3 Grup Wayang Orang Profesional yang Masih Bertahan, Satu Berada di Jakarta

3 Grup Wayang Orang Profesional yang Masih Bertahan, Satu Berada di Jakarta
info gambar utama

Bicara soal wayang, tentunya kesenian tradisional ini menjadi salah satu yang sudah sangat terkenal. Tidak hanya di pulau Jawa saja, orang di seluruh nusantara setidaknya tahu kesenian ini.

Kesenian wayang sendiri adalah seni pertunjukan tradisional ditampilkan dengan menggunakan lakon tertentu. 'Kemasan' wayang sendiri ada bermacam-macam, mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang suket, wayang gambar, hingga wayang orang.

Sesuai dengan titel tersebut, wayang orang diperankan oleh seniman-seniman peran yang memang berkompeten, khususnya dalam bidang sandiwara dan seni tari seumur hidup.

Bila kamu pernah menonton Opera van Java (OVJ), kurang lebih seperti itulah pementasannya. Hanya saja, konsepnya lebih tradisional.

Orang yang menginisiasi adaptadi kesenian wayang khas jawa dengan teater dari barat ini adalah Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (1757-1795), seorang pemegang tahta Kadiparen Mangkunegaran yang pertama.

Mengutip dari Wayang Orang Sriwedari Riwayatmu Kini karya Fanny Chotimah dalam situs Wikibooks, dulu pementasan wayang orang hanya bisa dinikmati sebatas internal istana saja.

Ada upaya untuk membuat wayang orang bisa jadi hiburan masyarakat umum pada masa Mangkunegaran V. Sayangnya, setelah pergantian kekuasaan ke masa Mangkunegaran VI, ekonomi mengalami kemerosotan. Akibatnya, pentas wayang orang pun ditiadakan lagi.

Karena para pelakon tersebut dirumahkan, banyak dari mereka berinisiatif untuk membuat pementasan sendiri di luar istana.

Setelah bisa dinikmati masyarakat, kesenian ini menjadi berkembang dengan pesat. Bahkan, orang Belanda dan Tionghoa juga turut menjadi penonton bila kesenian tersebut ditampilkan. Ada pula masyarakat non-pribumi yang turut bermain lakon di kesenian ini.

Peran Pertunjukan Wayang Klithik bagi Ritual Bersih Desa di Desa Wonosoco

3 Grup Wayang Orang yang Masih Bertahan

Secara manajemen pertunjukan, wayang orang sendiri terdiri atas sekumpulan orang yang biasanya tergabung dalam sebuah perkumpulan kesenian.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini semakin berkurang peminatnya. Hal ini memang cukup memprihatinkan, sebab wayang orang adalah sebuah warisan kesenian yang otentik.

Sisi baiknya, saat ini masih ada beberapa grup wayang orang profesional yang masih terus bertahan. Keberadaan mereka tidak hanya semata-mata sebagai penyalur hobi dan mendapatkan keuntungan saja, namun mereka memang benar-benar berniat untuk mempertahankan dan terus mengekan kesenian tradisi ini, khususnya ke generasi muda.

Berikut adalah beberapa grup wayang orang tersebut :

1. Wayang Orang Sriwedari

Grup wayang orang (WO) yang pertama ini berasal dari Surakarta, kota 'jantung' budaya di Jawa Tengah. Mereka adalah grup wayang orang tertua yang masih bertahan selama satu abad lebih.

Terbentuknya grup wayang orang ini sendiri berawal dari inisiatif seniman lokal di Surakarta pada tahun 1911. Namun, mereka baru bisa melakukan pentas komersial pada tahun 1922. Anggota mereka banyak yang berasal dari para pelakon sewaktu

Dilansir dari situs Pemerintah Kota Surakarta, alasan mereka bertahan sendiri tidak terlepas dari atmosfer dan kekentalan budaya dari wilayah Surakarta, sehingga mereka punya semangat yang lebih untuk mempertahankan kesenian lokal. Apalagi Pemerintah Kota Surakarta sangat mendukung keberadaan grup ini sebagai upaya pelestarian budaya dan menjadi daya tarik pariwisata.

Bila tertarik ingin menonton lakonnya, maka bisa datang ke Gedung Wayang Orang yang berada di Taman Sriwedari. Mereka melakukan pentas setiap hari Selasa-Sabtu mulai dari jam 19.30. Informasi lakonnya bisa Anda cek di Instagram @wayang_orang_sriwedari.

Mengenal Wayang Sothil dan Sosok Perempuan di Baliknya

2. Wayang Orang Ngesti Pandowo

Masih berada di Jawa Tengah, grup kedua yang masih bertahan adalah WO Ngesti Pandowo yang bermarkas di Kota Semarang. Umurnya memang lebih muda dari WO Sriwedari, tetapi grup ini punya sejarah dan reputasi yang tidak kalah luar biasa. Bahkan, WO Ngesti Pandowo pernah tampil dipanggil ke Istana oleh Presiden Soekarno dan mendapatkan piagam Wijayakusuma.

Sebenarnya, grup ini berasal dari Madiun. Penggagasnya adalah Ki Sastro Sabdho pada tahun 1937. Sejak mereka memulai debut sebagai grup wayang orang, penggemarnya pun menjadi sangat banyak. Awalnya, mereka berpindah-pindah dari kota ke kota untuk tampil ketika ada acara pasar malam.

Suatu ketika, mereka ditawarkan untuk bermain di gedung pertunjukan secara tetap oleh Walikota Semarang pada 1950s. Sejak saat itulah Kota Semarang menjadi markas mereka. Nama mereka pun semakin populer dan teknologi pementasannya konon menjadi yang paling kreatif di antara grup wayang orang lainnya di zaman itu.

Demi mengupayakan regenerasi, Ngesti Pandowo juga membentuk grup khusus yang berisikan anak-anak muda, yaitu Laskar Muda Ngesti Pandowo.

Sekarang, WO Ngesti Pandowo rutin untuk tampil di Gedung Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh setiap malam Minggu.

Pemuda Surabaya Buat Ulang Wayang Kulit Berumur 100 Tahun

3. Wayang Orang Bharata

Grup yang ketiga ini agak berbeda bila dibandingkan dua grup di atas. Bila WO Sriwedari dan WO Ngesti Pandowo berasal dari Jawa Tengah, maka Wayang Orang Bharata ini tidak.

Di tengah wilayah yang erat dengan modernitas serta budaya tradisional yang menjadi tanah masyarakat Betawi, Justru Wayang orang Bharata memiliki basis di Jakarta.

Berdiri pada tahun 1962, mereka punya tempat pertunjukan di Gedung Bharata Purwa di Senen, Jakarta Pusat. Sejak dulu hingga sekarang, mereka rutin melakukan pentas di hari Sabtu.

Mereka tetap mempertahankan penggunaan bahasa Jawa ketika pentas. Meskipun begitu, terdapat subtitle berupa running text agar penonton bisa mengerti. Melansir dari situs Pekan Kebudayaan Nasional, mereka hanya menggunakan Bahasa Indonesia pada bagian dialog yang lucu saja.

Meskipun berada di tengah gempuran hiburan modern, ketiga grup wayang orang tersebut masih tetap memiliki semangat yang membara untuk tetap menghidupkan kesenian tradisional ini. Jadi, apakah Anda sudah pernah menonton wayang orang? Jika belum, cobalah untuk menontonnya ya!

Catatan Sejarah Wayang Kulit, Lahir dan Tumbuh di Indonesia untuk Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini