Lupa Sandi?

Pernah Lihat Batik Kwalik dari Jogja ?

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Pernah Lihat Batik Kwalik dari Jogja ?
Pernah Lihat Batik Kwalik dari Jogja ?
Batik tak hanya menjadi bentuk komoditi di bidang tekstil. Kain beragam warna motif yang apik tersebut, juga bisa hadir sebagai sebuah karya seni. Terutama karya seni yang dipamerkan layaknya sebuah lukisan. Ini tergambar dalam pameran Batik Tanpa Batas di Jogja Gallery. Batik beraneka motif terpampang di seluruh dinding Jogja Gallery. Batik ini merupakan karya dari Budi Suryanto, seorang perajin batik. Teknik yang digunakan dalam menghasilkan selembar batik tergolong unik. Dirinya mengusung teknik ciptaannya sendiri yaitu batik kwalik.
Batik beraneka motif karya perajin batik Budi Suryanto yang dipamerkan di Jogja Gallery (DWI AGUS/Radar Jogja)

“Sudah 30 tahun menekuni dunia batik sebagai bagian dari hidup. Untuk teknik, saya kembangkan sendiri. Catnya saya buat sendiri, terus tekniknya pakai batik kwalik. Saya ingin lebih bebas dalam menorehkan canting ke kain,” ungkapnya. Dalam menciptkan karya, Budi memiliki pandangan yang unik. Seperti menorehkan cat secara leluasa dan terkesan bebas dan dinamis. Sehingga dirinya seakan-akan menari menggunakan canting di atas kain polos. Untuk mewujudkan idenya tersebut, Budi memiliki subjek karya tersendiri. Di beberapa karyanya, subjek seperti kereta api, kutu, binatang laut, binatang darat dan fauna, terpampang secara jelas. Bahkan dalam sebuah kain besar, dirinya ingin bercerita dengan beberapa subjek di dalamnya. “Selama menggeluti dunia ini, saya menemukan sebuah jawaban. Di mana membiarkan diri saya sendiri untuk memilih jalannya. Membebaskan diri untuk menemukan ritme diri dan rasa kebatinan,” ungkapnya. Teknik canting yang digunakan Budi berbeda dari umumnya. Jika biasanya canting keluar lilin, dengan teknik ini justru keluar warna. Sehingga tahap pengerjaannya dapat langsung diwarnai sesuai keinginannya. Budi mengibaratkan hal ini seperti melukis. Bedanya tidak menggunakan kuas, tapi canting. Tentu saja ada tantangan tersendiri untuk mewujudkan ide yang tidak biasa ini. Terutama alat yang digunakan tidak memiliki tekstur layaknya kuas. “Memang susah, tapi jika sudah terbiasa membatik perlahan pasti bisa. Tentu saja tetap mengedepankan kesabaran dalam mewujudkan karya. Beda tekanan, menghasilkan tektur warna yang berbeda pula,” ungkapnya. Melalui teknik ini, dirinya ingin merubah paradigma lawas. Bahwa membatik itu hanya milik orangtua dan membosankan. Padahal dengan pengembangan, batik juga dapat bersanding dengan kebutuhan fesyen saat ini. “Cara membatik bisa dikembangkan, sehingga menghapus stigma cara yang begitu-begitu saja. Tergantung dari diri sendiri untuk melestarikan dengan cara yang seperti apa. Tentunya tetap berkreasi dan terbuka akan sebuah perubahan,” pungkasnya. (dwi/jko/ong)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara