Limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun rumah tangga. Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan misalnya sampah, air kakus sampai air buangan dari berbagai aktivitas keseharian.


Pengelolaan limbah merupakan salah satu hal yang penting agar tak mencemari lingkungan secara berlebihan dan sembarangan.


Beberapa waktu yang lalu sejumlah tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung berhasil membuat pengolah limbah pewarna batik dari jamur kayu (Ganoderma applanatum). Teknologinya tergolong sederhana dan perawatannya cukup mudah. Bahkan air olahan limbahnya dapat dipakai untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan.

Sri Harjati Suhardi, dari mikro biologi SITH ITB mengamati hasil riset myco treatment pengurai limbah pewarna tekstil
Sri Harjati Suhardi, dari mikro biologi SITH ITB mengamati hasil riset myco treatment pengurai limbah pewarna tekstil

Inovasi pengurai limbah bernama Mico Treatment tersebut diperkenalkan dalam pameran penelitian pada acara Dies Natalies ITB ke-57 pada awal Maret lalu.


“Ini adalah pengolahan limbah pewarna dengan jamur sebagai agen pengurai,” kata Sri Harjati Suhardi, ketua tim riset, dua pekan lalu.


G. applanatum dipilih karena mampu mengurai lignin atau komponen penyusun tumbuhan berkayu keras selain untuk memutihkan kertas.


“Cara kerjanya dengan memotong-motong struktur kimia. Ada kesamaan struktur kimia pewarna tekstil dengan lignin,” kata dosen mikrobiologi di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB itu.
Menurut Sri, senyawa utama yang menjadi masalah pada limbah pewarna adalah zat azo.


“Itu struktur kimia yang mengikat warna,” katanya.


Senyawa lainnya natrium hidroksida yang banyak dipakai dalam proses pembuatan tekstil, yang menurut Sri telah melewati proses baku mutu tekstil.


Tim peneliti yang bekerja di laboratorium membuat kultur jamur dan disimpan dalam wadah tertutup rapat untuk menjaga suhu dan kelembapan kultur jamur. Uap air tidak akan terbuang karena kembali menetes ke adonan jamur.


“Lima hari sudah tumbuh miselia jamur seperti kapas putih,” kata Adha Nur Kholif Pratama, mahasiswa S-1 Mikrobiologi yang tergabung dalam tim riset.


Selanjutnya adonan jamur kayu dimasukkan ke tangki reaktor yang dilengkapi matriks berupa plastik seperti rol rambut untuk menjaga ruang udara di dalamnya. Tanki berongga ini untuk pertumbuhan miselia jamur.


“Kalau terlalu menumpuk, jamur dan makanannya tak bisa jadi saringan lagi karena mampat,” kata Sri.


I Nyoman Pugeg Aryantha, ahli jamur dan Dekan SITH ITB, mengatakan matriks berbahan plastik dipakai agar tidak ikut dimakan jamur. Material lain yang bisa digunakan adalah ijuk. Serpihan kayu dan dedak digunakan untuk makanan jamur. Potongan bambu bisa menjadi alternatif karena lama habis.


Di dalam tanki reaktor, jamur kayu yang mengkonsumsi dedak dan serpihan kayu tumbuh mengeluarkan enzim accelozyme. Hasil uji coba menunjukkan filter jamur bekerja baik. Penyaringan limbah pewarna batik menghasilkan cairan bening agak kehijauan. Kadar biochemical oxygen demand (BOD) kurang dari 50 miligram per liter. Adapun level chemical oxygen demand (COD) kurang dari 100 miligram per liter.

“Hasilnya sesuai dengan standar baku mutu limbah di Jawa Barat,” kata Sri.


Penyaringan dengan jamur dinilai lebih ampuh dan efisien dibanding proses memakai bakteri. Struktur sel jamur yang berfilamen bisa berfungsi sebagai penyaring tambahan.

“Kalau bakteri tidak berfilamen, jadi tidak menyaring. Hanya enzim saja yang bekerja,” kata Nyoman. Teknologi ini juga tak memakai listrik karena mengandalkan gaya gravitasi.


Sumber :  tekno.tempo.co  wikipedia.org 
Sumber Gambar : www.elkem.com 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu