Kecintaannya Pada Buku Menginspirasi Impian Anak-Anak Bangsa di Desanya

Kecintaannya Pada Buku Menginspirasi Impian Anak-Anak Bangsa di Desanya

Kecintaannya Pada Buku Menginspirasi Impian Anak-Anak Bangsa di Desanya

Mencintai buku bisa meraih apapun yang diinginkan. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk seorang ibu bernama Kiswanti Eko yang tinggal di desa Lebakwangi, Parung, Bogor ini. Meski hanya lulusan sekolah dasar, berkat kecintaannya pada buku, Bu Kiswati berhasil membangun sebuah perpustakaan yang kini menjadi pusat belajar anak-anak di desa.

Setiap pagi sampai tengah hari di hari Minggu, perpustakaan yang diberi nama Taman Bacaan Warabal (Warung Baca Lebakwangi) itu selalu ramai dengan aktifitas anak-anak. Sedangkan di hari lainnya, taman baca itu ramai di jam-jam setelah pulang sekolah anak. Mereka dengan hati riang belajar bersama relawan dan mendapatkan pengetahuan yang banyak dari koleksi buku-buku yang tersedia. Dibalik tumpukan ribuan buku di taman baca tersebut, ternyata terselip sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana Bu Kiswati memulai perjuangannya.

Bu Kiswati yang juga akrab dipanggil dengan Bude Kis itu pada mulanya hanya seorang pedagang jamu keliling. Namun ada yang tidak biasa dengan kesehariannya dalam berjualan jamu. Dirinya ternyata juga menawarkan buku-buku ketika dirinya berkeliling dengan sepeda yang disebutnya sebagai "Sepeda Pintar" itu. Uniknya, dia sempat dikira jualan buku.

“Ibu jualan buku? enggak saya jualan jamu pak,” kenang perempuan asal Bantul, Yogyakarta itu pada GNFI awal Mei.

Buku-buku yang ditawarkan juga merupakan buku yang dia kumpulkan satu persatu dari hasil catatan pengajian dan juga buku yang dibeli dari hasil menyisihkan pendapatan jualan jamunya. Meski koleksi bukunya belumlah banyak, Bude Kis kemudian memberanikan diri untuk membuka perpustakaan untuk menggantikan sepeda pintarnya. Saat itu, kegiatan perpustakaan hanya dilakukan di pelataran rumah.

“Mendirikan perpustakaan itu memang cita-cita saya dari kecil. Dari kecil saya punya cita-cita pengen punya perpustakaan, yang siapapun boleh baca dan gratis,” kata perempuan yang juga peraih penghargaan Indihome Award untuk tahun 2014 itu.

Untuk menyosialisasikan perpustakaan tersebut, Bude Kis bahkan mengajak anak-anak untuk mendongeng bersama di depan kuburan setempat. Bukannya sepi, ternyata inisiatif "tidak biasa" itu malah membuat anak-anak antusias dan menjadi mengubah cara pandang tentang konsep kematian dan pemakaman yang sering kali dianggap menyeramkan. Berkat aktifitas mendongeng rutin itu, kunjungan ke perpustakaan semakin ramai.

Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan relawan (Foto: Bagus DR/ GNFI)
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan relawan (Foto: Bagus DR/ GNFI)

Berawal dari perpustakaan, Taman Baca Warabal kemudian berkembang menjadi tempat belajar anak-anak ketika relawan bernama Nurry Wahyuningsih berinisiatif untuk membantu Bude Kis. Saat itu Nurry yang masih duduk di bangku SMA mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak. Menjadi anak SMA yang mengajar anak-anak tentu menjadi sesuatu yang tidak biasa.

"Saya memang dulu memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Dan ketika mengetahui Bude Kis memperbolehkan saya mengajar di Taman Baca Warabal, saya antusias dan akhirnya jatuh cinta," jelas perempuan yang telah mengajar di Taman Baca Warabal selama lebih dari satu dekade tersebut.

Berkembang dari pengajaran bahasa Inggris, kemudian Bude Kis juga membuka pendidikan usia dini setelah ada permintaan dari warga. Tidak hanya itu, melalui anak sulungnya yang memiliki keahlian komputer Taman Baca Warabal juga membuka pelajaran komputer. Perpustakaan menjadi sangat ramai dan membutuhkan pengembangan.

Belajar bersama dengan bimbingan relawan (Foto: Bagus DR/GNFI)
Belajar bersama dengan bimbingan relawan (Foto: Bagus DR/GNFI)

Warabal kini telah banyak berkembang. Jika dulu hanya terdapat 180 buku, kini koleksi Taman Bacaan ini telah mencapai kurang lebih 8.915 buku. Sumbangan buku-buku bekas maupun baru banyak diterima dari para donatur. Jika dahulu anak-anak belajar di teras rumah, kini telah berubah menjadi bangunan dua lantai. Relawan pun terus berdatangan untuk membantu kegiatan anak-anak. Bahkan kebanyakan relawan pengajarnya adalah pelajar usia muda seperti pelajar SMP.

Berbagai trofi diraih oleh anak binaan Taman Baca Warabal (Foto: Bagus DR/GNFI)
Berbagai trofi diraih oleh anak binaan Taman Baca Warabal (Foto: Bagus DR/GNFI)

Warabal yang sebesar ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Bude Kis. Bermula dari sekedar sepeda pintar keliling, kini taman baca itu telah menjadi pusat studi di tengah desa. Kedepan, Bude Kis menginginkan akan ada warabal-warabal baru di berbagai tempat sehingga Warabal di Lebakwangi bisa menjadi sebuah sekretariat besar taman baca. Ibarat gelombang air, inspirasi Bude kis akan terus tersampaikan pada orang-orang disekitarnya dengan lebih luas.

Wawasannya yang luas dan inspirasinya yang positif membuat banyak anak-anak di desa turut mencintai buku. Bude Kis pun berpesan, "Seseorang itu ibarat besi yang ditempa, dipukul dan menjadi sebuah jarum, dengan jarum kita akan bisa merajut keinginan dengan benang kesabaran, keuletan. Memang jarum menusuk-nusuk membuat sakit, tapi hasilnya akan indah."

Sumber : GNFI
Sumber Gambar Sampul : GNFI

Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau10%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Mengenal Aktor Dibalik Layar Berdirinya Boedi Oetomo Sebelummnya

Mengenal Aktor Dibalik Layar Berdirinya Boedi Oetomo

I-YES Mengajar Sukses dilaksanakan,  I-YES : I-YES Mengajar akan menjadi Pilot Project Selanjutnya

I-YES Mengajar Sukses dilaksanakan, I-YES : I-YES Mengajar akan menjadi Pilot Project

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.