Sureq Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis diantara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontar kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal-usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

( Caption )

( Photo : citizendaily.net)

Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim atau perusakan. Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.

Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Sejauh ini Galigo hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain.

(Foto : wikipedia)

La Galigo sendiri secara garis besar bercerita tentang awal mula kehidupan di muka bumi dan kehidupan orang Bugis yang pada dasarnya memiliki kepercayaan tentang keberadaan dewa-dewi yang mendiami tiga dimensi berbeda. Dimensi pertama, boting langiq (kerajaan langit) dan dimensi kedua buriq liu (kerajaan bawah laut). Selanjutnya dimensi ketiga yakni dimensi yang berada di antaranya atau bumi yang kita tempati.

Tokoh utama dalam cerita epos ini bernama Sawerigading yang merupakan keturunan keempat dari raja kerajaan langit. Sawerigading lahir sebagai anak kembar emas namun ia dipisahkan dari kembarannya, We Tenriabeng. Hal itu dilakukan agar mereka tidak saling jatuh cinta. Namun hal yang ditakutkan itu ternyata justru terjadi. Sawerigading dan We Tenriabeng bertemu dalam sebuah pesta dan saling jatuh cinta.

Ia kemudian meminang saudaranya sendiri. Namun karena hal tersebut adalah hal yang menantang adat istiadat akhirnya Sawerigading memutuskan untuk berlayar ke China untuk meminang gadis lain yakni I We Cudai. Seluruh rangkaian cerita La Galigo didominasi oleh perjalanan Sawerigading.

(La Galigo dipertunjukkan di Makassar | foto : Detik.com)

Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004. Memang nama Indonesia juga terangkat lewat drama yang disutradarai oleh Robert, namun yang patut dijadikan sorotan adalah mengapa bukan orang Indonesia sendiri yang memperkenalkan ke kancah internasional?

Oleh: Dwi Suprabowo (Lebaran.com)

Foto utama :wheelercenter.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu