Torehan prestasi diukir atlet Indonesia di ajang 8 th Asia Pasific Deaf Games 2015 yang digelar di Taoyuan, Taiwan.Di Kejuaraan yang diikuti 26 negara khusus atlet tuna rungu tersebut, Indonesia menempati peringkat 6 usai merebut tiga medali ema dan dua medali perak. Ini adalah sejarah pertama tim Merah Putih mampu merebut medali emas di Asia Pasific Deaf Games. Lebih mencengangkan, tiga emas tersebut justru direbut oleh seorang atlet renang bernama Ilham A. Turmudzi. Perenang tuna rungu berusia 17 tahun itu berhasil menaikkan bendera Merah Putih sekaligus mengumandangkan lagu Indonesia Raya berkat keperkasaannya di nomor 50 meter gaya dada, 100 meter gaya dada dan 200 meter gaya dada. Ilham juga masih mampu menyumbang perak di nomor 100 meter gaya kupu-kupu. deaf games 2015 Kehebatan Indonesia masih ditambah dengan 1 medali perak lagi dari Ronald Riadi dari nomor 50 meter gaya punggung. Kadisorda DKI Jakarta, Drs H. Firmansyah, MPd yang langsung ikut menyaksikan pertandingan di Taiwan sangat mengapresiasi prestasi yang ditorehkan kontingen DKI Jakarta yang sekaligus mewakili Indonesia itu. "Kita hanya mengirim 3 atlet, tapi mampu merebut 3 emas dan 2 perak. Padahal negara lain seperti Malaysia mengirim 30 atlet, tapi ngga dapat emas," ujar Firmansyah saat menyambut rombongan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Selasa (13/10) semalam. Tuan rumah Taiwan menempati urutan pertama, disusul Jepang, Tiongkok, Korea, Iran dan Indonesia. "Dari 26 negara yang ikut, kita mampu menempati posisi enam besar. Padahal di tujuh gelaran sebelumnya, kita belum pernah meraih medali emas," urainya. deaf games Dengan keberhasilan tersebut, Firmansyah juga mengharapkan kepada para orang tua yang kebetulan memiliki keterbatasan fisik, agar terus memberikan dorongan motivasi bagi anak untuk bisa berprestasi. "Termasuk juga kepada para sekolah-sekolah luar biasa dan organisasi Porturin di DKI, jangan pernah berhenti untuk melakukan pembinaan kepada mereka. Sekarang kesempatan untuk berprestasi dan menjadi pahlawan olahraga sama haknya dengan atlet normal," tambah Firmansyah. Sementara itu Kepala Seksi Olahraga Atlet Berkebutuhan Khusus Disorda, Faisal Norman, SE ikut menambahkan, bahwa ke depan menurutnya, frekuensi kejuaraan khusus atlet berkebutuhan khusus akan ditingkatkan lagi. Ini dengan tujuan agar mampu memberikan kesempatan yang besar untuk mengasah kemampuan, pengalaman dan berprestasi. Iman Rahman Cahyadi / Beritasatu.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu