\mn,Saya pernah mengalami masa kecil yang indah di sebuah pedesaan yang hijau dan dingin di kaki gunung Merapi. Salah satu yang paling membuat saya mengenangnya adalah masa-masa bulan puasa yang selalu membawa cerita. Alkisah, saya dan puluhan kawan-kawan sebaya harus berjalan menjauhi pemukiman penduduk, dengan membawa selongsong bambu yang sudah dilubangi, dengan hanya menyisakan satu 'palka' di ujung. Yap,,kami ingin bermain 'Long", meriam bambu khas nusantara yang dijamin akan membuat seisi kampung gempar. Namun waktu itu kamu beruntung karena kampung kami dikelilingi persawahan beratus-ratus hektar, dan sengaja kami membawa long jauh-jauh dari kampung. Duh...langsung ingin pulang ke Jogja. Meriam bambu tidak se-berbahaya seperti petasan, sebab meriam bambu ini bahan bakarnya hanya menggunakan minyak tanah. Selain itu permainan ini murah meriah tidak seperti petasan yang harganya puluhan ribu rupiah. Namun tetap saja, memaikannya harus extra hati-hati. Hingga kini, kebiasaan permainan meriam bambu ini rutin dilakukan oleh anak-anak desa di sore hari sambil menunggu tibanya buka puasa. Di Aceh dan Flores, meriam bambu malah dipergunakan untuk menandai kelahiran anak, atau menyambut hari-hari besar. Di Minangkabau, terutama di kawasan pedesaan, meriam bambu amat sering terdengar pada bulan puasa, mereka melakukannya di pinggir-pinggir sungai, di Gorontalo meriam bambu berdentam bersahutan menjelang ....sahur..haha. Hal ini berlangsung sejak dahulu sebab permainan ini tergolong permainan tradisional anak pedesaan. Menjelang azan magrib dan hendak masuk buka puasa, anak-anak yang bermain meriam bambu pulang ke rumah masing-masing. Terima kasih, masa kecilku.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu