Antara Indonesia, Singapura, dan Negeri Kecil di Tengah Pasifik

Antara Indonesia, Singapura, dan Negeri Kecil di Tengah Pasifik

Antara Indonesia, Singapura, dan Negeri Kecil di Tengah Pasifik

Tidak banyak orang yang mengenal Nauru, sebuah negara kepulauan yang kecil yang terletak tengah Samudera Pasifik. Jika kita melihat ke peta dunia, negara ini begitu kecil sehingga tak kelihatan di peta. Negara ini hanya seluas 21 km2. Bandingkan, misalnya dengan kota Batu, di Jawa Timur..yang kecil, dan seluas lebih dari 200 km2, atau pulau Samosir di tengah Danau Toba yang seluas 640 km2. Negara berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa ini adalah negara berbentuk republik dengan luas terkecil di dunia.

Caption (Sumber Gambar)

Apa istimewanya negara Nauru ini?

Di tahun 60-an hingga 80-an, negara Nauru sempat menjadi negara yang paling makmur di masanya. Pendapatan per kapita penduduk Nauru adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Namun, pelan tapi pasti, Nauru menjadi negara yang bangkrut dan kini miskin, dan berharap banyak dari bantuan pihak luar.

Apa yang terjadi?

Kemakmuran Nauru bermula ketika ditemukan fosfat yang berasal dari 'fosil' kotoran burung pada awal abad ke-20. Fosfat adalah bahan penting dalam industri pupuk. Lebih dari 70% tanah Nauru terdiri atas endapan tahi burung Guano yang menumpuk selama ribuan tahun lalu. Hal ini dikarenakan dulunya Nauru merupakan tempat bagi koloni besar burung Guano.

Nauru dari angkasa | wikipedia
Nauru dari angkasa | wikipedia

Pulau ini adalah eksportir utama fosfat sejak 1907, saat Pacific Phosphate Company memulai pertambangan di sana, hingga pembentukan British Phosphate Commisision pada 1919, dan berlanjut hingga kemerdekaan Nauru pada 1968. Nauru adalah pulau fosfat berkualitas tinggi. Cadangan yang dekat dengan permukaan membuat penambangan zat ini mudah dilangsungkan.Pertambangan dilakukan secara besar-besaran dibawah kontrol pemerintah melalui Nauru Phosphate Corporation.

Burung Guano, sang pembawa Fosfat
Burung Guano, sang pembawa Fosfat

Sejak saat itulah, seketika Nauru menjadi negara kecil yang kaya raya daan mengangkat pendapatan rakyatnya secara drastis. Dan untuk periode waktu yang singkat, menikmati pendapatan perkapita tertinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Namun, bencana besar itu dimulai di periode ini.

Menjadi negara kaya baru membuat warga Nauru banyak meninggalkan pekerjaan mereka, dan memilih berlibur melanglang buana untuk berfoya-foya. Mereka juga mulai gemar mengonsumsi alkohol dan merokok. Negara mensubsidi kehidupan seluruh rakyatnya. Lebih dari 80% angkatan kerja diangkat sebagai pegawai negeri, bahkan mereka yang tidak bekerja pun disubsidi oleh negara. Pajak dihapuskan, pendidikan dan layanan kesehatan tersedia gratis, pangan disubsidi, dan mereka yang ingin sekolah ke luar negeri dibiayai oleh negara. Angkatan kerja menjadi sangat terbatas karena tak ada lagi yang mau bekerja keras yang membuat lelah. Mereka terpaksa mengimpor tenaga kerja dari negara-negara tetangganya seperti Tuvalu atau Kiribati.

Eksplorasi berlebihan kekayaan membuat Nauru terlena. Mereka mengeksplorasi sesuatu yang menjadi satu-satunya sandaran hidup negara itu secara besar-besaran, tanpa memikirkan dan berinvestasi untuk masa depan. Eksploitasi pertambangan Fosfat di kepulauan Nauru pun kini telah berubah menjadi bencana karena daerah-daerah yang telah selesai dieksploitasi mengalami kerusakan parah, dan terjadi kerusakan lingkungannya hingga mencapai 75 persen dari seluruh wilayahnya.

Bekas tambang Fosfat yang menganga lebar, membuat Nauru seperti permukaan bulan yang tandus | Al Jazeera
Bekas tambang Fosfat yang menganga lebar, membuat Nauru seperti permukaan bulan yang tandus | Al Jazeera

Di sisi lain, saat fosfat benar-benar habis di awal tahun 2000, ekonomi negara langsung anjlok. Kekayaaan negara pun sudah hilang oleh gaya hidup foya-foya penduduknya, sedangkan investasi ke luar negeri yang diupayakan pemerintah tidak membuahkan hasil. Nauru menjadi yang bangkrut, dan jatuh miskin, serta tak memiliki industri sebagai penopang ekonomi. Semuanya sudah habis, satu-satunya bekas nyata tersisa dari era kemakmuran Nauru ialah kegemukan (obesitas) dan penyakit diabetes yang diderita sebagian besar penduduknya. Inilah negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia.

Untuk mengumpulkan uang, pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak biasa. Pada tahun 1990-an, Nauru menjadi surga pajak dan pusat praktik pencucian uang. Sejak 2001 hingga 2008, Nauru mendapat bantuan dari pemerintah Australia, sementara Australia mendapat hak untuk mendirikan pusat penahanan bagi orang-orang yang mencoba untuk memasuki Australia tanpa dokumen di Nauru.

Dan itupun belum cukup menyelamatkan mereka.

Rakyat Nauru sekarang | The Australian
Rakyat Nauru sekarang | The Australian

Sejak Desember 2005 hingga September 2006, Nauru menjadi terisolasi dari dunia luar, karena "Air Nauru" yang sebelumnya menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani penerbangan ke Nauru, memutuskan untuk berhenti beroperasi. Satu-satunya jalan keluar dari Nauru adalah kapal laut. Maskapai penerbangan tersebut akhirnya kembali dapat beroperasi dengan nama "Our Airline" dibawah bantuan dana dari China.

Singapura

Cerita berbeda datang dari tetangga dekat kita, Singapura. Negara yang tak punya sumber daya alam ini dulunya juga merupakan negara yang cukup miskin. Sebelum 'dilepas' oleh Malaysia pada tahun 1965, Singapura bukanlah negara kaya, pun hampir hampir tak memiliki modal untuk menjadi negara kaya dan makmur. Dulunya, negara ini juga korup, kotor, hukum yang bisa dibengkokkan, dan lain-lain.

Negara yang bahkan mengimpor air dari tetangga-tetangga ini, kemudian melakukan langkah radikal untuk mengimbangi ketiadaan sumber daya alamnya yang...amat minim. Yakni mengembangkan sumber daya yang mereka punya, yakni Sumber Daya Manusia. Sang pendiri Singapura modern, sekaligus perdana menteri (alm) Lee Kuan Yew mengatakan " Sumber daya manusia suatu negara adalah faktor tunggal terpenting yang menentukan kemampuan kompetitif suatu negara. Kemampuan inovasi rakyatnya, kewirausahaan, kerja sama tim, dan etos kerja memberikan ketajaman level kompetitif yang sangat baik.”

Lee Kuan Yew yang mengubah Singapura |  Gintong.me
Lee Kuan Yew yang mengubah Singapura | Gintong.me

Menurutnya, pendidikan adalah hal teramat penting dan harus menjadi fokus bagi negara-negara berkembang yang ingin mendapatkan perubahan radikal. Lee Kuan Yew meyakini bahwa demografi (bukan demokrasi) adalah penentu kemajuan dan supremasi sebuah negara. Supremasi kualitas SDM Singapura adalah yang menjadikan negara tersebut begitu menonjol saat ini.

Negara yang luasnya hanya 1/5 luas kabupaten Malang ini tak hanya makmur, rakyatnya juga terkenal well-educated dan well-informed, juga negara ini mampu menjadi yang "paling" ini dan itu , mengalahkan negara-negara lain. Negara paling bersih, paling teratur, paling mudah berinvestasi, airport dan pelabuhan terbaik di dunia, infrastruktur terbaik dunia, dan banyak lagi.

Indonesia

Indonesia adalah Nauru raksasa. Inilah negeri yang dilimpahi kekayaan alam begitu luar biasa. Sangat luar biasa. Dari minyak bumi, gas, nikel, hingga kekayaan hutan, flora dan fauna yang begitu beragam. Di bidang ini, Indonesia adalah negara adi daya.

Di sisi lain, Indonesia juga dilimpahi sumber daya manusia yang begitu berlimpah. Terlebih lagi, hingga setidaknya 20-30 tahun ke depan, bangsa ini dilimpagi bonus demografi yang tak datang tiap 500 tahun sekali.

Generasi muda Indonesia, kekayaan sesungguhnya | beritasatu
Generasi muda Indonesia, kekayaan sesungguhnya | beritasatu

Seharusnya, keduanya adalah kombinasi dahsyat menjadikan Indonesia, dan rakyatnya, menjadi sejahtera.

Kita harus lebih bijaksana dalam memanfaatkan kekayaan alam yang dianugerahkan oleh Tuhan YME. Sangat sedikit negeri yang dilimpagi kekayaan begitu beragam dan berlimpah seperti Indonesia. Di sisi lain, berlimpahnya jumlah SDM Indonesia juga harus dibekali dengan kekuatan inovasi, kemampuan bersaing, berkarya, dan melek informasi.

Dua tantangan besar yang harus kita hadapi dan selesaikan, agar kita tak menjadi seperti Nauru.

Sumber :
Economist.com | TheAustralian.com.au
Kompas.com | Abc.net.au
Gintong.me | bbc.co.uk

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang2%
Pilih Tak PeduliTak Peduli2%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi70%
Pilih TerpukauTerpukau9%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Startup Indonesia Bakal Mudah Belajar ke Silicon Valley Sebelummnya

Startup Indonesia Bakal Mudah Belajar ke Silicon Valley

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020 Selanjutnya

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.