Lupa Sandi?

Growing Pains dan Optimisme Bangsa

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Growing Pains dan Optimisme Bangsa
Growing Pains dan Optimisme Bangsa
By Akhyari Hananto “What does not kill you will make you stronger (Apa saja yang tak berhasil membunuhmu, akan membuatmu jauh lebih kuat)”. Peribahasa tersebut rasanya cukup pas dikaitkan dengan kondisi dan berbagai hal yang terjadi di negeri kita. Tak bisa dipungkiri, bangsa ini telah melewati berbagai macam cobaan dan rintangan, mulai dari perebutan kemerdekaan, gonjang-ganjing di akhir era orde lama dan orde baru, sampai dengan era reformasi hingga sekarang. Orang-orang di luar sana seringkali bertanya kepada saya, dengan begitu majemuknya budaya dan suku di Indonesia, dan begitu terpencarnya mereka di pulau-pulau yang terpisah, bagaimana mungkin semuanya bisa disatukan dalam sebuah wadah bernama Negara Indonesia. Ketika era Orde Baru runtuh, banyak yang meprediksi bahwa Indonesia akan dilanda perang saudara, dan akhirnya terpisah-pisah menjadi beberapa Negara, seperti yang terjadi di Yugoslavia pada tahun 90-an. Konon kabarnya, masa itu Singapura dan Malaysia berencana untuk memindahkan kantor pusat Asean, dari Jakarta ke Singapura, atau Kuala Lumpur dengan pertimbangan Indonesia akan kacau balau. Tak ketinggalan, mereka (termasuk juga Australia) bersiap-siaga di perbatasan untuk mengantisipasi membanjirnya pengungsi dan pencari suaka dari Indonesia ke Negara-negara tersebut. Seperti tak ingin ketinggalan, para analis dan komentator dari dalam negeri menyatakan berbagai komentar dan analisa yg pesimistis tentang masa depan Indonesia, mengingat begitu kompleksnya masalah yang dihadapi bangsa ini. Tak cukup sampai di situ, media massa tanpa henti memberitakan berita-berita yang penuh dengan negatifisme, mulai dari perkelahian pelajar, tawuran antar kampong, demonstrasi anarkis, pembunuhan, perkosaan, pohon tumbang, kegagalan ini dan itu, dan sebagainya. Terlepas dari ada atau tidaknya kepentingan politik di pemberitaan-pemberitaan itu, kita perlu akui bahwa lambat laun kepercayaan diri dan optimisme kita terhadap masa depan bangsa Indonesia melemah dan luntur. Kegelisahan makin menjadi ketika banyak dari kita yang mulai membandingkan Indonesia dengan Negara-negara tetangga yang (seolah) makin maju saja, dan makin jauh meninggalkan Indonesia di belakang. Dan mudah ditebak, pemerintahlah yang menjadi bulan-bulanan dan terus disalahkan akan kondisi yang “terpuruk” ini. Ada yang salah dalam menilai kondisi bangsa saat ini, yang seolah-olah selalu digambarkan sebagai ‘supermarket’nya masalah, tidak aman, pemarah, anarkis, dan lain sebagainya. Sedikit sekali yang (berani) menggambarkan bahwa bangsa Indonesia mulai bangkit secara ekonomi, mulai diakui perannya di dunia internasional, dan banyak anak-anak bangsa yang berprestasi di dunia internasional. Bahwa tantangan dan kelemahan memang masih ada, namun sama sekali tidak fair (dan salah besar) mencap Indonesia sebagai Negara yang penuh dengan negatifisme, dan calon Negara gagal. Jeffery Sachs, seorang ekonom ternama AS dan Director of the Earth Institute di Columbia University, pernah menyatakan sebagai berikut : “It is not fair to compare Indonesia with its neighboring countries such as Singapore and Malaysia, or any other country in the world in that case. Indonesia has changed from a totally centralized country to a decentralized country virtually overnight. Indonesia has changed from a Dictatorship to a Democracy virtually overnight. Indonesia has changed to a liberal country virtually overnight. No other country has been through what Indonesia has been through virtually overnight. The closest example is the USSR. When the USSR split up, it experienced similar changes to what Indonesia had, virtually overnight. In that condition, Russia’s economy had a negative growth that year. In that same condition, Indonesia’s economy grew. It had positive growth. If I were an Indonesian, I would be proud of that achievement. And I would predict a much brighter future” (Tidak fair membandingkan Indonesia dengan tetangga-tetangganya seperti Malaysia atau Singapura, atau negara-negara lain. Indonesia telah berubah dari negara yang sentralistik total menjadi negara yang desentralistik dalam ‘semalam’ (drastic). Tidak ada satupun negara yang pernah mengalami hal serupa. Contoh terdekat adalah Uni Sovyet. Ketika Uni Sovyet pecah (menjadi Rusia), negara itu mengalami perubahan-perubahan yang hampir sama dengan yang dialami Indonesia, yakni berubah dalam ‘semalam’ (drastic). Bedanya adalah, masa itu pertumbuhan ekonomi Rusia negative, sementara pada kondisi yang sama, ekonomi Indonesia tumbuh positif. Kalau saya orang Indonesia, saya akan bangga atas pencapaian itu, dan saya memprediksi masa depan akan jauh lebih  cerah). Begitulah, ketika para ahli, komentator, dan media massa beramai-ramai mengulas kekurangan dan keburukan Indonesia, justru para ahli dan media di luar negeri begitu bersemangat dan optimis bahwa Indonesia akan menjadi negara yang besar. PriceWaterHouse & Coopers, Standard Chartered Bank, Goldman Sachs, dan institusi-institusi keuangan dunia yang lain bahkan menyebutkan bahwa Indonesia akan masuk dalam daftar 10 negara dengan ekonomi terbesar dunia menjelang pertengahan abad ini. Dan di dalam daftar negara-negara emerging market, saat ini Indonesia adalah negara yang paling ‘menarik’, bahkan lebih menarik dari negara yang selama ini menjadi tujuan investasi, yakni China dan India. Namun, optimism-optimisme itu masih ada di luar sana, di luar negeri. Dan sekali lagi, banyak dari kita di dalam negeri yang seringkali meremehkan kemampuan bangsa ini untuk memajukan Indonesia, agar bisa sejajar dengan negara-negara lain yang lebih dulu maju. Tentunya optimisme-optimisme tersebut tak banyak berarti kalau tidak ditularkan ke kita yang ada di dalam, optimism dan kepercayaan diri sebagai anggota bangsa Indonesia harus ditanam dalam-dalam di dada-dada kita. Yang perlu kita fahami adalah, Indonesia saat ini ada dalam fase “Growing Pains”, fase ketika gigi kita sedang mulai tumbuh, sakitnya luar biasa, atau fase di mana kupu-kupu bersakit-sakit keluar dari kepompongnya. Kita tidak boleh berhenti disini, kita harus tetap tumbuh dan bergerak ke depan, betapapun sakitnya. Dan untuk itu, kita perlu optimisme dan kepercayaan diri yang tinggi.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie