Lupa Sandi?

Merasakan Kuliner Halal Khas Xi'an Dengan Nuansa Oriental di Ibukota

Renatha Agung Yoga Prasetya
Renatha Agung Yoga Prasetya
0 Komentar
Merasakan Kuliner Halal Khas Xi'an Dengan Nuansa Oriental di Ibukota

Bulan puasa telah tiba, dan berbuka puasa bersama keluarga menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan bagi masyarakat Indonesia. Menunggu waktu berbuka di beberapa restoran, rumah makan, atau bahkan sentra PKL sudah menjadi pemandangan yang biasa dilihat di berbagai sudut Indonesia. Lalu apa menu berbuka pilihan Anda? Makanan khas Indonesia seperti gorengan dan kolak langsung terbersit dalam pikiran. Berbuka dengan makanan-makanan khas timur tengah juga menjadi alternatif yang bagus.

Lalu pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk berbuka dengan makanan khas Cina? Cina seperti kita tahu bukanlah negara Islam, bahkan penduduk muslim merupakan minoritas di sana. Namun penduduk muslim di sana membentuk sebuah komunitas sendiri yang dalam jangka waktu lama membentuk sebuah budaya baru. Dari merekalah lahir budaya-budaya berpakaian oriental namun tetap menutup aurat, juga berbagai kuliner asli cina dengan resep-resep yang halal.

Jika Anda ingin merasakan berbuka dengan suasana restoran yang kental dengan nuansa oriental, dan tentunya dengan hidangan-hidangan khas cina yang dijamin kehalalannya maka Anda bisa berkunjung ke restoran Sulaiman di Jalan Batu Ceper No. 73 Jakarta Pusat. Nama restoran tersebut diambil dari pemiliknya yang juga bernama Sulaiman.

Saat Anda memasuki restoran ini, anda akan disambut oleh pelayan-pelayan dengan balutan busana perpaduan khas cina dan muslim. Pelayan pria tetap menggunakan peci, sementara pelayan wanita menggunakan busana cina yang menutup aurat dengan balutan jilbab di kepala. Suasana oriental semakin terasa saat musik bernuansa oriental mengalun di restoran. Di dinding restoran banyak tergantung kaligrafi-kaligrafi hasil perpaduan seni menulis Islam dan Cina.

Baca Juga
Tulisan kaligrafi ayat Al Quran dengan gaya penulisan Cina
Tulisan kaligrafi ayat Al Quran dengan gaya penulisan Cina

Sulaiman, sang pemilik juga sesekali terlihat berbincang-bincang dengan pengunjung yang juga merupakan warga keturunan Tionghoa dengan menggunakan bahasa mandarin. Tentu saja Sulaiman fasih berbahasa mandarin karena dia sendiri merupakan warga asli Tiongkok asal Xi’an provinsi Shaanxi dari etnis Hui yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Lewat seorang penerjemah, Sulaiman menceritakan bahwa dirinya sudah dua setengah tahun berada di Jakarta untuk berbisnis kuliner asli negeri Tiongkok. Awalnya Sulaiman membuka restorannya di kawasan Wahid Hasyim namun karena kontraknya sudah selesai serta pertimbangan kenyamanan lokasi, Sulaiman memindahkan restorannya di kawasan Gajah Mada yang sejak dahulu terkenal banyak rumah makan China nya. “Saya datang kesini karena Indonesia mayoritas Muslim dan saya mendengar Muslim Indonesia ramah-ramah,” ujar Sulaiman ketika menjelaskan alasan kenapa dia membuka restoran Muslim China di Jakarta.

Penerjemah Sulaiman bernama Mulyaman menceritakan bahwa setelah restoran dipindahkan ke kawasan Gajah Mada, pengunjung yang datang ke resto semakin segmented dibanding dengan waktu lokasinya masih di kawasan Wahid Hasyim. “Dulu pengunjung yang datang banyak juga dari warga pribumi yang ingin mencicipi resto Muslim China, tapi setelah di Gajah Mada banyak pengunjung yang datang justru dari warga asli Tiongkok yang sedang berbisnis di Indonesia. Mereka setelah mencicipi masakan kami, merasa cocok karena rasanya sangat persis dengan masakan asli yang ada di sana,” ujar Mulyaman.

Sulaiman sendiri mengklaim kalau masakan yang disajikan di restorannya 100 persen halal meskipun belum mendapat sertifikat Halal dari MUI. “Kami masih dalam proses untuk mendapatkan sertifikat Halal MUI dan sebagian bumbu kami impor langsung dari Tiongkok,” kata pria beranak satu ini. Sebagai Muslim yang lahir dari keluarga Muslim asli Tiongkok, Sulaiman menganggap masakan halal merupakan hal yang sangat penting. Bagi dirinya tidak hanya masakannya saja yang halal harus disajikan di resto nya tapi para karyawan pun harus mengamalkan ajaran Islam, seperti harus shalat 5 waktu dan berbusana Muslimah bagi yang perempuan.

Selain menu-menu khas Tiongkok, di restoran ini terdapat pula sajian roti ala masakan Timur Tengah. Kemungkinan besar menu ini mengadopsi makanan warga Muslim di Xinjiang, Muslim Uighur yang aslinya sebenarnya bukan warga Tiongkok tapi Turki Arab namun wilayah mereka yang dahulunya bernama Turkistan Timur dianeksasi oleh pemerintah China sehingga Xinjiang menjadi bagian dari negara China.




Sumber : islampos.com hidayatullah.com
Sumber Gambar Sampul : suara-islam.com nationalgeographic.co.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG RENATHA AGUNG YOGA PRASETYA

Faith, Courage, Honesty, and Passion

... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie