi Mudik Masyarakat Nelayan Pesisir Jembrana

Molo

Yang dilakukan untuk menangkap ikan kali ini sebenarnya adalah dengan cara menyelam, karena menyelam dalam bahasa Papua sendiri disebut molo. Biasanya aktivitas ini dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa dengan alat sederhana.

Alat yang dimaksud terdiri dari kacamata renang sederhana. Lain itu digunakan juga senapan panah yang dibuat dari kayu, dan peluru pelontar dari kawat yang ditajamkan ujungnya. Oleh masyarakat setempat alat tersebut dinamakan jubi.

Yang menarik, teknik menangkap hasil laut satu ini ternyata diwariskan secara turun temurun kepada generasi yang lebih muda. Bicara mengenai menyelam, setiap orang biasanya memiliki kemampuan berbeda dalam melakukan molo. Para penangkap ikan biasanya menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam untuk melakukan aktivitas ini.

Pulau Tabuhan, Perjuangan Nelayan, dan Pirates of Caribbean

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini