Sosok 'Wanita Listrik' Indonesia yang Masuk Jajaran Muslim Paling Berpengaruh Dunia

Sosok 'Wanita Listrik' Indonesia yang Masuk Jajaran Muslim Paling Berpengaruh Dunia
info gambar utama

“Suatu kali saya dan keluarga berada di dusun hutan Ketambe, Gunung Leuser, Aceh Timur, yang gelap gulita tak ada listrik. Tapi, di waktu lainnya saya ada di New York atas undangan PBB, di Kroasia, atau Beijing…”

Tri Mumpuni memang bukan sosok yang memiliki keterbatasan dari segi finansial atau ekonomi, namun memiliki kisah inspiratif layaknya berbagai sosok lain yang pernah diberitakan.

Dirinya dapat dikatakan memiliki kehidupan yang serba cukup. Namun, hal tersebut nyatanya tak membuat sosok yang kerap disapa dengan sebutan Puni ini melupakan kesederhanaan, dan pada akhirnya menjadikan dia sebagai salah satu sosok yang berjasa dalam memberikan kehidupan yang layak, dan memberdayakan masyarakat di berbagai pelosok tanah air.

Namanya mungkin sudah tidak terlalu asing, selama ini Puni dikenal sebagai orang yang berperan besar dalam keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), sebagai fasilitas utama yang mengaliri kelistrikan dan menerangi sejumlah wilayah yang tak tersentuh oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Karena itu, tak heran jika dirinya hingga saat ini kerap mendapat julukan sebagai “Wanita Listrik”.

Berkat berbagai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan, pada tahun ini Puni diganjar sebagai salah satu sosok yang masuk ke daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia, atau The World's 500 Most Influential Muslims 2021.

Sebesar apa dampak pembangunan yang sudah dilakukan Puni, sehingga membuat dirinya didapuk sebagai salah satu tokoh dalam daftar kehormatan tersebut?

Empat Nama Indonesia di Jajaran 50 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

Jalan panjang menerangi 60 desa di pelosok Indonesia

Sosok Tri Mumpuni
info gambar

Sebelum terjun secara langsung membangun PLTMH di sejumlah desa, Puni sejatinya memang dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat.

Dirinya pernah bekerja dalam program rumah untuk orang miskin di perkotaan, perempuan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan, sampai pada akhirnya sang suami, Iskandar Budisaroso Kuntoadji meminta bantuan Puni untuk mempresentasikan proposal dana listrik mikrohidro.

Diceritakan bahwa memang awalnya sang suami yang pertama kali menjalankan program ini sejak tahun 1987.

“Mas Iskandar sudah mulai sejak tahun 1987 melalui lembaga yang dia dirikan bersama teman-temannya, Yayasan Mandiri, tetapi berjalan sangat lambat.” Ungkap Puni.

Langsung tertarik begitu membantu suaminya, Puni pun meninggalkan pekerjaan yang ia miliki dan akhirnya bersama-sama membangun Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) pada tahun 1992, dengan visi memberdayakan masyarakat melalui modal sosial dan akses energi.

Hingga saat ini Puni dan Iskandar terhitung sudah memprakarsai pembangunan PLTMH di tidak kurang dari 60 lokasi terpencil yang sebelumnya gelap gulita, dan pada akhirnya menjadi terang benderang berkat PLTM yang mereka bangun.

Salah satu desa yang mendapat fasilitas pembangunan PLTMH di antaranya Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, NTT. Kemudian ada juga Dusun Palanggaran dan Cicemet, enklave di Gunung Halimun, Sukabumi yang mereka terangi pada tahun 1997.

Dengan memanfaatkan konsep sumber Energi Baru Terbarukan (EBT), PLTMH yang dibangun memanfaatkan sumber air (sungai) melimpah pada suatu wilayah tertentu, di mana alirannya dapat menggerakan turbin dan pada akhirnya menghasilkan energi listrik.

Yang perlu digaris bawahi, selama melakukan pembangunan PLTM, apa yang dilakukan oleh dirinya dan Iskandar melalui organisasi yang mereka bangun sama sekali tidak menggunakan dana pemerintah.

“…selama ini kami menggunakan dana donor melalui kedutaan, dan ada dukungan dari berbagai perusahaan dalam skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)” tuturnya.

NTB Menciptakan inovasi Baru Co-Firing Sebagai Pembangkit Listrik Dari Sampah

Bukan listrik, pemberdayaan masyarakat setempat secara ekonomi adalah tujuan utama

Kaum perempuan di Desa Kamanggih, NTT dengan hasil tenunan mereka. Sejak PLTMH hadir, mereka tidak perlu habiskan waktu untuk mengambil air ke lembah
info gambar

Pada saat memutuskan terlibat secara penuh dalam program PLTMH yang dijalankan oleh Iskandar, Puni melihat bahwa listrik adalah alat dalam suatu pembangunan.

“…begitu masyarakat punya listrik sendiri, mereka akan punya uang bersama untuk membiayai pendidikan, program kesehatan, program perempuan, infrastruktur seperti jalan, sampai radio komunitas..” pungkasnya.

Dengan memegang prinsip bahwa listrik hanya alat untuk membangunkan potensi masyarakat desa, cara kerja Puni dan Iskandar adalah membangun komunitas, mengajak mereka menyadari bahwa pembangkit listrik yang ada nantinya adalah milik mereka dan harus dipelihara bukan hanya turbin, namun seluruh kelangsungannya.

Berangkat dari prinsip tersebut, barulah Puni dan Iskandar merancang strategi pemberdayaan yang ingin dilakukan ketika ingin membangun sebuah PLTMH di sebuah lokasi tertentu.

Langkah awal yang pasti dilakukan adalah memastikan adanya sumber air yang melimpah namun belum ada kabel distribusi listrik di lokasi tersebut. Setelah dinilai memiliki potensi, Puni dan Iskandar lalu melakukan penjajakan dengan Kepala Desa setempat untuk membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai.

Selanjutnya, Puni akan mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis serta menghitung rencana anggaran biaya yang diikuti pencarian sumber dana untuk pembangunan PLTMH.

Setelah dana tersedia, IBEKA lalu mengirim tim sosial untuk membangun komunitas. Tim sosial tersebut akan berinteraksi selama beberapa minggu dengan masyarakat agar terbina hubungan yang baik, adapun langkah awalnya adalah menghubungi tokoh agama maupun tokoh adat setempat.

Hingga sampailah pada titik yang dimaksud oleh Puni sebagai pemberdayaan dimulai, masyarakat diminta membuat organisasi yang akan mengurus turbin dan perangkat PLTMH, dengan menentukan siapa ketua, bendahara, sekretaris, hingga siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan bongkar pasang mesin turbin.

Organisasi yang terbentuk tersebut juga diberikan pengetahuan pengoperasian mesin turbin, penghitungan biaya iuran yang harus dikeluarkan masyarakat setempat, dan biaya pemeliharaan PLTMH.

Selanjutnya, IBEKA akan berkoordinasi dengan organisasi pengurus yang sudah terbentuk dari perwakilan masyarakat, selama berjalanannya pengelolaan maupun hal-hal yang terkait dengan PLTMH.

Setelah PLTMH terbangun, perang Puni tidak berhenti sampai di situ, organisasinya tetap memiliki fokus agar masyarakat setempat yang sudah memiliki listrik, dapat menggunakan listrik tersebut untuk kegiatan produktif sesuai potensi desa, sehingga perekonomian pun ikut terangkat.

Lewat hal tersebut, maka terlihat bahwa Puni memberikan definisi nyata dari makna “menerangi desa” yang sebenarnya.

Akhirnya Dialiri Listrik, Ini Rahasia Pulau ‘Surga’ Meti yang Jarang Diketahui

Peristiwa tak terlupakan dalam perjuangan menerangi desa

PLTM yang diprakarsai Tri Mumpuni
info gambar

Niat mulia demi melakukan pembangunan bagi bangsa nyatanya tak selalu diikuti dengan perjalanan yang lancar. Siapa sangka, bahwa perjuangan yang pernah Puni dan Iskandar jalani nyatanya pernah dibumbui dengan kejadian yang menyebabkan trauma dalam kurun waktu tertentu.

Melansir Detik, Puni bercerita bahwa dirinya dan sang suami pernah mengalami penculikan di tengah proses pembangunan PLTMH di suatu desa di Aceh, yang terjadi pada tahun 2008, dua tahun setelah tragedi tsunami terjadi.

Kala itu, Puni ingin membantu satu-satunya desa pelosok yang tersisa pasca tsunami yang terdiri dari 215 keluarga. Namun, beberapa pihak desa yang mengetahui bahwa dirinya dekat dengan petinggi Aceh ternyata meminta uang lewat penculikan tersebut.

"…kita sama mereka lagi jalan mencari potensi air untuk membangun (PLTMH), tapi tiba-tiba kita disekap sama suami saya, masuk mobil muka ditutup, tangan kaki dirantai, dan mereka minta tebusan Rp2 miliar tapi hanya mampu memenuhi seperempatnya, ada orang lokal menegosiasi akhirnya berhasil dilepaskan," kenang Puni.

Akibat dari peristiwa tersebut, dirinya mengaku sempat mengalami trauma selama satu hingga dua bulan, bahkan setelahnya tetap menimbulkan kecemasan di saat ia ingin melakukan pembangunan di wilayah tertentu.

“Dulu kalau mau bangun di desa tertentu, terus ada orang sekitar datang dan minta lihat desanya sampai dua jam naik motor saya mau, tapi semenjak kejadian itu saya jadi mikir apa benar dibawa ke desa atau tempat lain?" tuturnya.

Tidak ingin berlarut dalam rasa trauma, Puni pada akhirnya berhasil bangkit dan tetap melakukan tujuan mulia memberikan penerangan yang sebenarnya kepada sejumlah wilayah pelosok di tanah air.

Berkat semangatnya, Puni kerap diganjar berbagai penghargaan dan apresiasi dalam skala internasional, yaitu Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature, penghargaan Ramoy Magsaysay 2011, dan Ashden Awards 2012 yang disertai bantuan sekitar Rp300 juta untuk pembangunan PLTMH.

Bukan hanya itu, Puni bahkan mendapat apresiasi secara langsung dari Presiden Amerika Serikat dalam sebuah pidato pada pertemuan wirausaha dari negara-negara muslim yang bertajuk Presidential Summit on Entrepreneurship pada bulan April 2010 silam.

Barack Obama, Presiden AS yang menjabat kala itu secara langsung menyampaikan apresiasi atas aksi yang sudah dilakukan oleh Puni.

“…kita mendapatkan seorang wirausahawan sosial seperti Tri Mumpuni, yang telah membantu masyarakat desa di Indonesia mendapatkan listrik dan pendapatan dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro” ujar Obama.

Kolaborasi PT PEL dan JPN Kejati DKI dalam Upaya Pemerataan Energi Listrik di Indonesia

Sumber: Biografi Tokoh | Detik.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini