Lupa Sandi?
/ MSN

Tenaga Kerja Asing dan Bahasa Indonesia

Farah Fitriani Faruq
Farah Fitriani Faruq
0 Komentar
Tenaga Kerja Asing dan Bahasa Indonesia
Baru - baru ini ada kabar mengenai kebijakan pemerintah tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia wajib mahir berbahasa Indonesia. Sebagian masyarakat tentu menganggap kebijakan ini adalah kebijakan yang kurang 'bijak' karena disinyalir dapat mengurangi minat investor asing menanamkan modal disini. Bukankah bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan sudah cukup untuk bekerja di Indonesia? begitu seru mereka yang kontra. Sementara itu, sebagian masyarakat lain seperti saya, menyambut baik kebijakan ini. Mengapa? Kebijakan mengenai kewajiban berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing sebetulnya bukanlah cerita baru. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 12 tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing, pasal 26 ayat (1) huruf d (Permenaker 2013) menyebutkan bahwa salah satu persyaratan TKA bekerja di Indonesia adalah dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini belum dapat dijalankan dengan efektif karena belum ada peraturan lain yang khusus membahas pelaksanaan dan pengawasan mengenai TKA bisa berbahasa Indonesia. Akibatnya, hingga saat ini masih banyak sekali TKA yang telah bekerja di Indonesia tetapi tidak dapat berbicara bahasa Indonesia. Untuk itulah demi mengetatkan pelaksanaan peraturan ini, Kementerian Ketenagakerjaan sedang menggodok peraturan yang berkaitan dengan Permenaker 2013. Bentuk pengetatan tersebut adalah rencana untuk mengadakan Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia bagi TKA, yang akan membuat parameter yang jelas untuk mengukur kemampuan berbahasa Indonesia seorang TKA (hukumonline 2015). Sebagai seseorang yang bekerja di Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), saya pribadi menyambut baik kebijakan ini. Berikut alasan mengapa; 1. Perlunya menyaring TKA yang bekerja di Indonesia Mengacu data Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diterbitkan Kemenakertrans per Oktober 2014, jumlah TKA yang bekerja di Indonesia mencapai 64.604 orang, dengan posisi terbanyak berasal dari Tiongkok yaitu sekitar 15.341 orang (hukumonline 2015). Dari jumlah segitu, saya jamin tidak sampai setengahnya bisa berbahasa Indonesia. mengapa kita perlu menyaring TKA yang bekerja di Indonesia? karena terkadang perusahaan mempekerjakan TKA yang kompetensinya sebetulnya selevel dengan WNI. Meski pemerintah telah mengeluarkan daftar jabatan yang dilarang untuk TKA dengan adanya Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 40 tahun 2012 (Permenaker 2012), akan tetapi jumlah jabatan yang dilarang masih belum mencakupi semua jabatan yang bagi saya seharusnya tidak perlu diduduki oleh TKA. terkadang beberapa perusahaan malah menempatkan TKA tersebut di posisi yang tidak sesuai dengan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) nya. Bisa dibayangkan bukan, jumlah WNI berkualitas yang posisinya tergeser karena ada TKA? TKA TKA asal Tiongkok Keberadaan TKA memang baik karena sebagai negara berkembang, tidak dapat dipungkiri kita memerlukan TKA yang berkompetensi untuk dapat mengalihkan keahliannya kepada SDM Indonesia sehingga dapat menghasilkan SDM Indonesia yang berkualitas dan bertaraf internasional, dan bisa bersaing dengan masyarakat global. Akan tetapi transfer keahlian ini tidak akan bisa terlaksana dengan baik bila sang TKA bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Tentu, SDM Indonesia pun harus bisa berbahasa Inggris, akan tetapi bagaimana bilang sang TKA bahkan tidak bisa bahasa Inggris dan hanya bisa berbahasa Mandarin, misalnya? Bukankah akan semakin menyulitkan pengembangan diri SDM Indonesia yang bekerja di bawah arahan sang TKA? Bagi saya, ini merupakan upaya pemerintah yang sangat baik untuk menyaring TKA yang berkompetensi dan juga bisa berbahasa Indonesia. Dengan mewajibkan TKA bisa berbahasa Indonesia, Pemerintah saya yakini berharap agar posisi yang sebetulnya tidak dilarang untuk TKA tetapi dapat diduduki oleh WNI bisa semakin banyak diduduki oleh WNI yang berkualitas dan memiliki level yang sama. selain itu juga agar transfer ilmu mahal yang dibawa TKA dari negaranya dapat diterima dengan baik oleh SDM Indonesia. 2. Pentingnya bisa berbahasa Indonesia bagi orang asing Kewajiban berbahasa Indonesia bagi TKA sebetulnya hal yang amat sangat wajar dan ini dilakukan demi kebaikan sang TKA sendiri. saat saya menghadiri Sosialisasi PTSP Pusat di BKPM tentang Keimigrasian dan Ketenagakerjaan bulan Februari lalu, kebijakan ini sempat ditanyakan kebenarannya oleh salah seorang peserta sosialisasi kepada Direktur Pembinaan Tenaga Kerja Asing dari Kementerian Ketenagakerjaan yang menjadi narasumber, dan memang benar adanya akan ada Uji kompetensi berbahasa Indonesia bagi TKA. Hal ini disambut baik oleh banyak peserta sosialisasi yang pekerjaannya berhubungan langsung dengan TKA. mereka, seperti halnya saya, menyadari pentingnya bisa berbahasa Indonesia bagi orang asing. Kenapa? bule di bali Orang asing berinteraksi dengan guru tari Bali Saat seseorang pergi bekerja atau belajar ke suatu negara asing, hal apakah yang harus kita pelajari dahulu? tentu bahasanya. Bahasa itu nyawa suatu bangsa dan negara. dengan bahasa, kita jadi lebih dihargai oleh masyarakat negara tersebut, dan dapat beradaptasi dengan mudah. tidak percaya? pergilah ke Prancis dan tanya jalan ke orang Prancis menggunakan bahasa Inggris. pasti akan dijawab dengan bahasa Prancis. begitu pula ke Jepang atau Korea Selatan. semua ini sebetulnya sangat mudah dimengerti: ketika kita berada di suatu negara asing maka kita berada dalam kedaulatan negara tersebut. dan sebagai negara dan bangsa yang berdaulat tentu masyarakatnya berhak menggunakan bahasa mereka, meski kepada orang asing sekalipun. Begitupula di Indonesia, kita sebetulnya tidak salah bila kita berbahasa Indonesia kepada orang asing yang ada disini. hanya karena masyarakat kita ramah dan pintar pintar maka seringnya kita menyapa orang asing pakai bahasa Inggris. 'Hai mister...' kalo kata tukang becak saat ada orang asing lewat. Tukang becak dan bule kewajiban bisa berbahasa nasional suatu negara agar bisa bekerja disana diterapkan banyak negara lho, bukan cuma di Indonesia. Meski peraturannya tidak gamblang dijelaskan, kerja di Amerika tentu harus bisa bahasa Inggris. Kerja di Jepang juga akan lebih baik kalo bisa bahasa Jepang. Kerja di Cina akan sulit hidup sehari-harinya bila tidak bisa bahasa Mandarin. lalu mengapa kita mesti mengecualikan fakta bahwa kerja di Indonesia pun harus bisa bahasa Indonesia? toh demi kebaikan sang TKA juga. 3. Menambah lapangan kerja Kewajiban TKA bisa berbahasa Indonesia tanpa sadar menambah lowongan kerja untuk posisi paling cantik: Guru Bahasa Indonesia bagi orang Asing. Tanpa disadari sebetulnya permintaan menjadi guru bahasa Indonesia untuk TKA akan sangat bertambah karena ada kebijakan ini. entah menjadi guru bahasa Indonesia di negara asal sang TKA atau di Indonesia. hal ini tentu saja akan berdampak baik bagi masyarakat Indonesia. lalu apakah kewajiban ini tidak akan mengurangi minat investor untuk menanam modal di Indonesia? jangan khawatir, Indonesia ini negara yang kaya SDA maupun SDM nya. Terlalu banyak hal yang menguntungkan di Indonesia yang dapat mengalahkan kewajiban berbahasa Indonesia yang sebetulnya sangat dapat dimaklumi. tidak percaya? silakan datang ke BKPM dan cek berapa banyak perusahaan PMA yang ingin buka kantor disini setiap harinya. Jadi sebaiknya kita tidak skeptis dengan kebijakan pemerintah kali ini. apabila terlaksana dengan baik, maka ini dapat membuat bahasa Indonesia semakin mendunia. Tentu kita juga kan yang bangga? Penulis adalah konsultan hukum untuk perusahaan Jepang di Indonesia dan juga pengajar bahasa Indonesia untuk WN Jepang
Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FARAH FITRIANI FARUQ

life is too short to be negative. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Sumenep, Mistis di Ujung Madura

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Antara Manusia, Silat, dan Sang Harimau

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Produsen Udang Terbesar Kedua di Dunia

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Ilmuwan Indonesia dan Katak Misterius dari Sulawesi

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Berjaya di Amerika

Farah Fitriani Faruq3 tahun yang lalu

Si Kuat yang Akhirnya Merapat

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas