Lupa Sandi?

Semarang, Kota Bertemunya Tiga Budaya dan Arsitektur

Vika Kurniawati
Vika Kurniawati
0 Komentar
Semarang, Kota Bertemunya Tiga Budaya dan Arsitektur

Liukan asap beraroma cendana dari tiap ujung dari batang dupa berukuran sekitar 18 cm mengundang hidung dan lirikan mata di balik lensa. Dan saya mengerti kenapa dupa baik tertempel erat di bilah bambu atau bubuk dalam turibulun (wadah dupa) selalu teriring pada setiap kegiatan ritual bersifat spiritual. Menenangkan.

     Pagoda dengan delapan susun atap apalagi berukuran raksasa memang terlihat terlalu cantik untuk diabaikan, dan jiwa saya walau berkepercayaan berbeda menjadi ringan setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan dari Jogja menuju Semarang. Berbeda itu memang seperti lengkungan busur langit setelah hujan, indah.

Ritual doa
Ritual doa

     Sebelum bersua dengan engkong yang berdoa dengan membakar tiga dupa lidi halus merah, saya terlebih dahulu menapaki barisan batu alam dengan semangat dan menghirup dalam-dalam hembusan oksigen di sekitar pelataran Vihara Buddhagaya Watugong. Sejak subuh hingga menjelang siang beradu dengan udara buatan di dalam mobil, ternyata membuat saya merindukan langit.

Sudut Pagoda
Sudut Pagoda

     Awalnya saya berpikir bahwa keramaian para pengunjung akan sedikit banyak memperngaruhi para umat yang merapalkan doa. Namun ternyata bergemingpun tidak, karena aura meditasi dan spiritual memang terasa kental serta timbul keengganan untuk bersiul sekalipun. Dan alhasil saya berhasil mengabadikan beberapa sudut bernuansa budaya Tionghoa yang menarik perhatian. Saya pribadi selalu jatuh cinta pada dunia arsitektur terutama yang masih berbau tradisional yang menjadi dasar dari semua infrastruktur. Dan bentuk atap melengkung sebagai ciri khas bangunan Tionghoa selalu menjadi sasaran perhatian saya.

Baca Juga
Bangunan pertama
Bangunan pertama

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke klenteng Sam Po Kong yang juga bernuansa Tionghoa dengan dominan penggunaan merah sebagai lambang kemakmuran dan keberuntungan di setiap bangunan. Atap pada klenteng kali ini bersusun satu sampai tiga tumpuk dan menunjukan seberapa penting fungsi tiap bangunan.

Patung di bangunan pertama
Patung di bangunan pertama

Beberapa patung dewa, dewi dan pahlawan termasuk Sam Po Kong berukuran raksasa berdiri gagah di setiap sudut klenteng dengan luas 1000 meter persegi. Setiap patung, lilin raksasa bahkan lampion yang tak terhitung jumlah dan harganya merupakan hasil sumbangan dari para umat. Mengagumkan.

Bangunan kedua
Bangunan kedua

     Memang walau Sam Po Kong seorang muslim tapi di tempat ini juga didirikan beliau sebagai tempat ibadah untuk para tentaranya yang beragama budha. Di klenteng dengan lima bangunan berukuran besar ini mempunyai tempat khusus untuk mushola sehingga jika adzan sudah bergema, anda tak perlu kebingungan. Oya tiket masuk bisa langsung ditemukan di depan pintu gerbang masuk.

Loket
Loket

     Salah satu hal yang menyenangkan adalah memandang beraneka ragam pengunjung yang terlihat sibuk swa foto tanpa mengganggu kekhusukan para umat yang berziarah dan melakukan ciami si. Anda juga ingin mengetahui sekelumit masa depan dan keberuntungan hidup?

 

Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah

Saat matahari sudah mulai di titik tertinggi, saya dan teman rombongan dari Jogya beranjak menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Saya terkesima mengetahui betapa luas dan uniknya masjid menjadi pusat kunjungan para wisatawan. Bukan saja arsitektur, fasilitas yang lengkap dengan gedung pertemuan serta parkir luas namun juga jauhnya jarak batas suci menuju bagian dalam masjid.

Batas suci
Batas suci

     Hal ini disebabkan enam payung raksasa serupa Masjid Nabawi hanya terbuka dan menutup saat sholat Jumat saja. Pada siang hari yang terik, umat harus siap berlari cepat dengan meninggalkan alas kakinya di tempat batas suci. Karpet tipis hijau memang ada, namun tetap saja kaki meradang. Dan ternyata hal tersebut tidak menyurutkan animo umat untuk melaksanakan sholat. Sebuah pengalaman menarik yang patut anda coba.

Surya sudah mulai lelah tersenyum saat mobil hitam sudah sampai ke Gereja Bleduk (diambil dari bahasa Jawa yang berarti kubah) di kota lama, sebagai tempat terahkir wisata kami. Sayangnya pintu Nederlandsch Indische Kerk  atau Gereja Hindia Belanda sudah tertutup sehingga foto yang berhasil diabadikan hanya sebatas arsitektur luar walau tetap sama menariknya.

Gereja Bleduk
Gereja Bleduk

 

Pintu samping
Pintu samping

     Dengan bentuk bangunan heksagonal dan berkubah pualam, maka gereja yang didirikan 1753 menjadi tujuan wisata wajib setiap datang ke Semarang. Dengan nama baru yaitu Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel berdiri di antara beberapa cagar budaya yang tetap digunakan untuk masyarakat umum. Dan menariknya tetap terdengar suara adzan dari mushola yang tak seberapa jauh dari Gereja Bleduk. Kota lama sendiri sedang membangun ulang dan mempercantik diri dan saya rindu bersua kembali.

Taman samping gereja
Taman samping gereja

Dari empat bangunan ibadah yang saya kunjungi hari itu, sungguh melambangkan toleransi antar kepercayaan dan kesadaran pemerintah daerah dalam merawat cagar budaya. Sebuah kabar baik dari Indonesia dimana sebuah kotanya menjadi titik temu tiga budaya dan arsitektur yang berbeda.     



Sumber : Dokumentasi pribadi
Sumber Gambar Sampul :Dokumentasi Pribadi

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG VIKA KURNIAWATI

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara