Lupa Sandi?

Siapakah Pemain Global itu?

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Siapakah Pemain Global itu?
Siapakah Pemain Global itu?

Ketika mampir di Brisbane pada 2007, saya membaca koran setempat "Brisbane Times" dan cukup merasa tersindir hebat membaca salah satu artikelnya yang menyatakan bahwa peran Indonesia di dunia internasional hanya seperti negara berpenduduk 1/10 penduduk Indonesia. Australia telah cukup lama memandang dirinya sebagai pemain global kelas satu, setingkat dengan AS, Inggris, dan Russia. Malaysia dan Singapura pernah mencoba juga untuk menggapai posisi itu diplomasi ekonomi dan budayanya, dengan biaya tinggi.

Cukup lama Indonesia bekerja keras membawa suara rakyat Palestina, namun seolah-olah bersuara sendirian sementara negara-negara Timur Tengah seolah mengabaikan, atau memandang enteng diplomasi Indonesia. Australia, Malaysia, Singapura, negara-negara Arab tentu menyadari betapa potensialnya Indonesia di masa mendatang dalam hal diplomasi global, namun terkendala oleh berbagai persoalan politik dan ekonomi di dalam negeri.

Benarkah mereka? Mungkin ada benarnya. Namun mereka lupa bahwa Indonesia, dengan atau tanpa diplomat-diplomat super dan mumpuni, adalah salah satu negara paling penting di Asia. Populasi, posisi, dan demografi Indonesia terlalu manis untuk ditinggalkan di belakang. Pemain-pemain global seperti AS, China, Russia, tak berhenti mengambil hati Indonesia dengan berbagai program dan cara.

Seorang diplomat Jepang pernah berkata pada saya bahwa gaya diplomasi Indonesia sangat khas,  dan ini yang disenangi masyarakat internasional. Dulu, menurut dia, Singapura adalah wakil dari suara Asia Tenggara, namun sekarang kekuatan diplomasi dan peran global Indonesia jauh melewati Singapura, dan akan semakin jauh di depan.

Baca Juga

Di masa lalu sebenarnya Indonesia sangat berperan dalam membentuk kelompok alternatif, baik melalui blok timur (masa orde lama), dan Gerakan Non-Blok-nya orde baru. Menlu RI pernah menyatakan bahwa Indonesia pernah mengalami defisit diplomasi yang parah selama 10 tahun sejak krisis moneter 1998.

Namun, pelan tapi pasti, Indonesia mengambil peran penting tidak hanya di regional, tapi juga Asia, dan dunia. Banyak yang meyakini bahwa reformasi yang mengejutkan di Myanmar adalah salah satu bukti keberhasilan Silent Diplomacy ala Indonesia. Indonesia juga berperan dalam penghentian konflik di area candi Preah Vihear Kamboja-Thailand. Indonesia juga mengirimkan beberapa kontingen Garuda sebagai anggota pasukan perdamaian PBB. Dan tentu saja, kalau kita liat, berbagai event besar di langsungkan di Indonesia, seperti World Economic Forum, EAS, dan lain-lain.

Namun seperti Jusuf Kalla pernah sampaikan, diplomasi yang paling baik adalah membangun ekonomi dalam negeri yang kuat, dan terus tumbuh. Negara lain akan menunjukkan rasa hormat mereka. G20, kelompok 20 negara dengan ekonomi paling besar di dunia, dimana Indonesia adalah salah satu anggotanya, adalah wadah penting diplomasi Indonesia. Ekonomi Indonesia yang terus tumbuh di atas rata-rata negara-negara G20, posisi Indonesia akan terus naik. Saat ini, indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dengan pertumbuhan yang stabil dan diatas rata-rata anggota lain, diperkirakan tahun 2025 Indonesia sudah bisa nangkring di 10 atau 12 besar.

Dan itu tidak lama lagi, membayangkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-10 di dunia, mau tidak mau juga membayangkan Indonesia dalam kancah global. 2025 hanya 14 tahun lagi, dan itu tidak lama. Kita lah nanti pemain pemain global itu.

 

Ditulis untuk Good News From From Indonesia oleh Akhyari Hananto

 

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata