Minggu-minggu terakhir ini, Asia Tenggara disibukkan dengan terkatung-katungnya para pengungsi Rohingya yang terusir dari negaranya. Tak terbayangkan penderitaan mereka di tengah lautan, makanan yang sedikit, air yang terbatas, sanitasi yang tentu saja seadanya, dan tentu saja panas siang dan dingin malam yang .....sekali lagi, tak terbayangkan. Kita perlu berbangga terutama kepada rakyat dan pemerintah Aceh yang, meskipun bukan propinsi yang kaya, tapi bersedia menampung dan memberikan perawatan serta akomodasi kepada hampir 1000 pengungsi yang diselamatkan dari tengah lautan. Terima kasih sekali lagi kepada Aceh dan semua pihak yang telah menyelamatkan mereka.
"Manusia Perahu" dari Vietnam

Tak kali ini saja Indonesia menunjukkan hati emasnya. Tiga puluhan tahun lalu, hal yang sama terjadi...dengan skala yang jauh lebih besar. Itulah peristiwa ketika ratusan ribu penduduk Vietnam bagian selatan melarikan diri meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi ke negara lain pascaperang saudara di Vietnam sekitar 1980-an. Saat peristiwa itu terjadi, para pengungsi ini meninggalkan negaranya menggunakan perahu-perahu yang kondisinya memprihatinkan. Dalam satu perahu bisa ditempati 40-100 orang. Berbulan-bulan para pengungsi terombang-ambing di tengah perairan Laut Cina Selatan, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di tengah lautan dan sebagian lagi dapat mencapai daratan, termasuk wilayah Indonesia, seperti Pulau Galang dan Tanjung Pinang.
Kapal yang digunakan para manusia perahu, masih tersimpan di Pulau Galang

Gelombang pengungsi ini menarik perhatian Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Pemerintah Indonesia. Pulau Galang, tepatnya di Desa Sijantung, Kepulauan Riau, akhirnya disepakati untuk digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi. UNHCR dan Pemerintah Indonesia membangun berbagai fasilitas, seperti barak pengungsian, tempat ibadah, rumah sakit, dan sekolah, yang digunakan untuk memfasilitasi sekitar 250.000 pengungsi.
Sisa-sisa bangunan di Pulau Galang

Di tempat ini, para pengungsi Vietnam meneruskan hidupnya sepanjang tahun 1979-1996, hingga akhirnya mereka mendapat suaka di negara-negara maju yang mau menerima mereka ataupun dipulangkan ke Vietnam. Para pengungsi ini dikonsentrasikan di satu permukiman seluas 80 hektar dan tertutup interaksinya dengan penduduk setempat. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan, pengaturan, penjagaan keamanan, sekaligus untuk menghindari penyebaran penyakit kelamin Vietnam Rose yang dibawa oleh para pengungsi ini.   Perahu-perahu mereka pertama kali ditemukan di Kepulauan Tujuh (di Kepulauan Anambas) oleh para pengebor minyak. Sebanyak 75 orang berdesak-desakkan di dalam satu perahu, anak-anak tidur dengan posisi meringkuk, sebagian penumpang dewasa terpaksa harus berdiri. Keadaan mereka tak lagi baik usai mengarungi lautan berhari-hari. Setelah itu perahu demi perahu pun menambat, membawa ribuan pengungsi yang berharap banyak mendapatkan perlindungan di Indonesia. “Manusia Perahu,” kemudian julukan itu melekat. Manusia Perahu berlayar memencar ke seluruh wilayah Kepulauan Riau (saat itu masih Riau), sehingga Pemerintah Indonesia harus mencari langkah selanjutnya untuk menampung mereka. Dengan menggandeng United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR),organisasi PBB yang menangani pengungsian, Indonesia berhasil membuat kesepakatan untuk menempatkan mereka di suatu wilayah. Saat itu kamp pertama dibangun di Anambas, sebelum pada akhirnya dibuat kesepakatan lagi pada 1979 untuk menempatkan mereka di Pulau Galang karena jumlah pengungsi yang semakin meluap. Pulau Galang terletak di Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dipilih karena dinilai terisolir, strategis, serta masih memiliki sedikit penduduk sehingga mudah dideportasi. Tidak hanya barak-barak yang dibangun, namun juga fasilitas-fasillitas seperti rumah sakit, tempat ibadah, makam, bahkan penjara untuk membina orang-orang yang melakukan tindak kriminal. Semua biaya untuk pembangunan pulau dibiayai oleh PBB. Lalu Kamp Pulau Galang diresmikan pada Januari 1980 oleh Mantan Presiden Soeharto atas dasar rasa kemanusiaan. Selama belasan tahun tak ada satu pun warga Indonesia yang boleh menyentuh pulau ini kecuali para petugas. Para pengungsi menjalani kehidupan seperti sedia kala, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa vietnam dan bahasa inggris. Jumlah pengungsi pun masih terus bertambah hingga mencapai angka 250 ribu jiwa. Mereka ingin menyelamatkan diri hingga mencari suaka, dan yang bernasib baiklah yang bisa sampai di sini. Perjalanan Manusia Perahu sebagai pengungsi berakhir pada 1996 ketika Vietnam sudah kembali kondusif. Sebagian dari mereka kembali ke Vietnam, sebagian lagi dikirim ke luar negeri untuk bekerja usai dibekali pendidikan bahasa inggris dan bahasa perancis. Jejak dan segenap cerita dari Manusia Perahu tetap abadi di Pulau Galang. Siapapun yang singgah di sini, pasti akan terbawa oleh suasana haru atas perjalanan panjang yang dihabiskan mereka di negeri orang bersama keluarga yang masih. Atas kegigihan Pemerintah Indonesia beserta PBB pula, kamp di Pulau Galang dinobatkan sebagai kamp terbaik dibanding kamp-kamp di Asia Tenggara lainnya yang ketika itu juga menampung Manusia Perahu dari Vietnam. Disadur dari Indonesia.travel dan Kompas.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu