Lupa Sandi?

LIPI Berhasil Mengubah Air Tambang Menjadi Air Bersih

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
LIPI Berhasil Mengubah Air Tambang Menjadi Air Bersih
LIPI saat ini masih menjadi pihak yang berada di garis depan untuk aktifitas penelitian dan penemuan inovasi-inovasi baru ilmu pengetahuan. Banyak penemuan dan karya LIPI yang akhirnya dapat banyak digunakan untuk masyarakat Indonesia . Baru-baru ini para ilmuwan dari LIPI berhasil mengolah air kolong dari sisa-sisa pertambangan yang selama ini menjadi sumber air bagi masyarakat di Pulau Bangka Belitung menjadi air bersih dan layak konsumsi. Aktivitas penambangan timah di Pulau Bangka Belitung telah mengubah wajah daratan pulau tersebut menjadi danau-danau sisa galian tambang yang terbuka. Di sisi lain, jenis tanah kering yang mendominasi daerah Kepulauan Bangka Belitung (Babel) juga memengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau seperti saat ini. Pasalnya, sebagian besar air sumur, air tanah, dan air sungai di kawasan tersebut mengalami kekeringan.
Illustrasi: Sungai Bersih Illustrasi: Sungai Bersih

Keterbatasan akses air bersih itulah yang akhirnya mendorong masyarakat setempat terpaksa menjadikan air kolong sebagai sumber air baku andalan untuk kebutuhan sehari-hari. Sayangnya, ditinjau dari sisi kimia, bologi, dan fisika dan air kolong tidak memenuhi standar baku mutu air yang layak konsumsi. Pembukaan lapisan tanah dalam proses penambangan telah membuat mineral di dajam tanah terbuka. Akibatnya terjadi oksidasi mineral sulfida (pirit-FeS2) yang membawa kandungan-kandungan logam berat berbahaya, seperti timah hitam (Pb), seng(Zn), bahkan arsenik. Berlatar belakang kondisi tersebut, para peneliti dari Pusat Meteorologi Lembaga Hmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan rangkaian penelitian mengolah air kolong menjadi air bersih dan air minum untuk mencukupi kebutuhan air besih warga di Kepulauan Babel. Veny Luvita, dari Pusat Penelitian Meteorologi LIPI yang tergabung dalam tim penelitian mengatakan riset yang dilakukan di danau-danau sisa lambang tersebut sudah dilakukan sejak lama. Selain untuk mengetahui karakteristik, termasuk pemanfaatan air danau sisa tambang, tim peneliti juga merancang penggunaan teknologi tepat guna untuk mengolah air kolong agar bisa dimanfaatkan oleh warga. "Pendekatan dalam penanganan persoalan ketahanan air di masing-masing daerah tentu berbeda-beda. Hal itu sangat bergantung pada kondisi dan kekhasan yang ada di daerah tersebut," kata Veny dalam acara talkshow tentang "Ketahanan Air" di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam kasus di Kepulauan Babel, yang diperlukan adalah bagaimana caranya mengubah air kolong yang menjadi sumber air bagi warga selama ini menjadi air dengan baku mutu yang layak konsumsi. Pada prinsipnya, proses pengolahan air kolong menjadi air bersih dan air minum adalah memurnikan konsentrasi logam-logam berbahaya yang terkandung di dalam air kolong, termasuk pula proses penyeimbangan PH (derajat keasaman) air yang diperlukan untuk memenuhi standar kelayakan air. Dari riset awal yang dilakukan, air kolong diketahui memiliki derajat keasaman yang sangat rendah, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Derajat keasaman air kolong berkisar 2 hingga 5. "Kami menggunakan pendekatan hidrologi karena air tersusun atas hidrogen melalui alat EFT atau disebut juga dengan resonansi magnetik," terang Veny. Setelah menyeimbangkan pH air, tahap selanjutnya dari pemrosesan air kolong adalah melalaikan proses oksidasi melalui advance oxidation process. "Untuk katalisnya kami melakukan pengembangan dan penelitian, namun kemungkinan titanium dioksida atau bisa juga senyawa lainnya," tambah Veny. Sebagai uji coba teknologi, sudah dilakukan kerja sama dengan perusaliaan daerah air minum (PDAM) setempat. Rencananya mulai tahun depan, teknologi tersebut akan digunakan oleh PDAM untuk mengolah air kolong dan menyalurkan air bersih kepada masyarakat di Kepulauan Babel. "Untuk sementara air bersih dari hasil pengolahan air kolong disalurkan ke ruang-ruang publik, seperti ke kelurahan dan sekolah-sekolah," ujar dia. Untuk sementara, pemanfaatan teknologi itu baru sebatas pada penggunaan dalam skala besar. Namun, ke depan aplikasi teknologi dalam pengolahan air kolong juga bisa dikembangkan menjadi alat-alat di rumah tangga, ataupun bahkan serupa peralatan yang bisa dibawa kemanapun. lipi.go.id
Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata