Lupa Sandi?

Kaghati, Layang-Layang dari Pulau Muna "Tertua di Dunia"

Asrari Puadi
Asrari Puadi
0 Komentar
Kaghati, Layang-Layang dari Pulau Muna
Layang-layang, sebuah identitas dan kekayaan budaya Indonesia yang hampir setiap orang mengenalnya. Di Desa Mabolu yang terletak di Pulau Muna Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat layang-layang yang usianya mencapai 4000 tahun bernama“Kaghati Kolope”. Kaghati Kolope adalah sebuah layang-layang legendaris yang ada di pulau Mina. Bahkan, layang-layang ini telah membuat bangga negara Indonesia. Dibuat langsung oleh tangan nenek moyang dari daun kolope sehingga memiliki nilai sejarah tinggi. Tak heran jika layang-layang ini berulang kali menjuarai Festival Layang-Layang Internasional. Menurut penelitian, permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4.000 tahun lalu. Di dalam Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori tergambar seseorang sedang bermain layang-layang di dinding batunya dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dengan getah pohon). Diyakini jika Kaghati Kolope merupakan layang-layang pertama yang ada di dunia, seperti dikutip dari Indonesiatravel. Menurut cerita turun temurun masyarakat Liang Kabori di Pulau Muna bahwa layang-layang adalah permainan petani pada masa lalu dimana mereka menjaga kebun sambil bermain layang-layang. Masyarakat Pulau Muna juga percaya bahwa layang-layang berfungsi sebagai payung yang akan menjaga pemiliknya dari sengatan sinar Matahari bila ia meninggal dunia. Ketika si pemilik ini meninggal, ia berpulang dengan berpegangan pada tali layangan dan bernaung di bawah layang-layang tersebut.
Pilih BanggaBangga86%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ASRARI PUADI

Mamut Menteng Ureh Utusku. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara