Lupa Sandi?

Kontainer Lipat, Karya Revolusioner Mahasiswa Indonesia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Kontainer Lipat, Karya Revolusioner Mahasiswa Indonesia
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengharumkan almamaternya di kancah nasional. Kali ini, prestasi yang diraih berasal dari bidang transportasi. Adalah Latama Rizky Ramadhan, mahasiswa Jurusan Transportasi Laut yang menjuarai lomba penelitian transportasi nasional Adi Cipta Wahana Nusantara Award 2015 di Jakarta.
Mengusung makalah dengan judul Optimalisasi Biaya Logistik dalam Imbalance Cargo Market dengan Peti Kemas Lipat, ia berhasil menyabet predikat sebagai juara satu. "Kompetisi ini diadakan langsung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Perhubungan," tuturnya.


Ilustrasi

Tama sengaja mengambil studi kasus pada rute angkut Surabaya-Ambon. Pasalnya, data yang diperoleh Tama menunjukkan selisih muatan kontainer yang mencapai 29 persen. "Misalnya ada 100 kontainer menuju Ambon, nanti ketika kembali hanya sisa 70 kontainer," jelasnya.

Terdapat tiga kemungkinan yang ia prediksi tentang hal ini. "Kemungkinannya antara kontainer dibiarkan di Ambon atau dibawa kosongan ke Surabaya. Bisa juga dibuang ke pelabuhan lain," tutur mahasiswa yang memiliki hobi bermain billiard ini.
Dari data tersebut, ia menyimpulkan ternyata banyak kontainer kosong yang dari jalur Indonesia Timur ke Barat. Padahal, biaya akomodasi kontainer yang kosong hampir sama dengan kontainer isi.
Untuk itulah Tama sengaja membuat konsep kontainer lipat. Dari segi finansial, biaya logistik yang dikeluarkan dapat ditekan hingga mencapai Rp 1,3 juta per teu (20 foot equivalen unit) atau Rp 3 milyar per tahun.
Dengan konsep ini, kontainer kosong sebanyak empat unit dapat dilipat menjadi satu ukuran kontainer. "Jadi bisa menghemat ruang di dalam kapal sebesar 25 persen," tegas mahasiswa asal Jombang ini.
Ia menambahkan, selain hemat tempat kontainer lipat juga bisa meningkatkan keselamatan karena titik berat muatan yang lebih rendah. Pasalnya, kontainer kosong butuh tumpukan yang tinggi. "Kalau dilipat, titik gravitasinya lebih rendah dan stabilitasnya lebih bagus serta cocok untuk mendukung program tol laut," ujarnya.

Tama mengaku konsep yang ia bawakan sebenarnya sudah mulai diterapkan di Belanda dan Amerika Serikat, hanya saja belum sampai diproduksi secara massal.

Sementara itu, inovasi yang dilakukan oleh Tama terletak pada perbedaan teknis pelipatan kontainer. "Kalau di Belanda dan Amerika butuh Harbour Mobile Crane (HMG), sedangkan di Indonesia cukup dengan forklift saja karena tidak punya HMG," jelas mahasiswa angkatan 2010 ini.
Ia cukup yakin hasil penelitiannya mampu diaplikasikan di Indonesia. "Kendalanya mungkin dari sumber daya manusia kita sendiri. Siap tidak mengaplikasikan teknologi baru ini?" selorohnya.
Sejak awal, Tama memang tidak terlalu berharap menjadi juara. "Saingannya susah-susah, jurinya juga orang dari pelaku industrinya langsung. Saya cuma ingin tugas yang saya kerjakan dulu bisa bermanfaat," ujar mahasiswa yang sedang sibuk mengerjakan tugas akhir ini.
Bahkan ia menyatakan sebelumnya tidak pernah mendengar ada perlombaan semacam ini di Indonesia. "Baru tahu tahun ini. Kebetulan tugas yang saya buat dulu sesuai dengan tema yang ditentukan. Setelah coba diikutkan, ternyata lolos," ungkapnya.
Tama berharap buah pemikirannya ini bisa segera direalisasikan dan tidak berakhir menjadi wacana saja. Bahkan ia ingin mahasiswa ITS bisa mengikuti jejaknya. "ITS sudah sering juara di tingkat nasional maupun internasional. Yang terpenting, bagaimana hasil karyamu bisa berguna untuk masyarakat," tegasnya.
Menteri Perhubungan Siap Mematenkan
Tak hanya memenangkan lomba, hasil penelitian Tama berhasil menarik perhatian Menteri Perhubungan Indonesia Ignasius Jonan. Bahkan, Jonan tak segan menyampaikan niatannya secara langsung kepada Tama mengenai rencana untuk mematenkan hasil penelitiannya.

Berdasarkan pengakuan Tama, hal yang mampu membuat Jonan kepincut adalah konsep kontainer lipat yang aplikatif serta mudah diterapkan di Indonesia. "Analisis yang disampaikan dalam penelitian saya juga sudah meliputi aspek operasional dan finansial," pungkasnya sambil tersenyum. (fah/pus)

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih22%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli11%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau11%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie