Pelabuhan Barus, Tapanuli dikenal mulai tahun 627 SM

Pelabuhan Barus, Tapanuli dikenal mulai tahun 627 SM

Pelabuhan Barus, Tapanuli dikenal mulai tahun 627 SM

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pelabuhan kecil Barus, yang terletak di pantai barat laut provinsi Sumatera Utara menghadap ke Samudra Hindia yang luas, pernah menjadi eksportir utama Kamper (kapur barus) dan kamper kayu dunia. Begitu banyak sehingga bahkan sampai hari ini kata kamper dalam bahasa Indonesia kapur barus yang berarti kapur dari Barus. Saat ini, meskipun Barus merupakan pelabuhan antar pulau yang sepi dan hanya melayani perahu tradisional yang membawa barang dan barang dagangan ke Nias di Samudera Hindia, Aceh utara dan Sumatera Barat dan Minangkabau ke selatan. Masa keemasan yang sudah lewat ketika kapal dari India, Arab, Persia dan China yang digunakan untuk berlayar berbondong-bondong untuk berlabuh di sini untuk mencari kamper berkualitas dan berharg atinggi serta rempah-rempah lainnya yang sangat dicari di seluruh India dan Timur Tengah. image Sejak abad-abad awal Masehi, Barus adalah terkenal dengan kamper dan kamper kayu yang sayangnya saat ini memiliki semuanya menghilang kecuali namanya. Namanya disebut-sebut dalam banyak bahasa dari bahasa Yunani, Armenia, Arab, India, Tamil, Cina, Melayu Jawa. Setelah orang-orang Arab, disusul SriLanka dan kemudian orang-orang Spanyol, Inggris dan Belanda. Hal ini tidak mengherankan bahwa Anda akan menemukan pelabuhan Barus yang kosmopolitan, di mana penduduk asli Batak hidup harmoni dengan pendatang dari Jawa, Minangkabau, Cina, India dan Arab. image Kamper alami berasal dari pohon kamper (Cinnamomum camphora), yang pada abad ke-13 yang digunakan di India dan seluruh dunia Muslim. Di Saudi itu digunakan untuk rasa teh, sebagai bumbu masakan utama makanan penutup. Kamper juga digunakan sebagai obat terhadap pembengkakan dan peradangan, dan masih digunakan dalam minyak esensial untuk aromaterapi. Di India digunakan untuk dupa, rempah-rempah kuliner, obat-obatan, dan obat nyamuk. Kamper (kapur barus) berwarna keputihan, tembus, cairan ekstraksi kering kristal dari pohon kamper. Kamper adalah pohon cemara yang tumbuh sampai 20 m atau 30 m. Daunnya mengkilap dan lilin, dan memiliki bau yang berbeda dari kamper. Cerita kuno disebutkan bahwa antara 627-643 SM, pedagang dari negara-negara Timur Tengah biasanya berlayar ke Barus. Ini tidak mengherankan bahwa Barus merupakan pintu masuk pertama dari mana Islam tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Tulisan-tulisan sejarah lain menyebutkan bahwa Dinasti Sailendra Thailand pernah menaklukkan Barus. Marco Polo dan sejarawan Muslim yang legendaris, Ibnu Battuta, dikenal juga menginjakkan kaki di Barus. Sebagai bukti zaman keemasan adalah banyaknya kuburan Islam tua, seperti makam Mahligai, situs kuno Tuanku Pinago dan makam Tuanku Kinali yang hanya beberapa saksi bisu dari orang-orang masa keemasan lama berlalu. Ada juga sebuah situs kuno di Karang Pulau dengan pantai Barus, tetapi kita harus menyeberang melalui hutan mangrove untuk mencapainya. Di antara semuanya, yang paling banyak dikunjungi adalah makam Papan Tinggi. Terletak sekitar 153 meter di atas permukaan laut, ini adalah sebuah makam yang indah di sebuah bukit dengan latar belakang panorama di Samudera Hindia. Makam di sini adalah khusus yang memiliki panjang 9 meter dengan tinggi batu nisan1,5 meter. Sumber: http://www.pedomanwisata.com/wisata-sejarah/desa-tradisional/pelabuhan-barus-sumber-utama-kamper-kapur-barus-di-dunia-zaman-dulu

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih11%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Indonesia Raih tiga Nominasi Penghargaan Pariwisata PBB Sebelummnya

Indonesia Raih tiga Nominasi Penghargaan Pariwisata PBB

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi Selanjutnya

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi

Babah Boim

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.