Deretan Band Cadas Indonesia yang Pernah Tampil di Pentas Internasional (Bagian I)

Deretan Band Cadas Indonesia yang Pernah Tampil di Pentas Internasional (Bagian I)
info gambar utama

Musisi Indonesia seakan tidak pernah berhenti melahirkan karya. Lalu, karya-karya tersebut menuai banyak apresiasi, tidak hanya dari dalam negeri melainkan juga dari dunia internasional.

Hal tersebut berlaku juga bagi band-band beraliran cadas di Indonesia. Cadasnya musik yang mereka bawakan telah bergema sampai ke luar negeri sejak dulu.

Kenyataannya, Indonesia memang punya sederet band-band cadas yang karyanya pernah dibawakan di pentas internasional. Kali ini, GNFI akan membahas lima di antara band-band tersebut serta ajang bergengsi apa saja yang pernah mereka singgahi.

Tehyan, Lalove, dan Alat Musik Tradisional Indonesia yang Belum Banyak Diketahui

1. Deadsquad

Deadsquad adalah band asal Jakarta yang dibentuk pada tahun 2006. Gaya musiknya menganut genre death metal.

Deadsquad pernah melakukan tur mancanegara, salah satunya bertajuk DeadSquad Tyranation Over Japan 2016. Saat itu, Deadsquad manggung di sejumlah lokasi di Jepang pada 30 Oktober hingga 3 November 2016. Lokasi manggung Deadsquad adalah di Asakusa, Yokohama, Shinjuku dan diakhiri di Sangenjaya.

Tur DeadSquad Tyranation Over Japan 2016 digelar untuk mempromosikan album baru mereka yang bertajuk Tyranation.

Pada 2017, Deadsquad mencapai Korea Selatan dalam tur Horror Profanation Over South Korea. Deadsquad tampil di dua kota di Korea Selatan, Seoul dan Daegu pada 16 dan 17 September 2017.

Bukan cuma satu kali Deadsquad manggung di Jepang. Pada 2018, mereka kembali beraksi di sana. Dengan tur yang digelar dalam rangka promosi album bersama The Kandarivas, Deadsquad beraksi di Osaka, Nakano, Yokohama dan Tokyo.

Selama 2018, ada pula kesempatan manggung lain yang didapat Deadsquad di luar negeri. Kala itu, mereka manggung dalam tur Super Invasion 2018 di Austria, Jerman, Swiss, Prancis, Belanda.

Kemudian pada 2019, Deadquad melakoni dua tur di Eropa. Ajang pertama adalah Death Feast Open Air 2019 di Andernach pada 22 – 24 Agustus 2019. Sesudahnya, Deadsquad langsung beranjak ke The Devourer European Tour 2019 di Basel, Praha, Leipzig, dan Amsterdam hingga pengujung Oktober.

2. Jasad

Jasad adalah band metal yang usianya bisa dibilang cukup tua. Bagaimana tidak, band asal Bandung ini telah eksis sejak tahun 1999.

Selama lebih dari 30 tahun terjun di belantika musim Indonesia, Jasad telah merasakan manggung di berbagai tempat. Dari sekian banyak kesempatan manggung yang ada, sebagian didapat di luar negeri.

Pengalaman manggung di ajang besar internasional didapat Jasad pada tahun 2015 lalu. Saat itu, mereka berkesempatan tampil di panggung Obscene Extreme Festival 2015 di Trutnov, Republik Ceko pada 11-12 Juli 2015.

Pada bulan berikutnya di tahun yang sama, Jasad manggung di ajang Bloodstock. Festival musik metal top dunia itu digelar di Kota Derby, Inggris.

Hal yang luar biasa adalah Jasad tidak datang dan tampil di panggung luar negeei sebagai band antah berantah yang tak dikenal. Tribun Jabar melaporkan bahwa Jasad bukan band yang asing bagi sebagian penonton di Trutnov. Para penonton di sana banyak yang sudah akrab dengan lagu-lagu karya Jasad, namun baru pertama kalinya menyaksikan aksi mereka.

Pesona Sape Alat Musik Khas Dayak

3. Noxa

Noxa merupakan band beraliran grindcore yang berasal dari Jakarta. Band ini telah mulai berkarya sejak didirikan pada tahun 2002 silam.

Manggung di luar negeri sudah mereka rasakan sejak periode awal eksistensi Noxa. Setelah merilis album pertama pada 2003, Noxa beberapa kali manggung dalam acara gigs yang digelar di negara tetangga, Malaysia dan Singapura.

Setelah Asia Tenggara, dalam beberapa tahun berikutnya Noxa mampu merambah Eropa. Dikutip dari Tempo, Noxa tampil di ajang musik metak terbesar di Skandinavia bernama Tuska Metal Fest yang digelar di Helsinki, Finlandia pada Juni 2008. Lalu pada 2010, mereka mendapatkan kesempatan tampil di ajang Obscene Extreme Festival yang dihelat di Republik Ceko.

Selain Asia dan Eropa, Noxa pun pernah mengguncang Amerika. Itu terjadi pada 2015 lalu saat mereka tampil di Maryland Deathfest di Amerika Serikat pada 2015. Merahputih.com mencatat, Noxa satu panggung dengan band-band top seperti Napalm Death dan Obituary di sana.

4. Burgerkill

Burgerkill adalah band heavy metal yamg berasal dari Bandung. Band ini tergolong cukup berumur karena didirikan pada tahun 1995.

Selain umurnya yang sudah menginjak lebih dari dua dekade, Burgerkill juga punya pengalaman manggung di luar negeri yang sangat banyak. Bisa dibilang, jam terbang mereka di kancah internasional sangat tinggi.

Pada 2009, Burgerkill pernah manggung di tiga negara dalam setahun. Saat itu, mereka tampil di Australia yang dilanjutkan di Malaysia dan Singapura.

Pencapaian besar ditorehkan Burgerkill pada 2015 saat mereka diberi kesempatan tampil di dua festival musik metal terbesar duni, yakni Wacken Open Air di Jerman dan Bloodstock di Inggris. Bukan kali itu saja Burgerkill beraksi di Eropa. Pada 2018, mereka juga tampil di Prancis, Belgia , Jerman , Ceko , dan Polandia.

Tak hanya Eropa, Burgerkill juga merambah Amerika. Tercatat, pada 2019 mereka pernah menggelar tur di Amerika Serikat dengan menyambangi berbagai kota, di antaranya Philadelphia , Chicago ,New York , Madison , Milwaukee , Minneapolis, dan Washington, D.C.

Bundengan Alat Musik Tradisional yang Berawal dari Pelindung Gembala

5. Voice of Baceprot

Inilah band yang paling unik. Dengan keunikannya itu, mereka menjadi band yang kerap menarik.

Keunikan itu pertama-tama tampak dari penampilan mereka. Tampak seluruh anggotanya adalah perempuan belia yang mengenakan hijab. Ini adalah pemandangan yang menghadirkan nuansa baru di belantika musik metal Indonesia.

Kendati demikian, personel Voice of Baceprot mengaku tidak senang jika hijab mereka lebih disoroti ketimbang musik yang dibawakan.

"Yang kami tidak suka adalah ketika orang tuh lebih banyak membicarakan itu (hijab), menanyakan itu terus. Sementara, musiknya sendiri itu justru diabaikan," ujar personel Voice of Baceprot Firdda Marsya Kurnia kepada Deutsche Welle.

Voice of Baceprot mengawali kiprah mereka pada 2014. Nama band ini diambil dari kosakata bahasa Sunsa yang berarti berisik. Berdirinya band ini bermula dari kegiatan musik para personelnya di sekolah.

Pada tahun 2022 ini, Voice of Baceprot melakoni tur Eropa. Negara-negara yang disinggahi adalah Republik Ceko, Belanda, Denmark dan Jerman. Puncaknya, mereka tampil di Wacken Open Air.

Alat Musik Berdawai Kebanggaan Masyarakat Rote Itu Bernama Sasando





Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini