Indonesia punya “WONG NDESO”

Indonesia punya “WONG NDESO”
info gambar utama

Indonesia memang Negara yang mempunyai banyak keunikan, bukan hanya dari sisi fisiknya saja melainkan ada sisi non fisik yang jarang sekali dapat dilihat atau dirasakan oleh masyarakat. Keunikan tersebut akan saya jelaskan

melalui pengalaman yang saya dapat beberapa bulan kemarin.
Akhir-Akhir ini saya mulai sadar bahwa ketika seseorang yang melakukan hal aneh atau “norak” mereka sering dikatakan sebagai wong ndeso.
Sebenarnya ada apa dengan wong ndeso ? siapa sebenarnya yang kalian maksud dengan wong ndeso ? ada apa dengan masyarakat desa ? Untungnya, pada bulan April saya berkesempatan menghabiskan waktu saya untuk berkunjung ke Desa Sisir di kota Batu, kebetulan ada serangkaian acara Festival yang diadakan oleh warga desa tersebut. Kali ini saya akan mengamati dari sudut pandang saya, siapa sebenarnya wong ndeso yang dimaksud ini.

Festival Sungai Brantas #bukansekedarsungai awalnya saya mengira bahwa festival ini hanya sekedar bersih-bersih sungai atau penghijauan. Tapi saya seketika terkejut ketika sampai di depan gerbang desa, melihat satu banner besar bertuliskan rangkaian acara dari festival ini. Benar-benar bukan sekedar sungai, festival ini menunjukan potensi yang luar biasa dari Desa Sisir. Festival Ekonomi Kreatif, Festival Budaya, Penghijauan, Diskusi Terbuka, suatu rangkaian acara yang menarik bagi saya. Acara ini membuka pikiran saya bahwa setiap aspek ilmu pengetahuan sebenarnya saling berhubungan. Namun yang saya soroti adalah budaya berkarya dari masyarakat desa Sisir yang sudah jarang kita temui.

Festival Ekonomi Kreatif, ketika masuk ke lapangan tempat diadakan festival “ekraf”, saya melihat sekitar 13 stand yang diisi oleh 13 RW warga desa Sisir. Mengejutkannya, setiap RW memiliki karya ekonomi kreatif yang berbeda-beda, ada yang memanfaatkan sampah kertas menjadi souvenir cantik, ada yang membuat makanan ringan ataupun berat, ada yang membuat bantal dengan gambar yang di desain melalui komputer, ada yang membuat lukisan, ada yang menjahit kebaya, dan masih banyak lagi. dan pikiran saya seakan ditampar dengan fakta realitas lapangan bahwa “wong ndeso” memiliki budaya berkarya, menciptakan inovasi, bahkan menjadikan barang yang tidak berguna menjadi barang yang bernilai.

Lanjut ke Festival Budaya, setelah saya puas melihat hasil karya dari “wong ndeso”, saya masuk kesebuah “arena” – karna tempat ini bentuknya melingkar dan terdapat satu panggung besar ditengahnya – dan menyaksikan pertunjukan berbagai macam budaya dari desa Sisir. Lagi-lagi, saya dikejutkan, selama 3 jam saya berada di arena tersebut dan menyaksikan pertunjukan tanpa satu menitpun mengantuk. Apa yang saya lihat ? pertama, pertunjukan drama, kali ini drama yang saya lihat bukan drama korea atau drama-drama pericintaan, tetapi drama yang dilakukan oleh sekumpulan anak-anak keturunan “wong ndeso” yang memiliki setiap pesan tersirat didalamnya, WAAAOOW, kali ini pikiran saya tertampar lebih keras dari sebelumnya, disaat per-film-an/ tayangan di televisi –mohon maaf—tidak memberi didikan yang baik, justru “wong ndeso” memberi pendidikan kepada saya lewat drama yang dilakukan di festival ini. Kedua, tarian tradisional, lagi-lagi anak-anak keturunan “wong ndeso” yang menjadi pemeran utamanya, anak-anak mulai dari umur 6th-15th dengan lunglai menarikan tarian tradisional, saya tidak sanggup berkata apa-apa lagi, disaat anak-anak di perkotaan sibuk dengan gadget mereka –bahkan ada yang sibuk berpacaran— anak-anak wong ndeso ini sibuk melestarikan kebudayaan Indonesia.

Lalu siapakah “wong ndeso” yang sering kita dengar ini ? apakah “wong ndeso” yang sering kita dengar ini adalah “wong ndeso” yang memiliki budaya berkarya ? apakah “wong ndeso” sering kita dengar ini adakah “wong ndeso” yang mampu membuat inovasi ? apakah “wong ndeso” sering kita dengar ini adalah “wong ndeso” yang mampu memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang bernilai ekonomis ? apakah “wong ndeso” yang sering kita dengar ini “wong ndeso” yang mendidik masyarakat melalui pentas seni yang mereka buat ? apakah “wong ndeso” sering kita dengar ini adalah “wong ndeso” yang sibuk melestarikan budaya bangsa ini ? jawabannya adalah benar, “wong deso” yang dimiliki oleh Indonesia adalah orang-orang yang masih mampu melestarikan budaya yang ada di daerahnya dan mewariskan budaya itu kepada anak cucunya sebagai penerus bangsa Indonesia.

Indonesia mempunyai keunikan-keunikan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. sudah seharusnya kita bangga dengan segala yang dimiliki oleh bangsa kita ini, Indonesia.

Karya Kreeatif Warga Desa Sisir, Batu
info gambar
"arena" pertunjukan festival budaya Desa Sisir, Batu
masyarakat antusisas meyaksikan
info gambar


Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini