Lupa Sandi?

Siapa Sangka, inilah Salah Satu Inspirator Jepang Hingga Mampu masuk Piala Dunia

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Siapa Sangka, inilah Salah Satu Inspirator Jepang Hingga Mampu masuk Piala Dunia

Alihkan perjalanan ingatan Anda ke tahun 2002. Nama “Captain Tsubasa” akan berserakan memenuhi sampul VCD bajakan yang dijual di emperan. Anime ini berkisah tentang seorang anak yang berjuang untuk menjadi pesepakbola terbaik dunia. Ya, ini kisah tentang Tsubasa Ozora. Rasanya sulit untuk tidak menyebut anime Captain Tsubasa sebagai anime bertema sepakbola terbaik saat ini. Meskipun banyak anime dengan cerita serupa dengan teknologi yang jauh lebih baik, tapi Captain Tsubasa tidak lagi dianggap sebagai cerita. Ia adalah tonggak kemajuan prestasi Jepang di sepakbola. Ia adalah Yoichi Takahashi, kreator manga Captain Tsubasa pada 1981. Manga tersebut diterima secara luas oleh masyarakat Jepang.

Pada 1983, anime Captain Tsubasa pun mengudara di Animax dan TV Tokyo. Seri kedua anime Captain Tsubasa disiarkan pada 1994, sedangkan seri ketiganya dirilis pada 2002. Apa sebenarnya pengaruh anime Captain Tsubasa pada prestasi sepakbola Jepang?

Menuai Prestasi

Hingga 1988 sepakbola Jepang bukanlah ancaman di Asia. Memang, mereka pernah meraih medali perunggu pada Olimpiade 1968 di Meksiko, tapi itu sudah terlalu lama. Sepanjang penyelenggaraan Piala Asia, tim Samurai Biru selalu gagal dalam kualifikasi, ataupun tidak ambil bagian. Baru pada 1988 mereka masuk Piala Asia yang digelar di Qatar dengan tiga kali kekalahan dan satu kali seri. Empat tahun kemudian, Jepang dipercaya untuk menjadi tuan rumah Piala Asia. Di kandang sendiri, mereka menjadi juara. Bagaimana bisa?

Baca Juga

Pada seri pertama anime Captain Tsubasa, terlihat bagaimana Federasi Sepakbola Jepang, JFA, begitu serius mengembangkan para pemain muda. Mereka mulai membuat kompetisi antar SD, SMP, dan SMA.

Dari anime tersebut terlihat bagaimana persiapan dilakukan begitu detail dan meriah. Sejumlah tim mewakili setiap daerah di Jepang, dengan jagoannya masing-masing. Mereka adu kemampuan dengan kebanggaan “atas nama daerah” dan “demi Jepang”. Sembilan tahun setelah anime tersebut disiarkan, Jepang menjadi juara Asia. Enam tahun berselang, mereka lolos untuk pertama kali ke Piala Dunia. Ada apa gerangan? Kebutuhan Berprestasi Tidak kah Anda berpikir bahwa skuat peraih juara Piala Asia 1992, adalah generasi pembaca manga, dan penonton komik Captain Tsubasa? Dari 20 pemain, 19 di antaranya berusia di bawah 32 tahun, dan 13 di antaranya berusia di bawah 26 tahun. Artinya, saat anime Captain Tsubasa disiarkan, mereka masih berusia di bawah 16 tahun, dan sangat mungkin terpapar pengaruh Tsubasa.  

Psikolog Amerika, David McClelland, menyatakan setidaknya ada tiga hal yang membuat seseorang termotivasi. The Need for Achievement (N-Ach), The Need for Power (N-Pow), dan The Need for Affiliation (N-Aff). Nah, apa yang terjadi di Jepang ini adalah bagian dari kebutuhan akan prestasi atau penghargaan alias N-Ach. Orang dengan N-Ach tinggi biasanya selalu ingin menghadapi tantangan baru untuk mendapatkan pujian dan imbalan atas kesuksesan yang telah dicapai. Anime Captain Tsubasa menjadi pelecut bagi anak-anak di Jepang pada masa itu untuk berprestasi. Dengan tajuk “Demi Jepang”, usaha keras tersebut secara jelas bisa disebut berhasil. Dengan rataan usia 26 tahun, Jepang sukses menjadi juara Asia. N-Ach sendiri tidak lepas dari “Etika Protestan” yang dikemukakan sosiolog kenamaan Jerman, Max Webber.

Dalam agama Protestan yang dikembangkan John Calvin, setiap manusia telah ditentukan ke mana dia setelah meninggal nanti. Ke surga ataukah ke neraka. Hal tersebut ditentukan dari pekerjaan manusia di dunia. Jika berhasil maka ia masuk surga, jika gagal maka masuk neraka. Ini yang menurut Webber, membuat penganut agama Protestan, khususnya yang memiliki pengaruh Calvin, bekerja keras untuk meraih sukses. Terlepas dari “imbalan” berupa surga dan neraka, Etika Protestan sebenarnya berkembang sebagai konsep umum di luar agama Protestan itu sendiri. Ini seolah sebagai bentuk perlawanan terhadap penyimpangan kapitalisme yang mementingkan keuntungan pribadi. Untungnya, watak pekerja keras memang dimiliki orang Jepang. Dengan “sedikit” lecutan serta tekad yang kuat membuat mereka berjaya.

Dalam hal ini, manga dan anime Captain Tsubasa menjadi pemberi motivasi bagi masyarakat Jepang, untuk lebih khusyuk dalam bermain sepakbola. Impian yang tersaji dalam Captain Tsubasa bukanlah angan belaka. Mereka tahu, angan itu bukan seperti ajakan “uang yang bekerja untuk Anda”. Angan itu nyata, dan ada di depan mata! Semangat Captain Tsubasa yang ditayangkan di Indonesia 20 tahun lebih lambat, nyatanya mampu menggugah masyarakat Indonesia itu sendiri. Pengalaman penulis, saat itu, penjual sepatu sepakbola bak jamur di musim hujan. Ada di mana-mana.

Memang, faktor ketersediaan lapangan 10 tahun lalu menjadi alasan lain. Bisa dilihat bagaimana anak-anak pada masa kini lebih senang duduk mesra di depan komputer dengan satu tangan menekan tombol keyboard, dan tangan satunya lagi meraba sembari menekan-nekan mouse.

Minimnya lapangan gratis, terutama di wilayah perkotaan, membuat mereka menepi ke warnet dan lebih memilih untuk bermain Point Blank atau DoTA. Di pinggir-pinggir jalan masih bergantungan sepatu bola tanpa pul. Pembeli sepatu futsal meningkat signifikan ketimbang sepuluh tahun lalu. Penulis masih ingat bagaimana setelah penayangan Captain Tsubasa, muncul anime dengan tema sejenis. Seperti Shoot!, Whistle, Slam Dunk, hingga kartun sepakbola absurd yang dimainkan oleh dinosaurus, Dragon League. Iya, Dinosaurus!

Tsubasa Delusional?

Anda Keliru.  Karena Captain Tsubasa pula, adegan dalam serial kartun sepakbola jalanan Foot 2 Rue menjadi tak terlampau spektakuler. Mereka bisa melakukan freestyle dengan memanfaatkan ruang yang ada, tapi mereka tak akan mampu melakukan “tendangan langsung jarak jauh” atau “tendangan bersama” a la Tachibana Bersaudara. Untuk beberapa alasan Yoichi Takahashi disebut delusional. Selain timnas Jepang yang lemah itu berlaga di Piala Dunia, banyak tendangan yang dilakukan Tsubasa, Kojiro Hyuga, maupun Tachibana sulit untuk dilakukan.

Namun ternyata, beberapa pemain J-League membuktikan bahwa tendangan-tendangan pada komik Kapten Tsubasa bisa dilakukan pada dunia nyata. Dalam sebuah video berdurasi sekitar 2 menit, pemain J-League mempraktekan Kamisori Shoot milik Makoto Soda dan Twin Shoot milik Tachibana bersaudara. Timnas Jepang saja bisa menjadi juara Asia dan masuk Piala Dunia, lantas mengapa tiga tendangan tersebut tidak bisa dilakukan? Captain Tsubasa adalah sebuah karya monumental bagi Jepang itu sendiri. Impian yang tersaji dalam cerita Tsubasa menjadi motivasi bagi masyarakat Jepang untuk berprestasi.

Mungkinkah hal ini bisa dicontoh oleh masyarakat Indonesia? Bukankah Indonesia sudah memiliki sinetron dengan efek yang jauh luar biasa ketimbang anime Captain Tsubasa? Sebagai bahan contekan, David McClelland sebenarnya berkata bahwa negara maju adalah negara dengan penduduk yang memiliki N-Ach yang tinggi.

Dan Jepang butuh waktu hingga 10 tahun agar bisa menjadi juara Asia. Segala yang berproses pastilah membutuhkan waktu. Meski hasil yang didapat belumlah tentu, sesuai harapan yang dituju.

Panditfootball.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara