Lupa Sandi?

Dari Hindia Belanda menjadi Indonesia

Ikrana Ramadhani
Ikrana Ramadhani
0 Komentar
Dari Hindia Belanda menjadi Indonesia
Museum Kota Makassar, sebuah bukti sejarah yang sedang berbicara
Museum Kota Makassar, sebuah bukti sejarah yang sedang berbicara

"Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan"

Bangsa Indonesia, bumi yang kita injak sekarang, adalah satu kenyataan dari beberapa kenyataan yang saling silang merajut keperkasaan juga kerapuhannya. Kabar baiknya, Indonesia telah merdeka. Sudah lebih dari tujuh puluh tahun sejak dibacakannya teks proklamasi oleh Soekarno untuk pertama kalinya.

Satu dari beberapa kenyataan yang perlu selalu kita ingat adalah kenyataan bahwa untuk lebih dari tiga ratus tahun lamanya, bumi kita tercinta, Indonesia, dijajah Eropa. Belanda. Bangsa kita hidup dalam kutukan ilmu pengetahuan yang menundukkan, seolah disihir untuk menjadi rendah serendah-rendahnya. Kabar baiknya, ilmu pengetahuan juga yang membuat leluhur kita maju dan menjadikan Indonesia merdeka.

Sejarah sebagai tongkat panjang yang telah menjadikan generasi bisa berdiri pada kaki sendiri, tak boleh sekalipun dilupakan. Bahkan mesti diingat dan dikhayati dengan penuh haru. Refleksi Indonesia untuk lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu, sama sekali berbeda warnanya. Ketika manusia-manusia yang menginjak bumi ini dibagi atas dua golongan, yaitu Pribumi dan Eropa. Hitam dan putih. Tak bisa terbayangkan ketika segala kebebasan justru tak bisa dirasakan di tanah kelahiran sendiri. Bekerja pada tanah sendiri yang justru tak bisa menjadikannya apa-apa. Kabar baiknya, Indonesia sekarang telah menjadi sesuatu, bangsa yang berdaulat. Bumi ini telah merdeka.

Ketika kehidupan hanya berputar-putar pada perkara sembunyi atau menyerahkan diri. Hanya segelintir yang memilih melawan. Ketika bangku sekolah hanya boleh dicicipi oleh mereka yang berkulit putih dan anak bupati, tak ada pilihan selain diam dan mengikuti perintah. Bisa menyambung hidup sampai tidur malam juga sudah sangat disyukuri. Kabar baiknya, esok pagi kita telah akan melihat gunung gemunung nun hijau di sana dengan bendera merah putih terkibar pada tiang-tiang sepanjang jalan menuju puncak. Hanya merah dan putih. Tanpa kesuraman polemik perampasan dan penyanderaan. Esok pagi dan seterusnya, Indonesia telah lama merdeka.

Bertambahnya warna pada perjalanan bangsa ini telah memberikan kita sejuta kabar baik untuk disongsong dengan penuh kepercayaan. Tunduk untuk lebih dari tiga ratus tahun, menjadikan Indonesia kaya akan pengalaman dan pelajaran. Berterima kasih pada sesiapa yang telah menoreh pengalaman ini adalah barang tentu yang harus dikhayati oleh setiap manusia yang hidup di bawah langit Indonesia. Terkhusus untuk para pemuda yang telah dihadiahi sejuta kabar baik diatas.

Pergerakan awal bangsa Indonesia dilakukan oleh para pemuda, semangat pemuda, dan keyakinan pemuda. Cerita-cerita perihal peristiwa Rengasdengklok yang menjadi titik awal pergerakan sudah semestinya terpatri baik-baik dalam ingatan dan perasaan. Penuh darah dan air mata, katanya. Kabar baiknya, pemuda sekarang cukup menggerakkan pena dan mengisi kertasnya. Sikhlas-ikhlasnya untuk Indonesia yang telah merdeka.

Hitam dan putih sejarah yang terjadi di bumi Hindia Belanda tak ada yang bisa mengulang dan menceritakan kembali setiap bagian yang telah terpisah-pisah. Sebab kehidupan adalah lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan. Kabar baiknya, ada banyak sekali bukti sejarah yang ditinggalkan masa kelam nun jauh di belakang sana. Mereka yang telah bercerita menggunakan bahasa mereka sendiri. Bahasa alam. Hanya segelintir yang mampu mendengarkan dan memahami. Padahal mereka juga sedang membawa kabar baik; Hindia Belanda telah menjadi Indonesia. Merah dan putih. Hanya merah dan putih.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IKRANA RAMADHANI

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas