Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat mengambil alih pengelolaan Rumah Mutiara Indonesia, yang kini satu-satunya di Indonesia. Setelah lebih setahun kurang maksimal karena belum menjadi destinasi wisata belanja, Dinas Kebudayaan mendukung pengelolaannya sebagai salah satu obyek wisata belanja. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Lalu Moh. Faozal, pengelolaan Rumah Mutiara akan diserahkan kepada manajemen yang profesional. Layanan akan dibenahi termasuk sebagai rest area jalur wisata pantai selatan Lombok Tengah-Mataram yang lokasinya berada di seberang selatan pintu gerbang Bandara Internasional Lombok (BIL). "Kami menyiapkan fasilitas layanan check-in dan kantin serta bus gratis ke Bandara," kata Faozal kepada Tempo, Ahad 12 Juli 2015. Lembaganya sudah memperoleh bantuan satu unit bus untuk keperluan layanan antar jemput ke Bandara dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pengelola Rumah Mutiara pun sudah mendapat fasilitas bebas pajak selama setahun. Pengelola Rumah Mutiara, Ismail, menjelaskan selama ini RMI menjadi satu dari enam rumah mutiara di dunia, antara lain Australia, Filipina, Hong Kong, Jepang, dan Cina. Namun, Lombok belum maksimal disinggahi wisatawan. Hanya tamu dari dinas setempat yang diarahkan berkunjung dan belanja. Selama enam bulan 2014 transaksi tercatat Rp 85,5 juta. Bulan ini transaksi baru Rp 6,5 juta. Di sana ada 13 pengusaha yang memperoleh kesempatan menggelar dagangannya. Namun karena kurang pengunjung, sebagian tidak aktif datang. Rima Istihara dari Lombok NTB Pearl mengatakan selama ini tokonya sepi sehingga lebih banyak menjual perhiasan mutiara di galeri di rumah kakaknya Riana Meilia di Kota Mataram. "Kami berharap Disbudpar lebih meningkatkan promosi kepada wisatawan." Nia Amelya dari Niwa Lombok Pearls juga meminta Dinas Kebudayaan meluaskan promosi keberadaan RMI. "Untuk meningkatkan pembeli, hendaknya pemandu wisata tidak meminta komisi yang tinggi," ucapnya. Di sana mereka sepakat memberika komisi 15 persen kepada para pemandu wisata. Selama ini para pengusaha mutiara menerapkan komisi hingga 40 persen dari harga agar disinggahi biro perjalanan yang membawa tamunya. Niwa menjual mutiara kelas super (A3) seharga Rp 2-5 juta per gram, kelas Excellent (A2) seharga Rp 1-3 juta per gram, dan kelas good (A1) seharga Rp 300 – Rp 1 juta pergram. Kebanyakan pembelanja mutiara di NTB memilih cincin berbahan emas seharga Rp 2,5 juta, Rp 5 juta bahkan Rp 20 juta. Tetapi jika non-emas harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Di NTB ada 13 perusahaan budi daya mutiara yang menghasilkan South Sea Pearls. Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Joko Suprianto menjelaskan rata-rata ekspor mutiara NTB mencapai 661.609 gram senilai US$ 9,7 juta. Adapun RMI diserahkan oleh Menteri Negara Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo ( waktu itu) 19 Februari 2014. Bangunan itu didirikan menggunakan anggaran Kementerian Kelautan sebesar Rp 4,3 miliar di atas lahan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah seluas 4.740,68 meter persegi. Bangunan terdiri atas dua lantai yang keseluruhannya seluas 1.054 meter persegi. Lantai pertama untuk promosi dan informasi pemasaran sedangkan lantai dua untuk pelelangan yang diharapkan dalam setahun bisa terselenggara 3-5 kali. SUPRIYANTHO KHAFID - Tempo.co

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu