Lupa Sandi?

Perempuan Bertopi Koboi dan Bocah Lelaki Cilik

Fransiska Vena Agustiningrum
Fransiska Vena Agustiningrum
0 Komentar
Perempuan Bertopi Koboi dan Bocah Lelaki Cilik

Apa kabar Indonesia? Semoga senantiasa damai, toleran, dan berperikemanusiaan. Saya ingin membagikan sedikit kabar baik tentang perempuan Indonesia. Oya, saya juga seorang perempuan Indonesia (kerling mata satu).

Hari itu, saya menjalankan tugas turun lapangan yang diberikan oleh organisasi saya. Saya pergi ke sebuah desa di pinggiran kota Yogyakarta, Desa Banyurejo Kecamatan Tempel. Saat itu sedang musim panen, perempuan-perempuan di sana bersama dengan suami dan anak-anaknya ramai-ramai memanen padi dan jagung. Saya melewati mereka dengan biasa saja, fokus saya tetap menemui Ibu Mijot Ketua PKK setempat untuk mengkomunikasikan rencana program organisasi. Hingga saya melewati Ibu bertopi koboi dan cucunya yang memunguti biji-biji jagung.

Perempuan yang memunguti biji jagung dengan bocah lelaki cilik saat musim panen di Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Yogyakarta
Perempuan yang memunguti biji jagung dengan bocah lelaki cilik saat musim panen di Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Yogyakarta

 

Dibanyak berita kita melihat begitu banyak perempuan Indonesia menjadi korban kekerasan. Saya tidak ingin menyebut nama mereka. Itu perih dan pahit rasanya. Perempuan-perempuan yang peduli lalu menyalakan lilin di jalan dan di hati, tentu saja. Begitu banyak luka tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya. Hingga tulisan ini saya tulis, 1 Agustus 2016, jumlah pembunuhan perempuan di Fans Page Facebook "Menghitung Pembunuhan Perempuan" sudah berjumlah 102 kasus tahun ini. Perempuan mudah sekali tumbang ya?

Lalu saat saya melihat Ibu Bertopi Koboi ini dan cucunya, saya merasakan semangat baru setelah terus-menerus disuguhkan berita kejam. Saya pikir barangkali benih laki-laki baru ada di diri Si Cucu. Penuh harap saya membayangkan Si Cucu berubah menjadi lelaki yang bekerja bersama dan setara dengan perempuan. Ya sekali lagi, bekerja bersama dan setara. Semoga bukan hanya angan-angan semu saja. Senyum Ibu menunjukan semangat hidup yang menyala-nyala dari perempuan yang barang kali tidak tahu apa itu kesetaraan gender. Mungkin ia lebih kenal dengan emansipasi wanita karena peringatan Hari Kartini (yang terkadang hanya sebatas memakai baju adat daerah).

Ibu Bertopi Koboi bekerja, walaupun tidak di kantor. Kantornya ya ladang itu, alat kantornya ya bakul itu dengan topi koboi yang sangar. Perempuan Jawa ini berbeda dari gambaran masa lalu kaumnya walaupun ia sudah cukup tua. Lihat saja keriputnya. Panas matahari tidak membuatnya takut. Dia punya senjata topinya yang lebar. Takut lapar barang kali telah mengalahkan ketakutan bahwa matahari dapat mengubah kulitnya menjadi kusam dan hitam. Peduli apa dengan iklan kosmetik. Ia tua dan ia bekerja untuk yang ia cintai. Siapa? Dirinya sendiri supaya ia dapat makan hari itu, cucunya barang kali, mungkin anak dan menantunya juga. Bukankah itu kenapa kita ingin duduk sama tinggi dalam mengambil keputusan? Kita berjuang untuk mendapatkan hak yang sama untuk memberikan yang terbaik dari diri kita untuk yang kita cintai melalui setiap keputusan kita.

Lalu saya dengar si lelaki kecil berkata lebih kurang seperti ini "mrene tak wadahi iki". Ah! Terus terang tepatnya saya lupa bagaimana ia bicara pada Ibu Bertopi Koboi, tapi saat itu pesan yang saya tangkap ia ingin membantu Si Ibu dan dengan cepat ia memunguti biji-biji jagung itu. Lalu bersama-sama mereka memunguti biji-biji yang jatuh. Melihat keduanya saling membantu, semoga saya tidak terlalu berlebihan menanamkan harapan agar anak ini menjadi laki-laki baru. Hai Nak! Semoga kelak kamu juga tidak malu untuk mengerjakan pekerjaan domestik ya. Kelak jangan malu memunguti biji beras yang jatuh lalu menanaknya.

Oya, soal kabar baik yang ingin saya sampaikan. Kabar baik pertama adalah perempuan Indonesia, kita sadari atau tidak kita sadari, mereka terus berjuang memperbaiki hidupnya. Bahkan pada generasi tua seperti Ibu Bertopi Koboi yang padanya melekat budaya patriarki Jawa, dia terus bekerja. Ya, kita sama-sama lelah dengan berita kejam tentang perempuan. Kita lelah dengan masyarakat yang terus menciptakan standar kesopanan dan kecantikan pada tubuh kita. Tetap berjuang!

Kita juga lelah dengan laki-laki. Lelaki yang padanya diajarkan budaya memperkosa saat melihat perempuan sexy. Namun jangan berhenti berharap, Si Bocah Lelaki Cilik ini mungkin akan menjadi lelaki baru yang duduk sama tinggi dengan kita. Padanya mungkin akan ada mata yang melihat perempuan sebagai subjek yang memiliki pikiran dan rasa sehingga ia tidak akan gampang memerkosa perempuan (dan membunuhnya). Ia juga tidak akan berujar perempuan sama dengan lolipop yang akan dihinggapi lalat saat bungkusnya dibuka. Inilah kabar baik yang kedua, masih ada harapan munculnya laki-laki baru. Tetap berharap!

Inilah keunikan Indonesia yang ingin saya tunjukan. Bagi saya perempuan yang berjuang di tengah budaya patriarki dan bocah lelaki yang mungkin menjadi lelaki baru itu adalah keunikan. Mereka bukan gunung berwibawa, bukan pantai cantik Indonesia yang berdebur riuh. Mereka rakyat Indonesia yang unik sama seperti kita.


Sumber Gambar Sampul : https://www.goodnewsfromindonesia.id/wp-content/uploads/images/source/fransiskaven42/IMG_4056.JPG

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FRANSISKA VENA AGUSTININGRUM

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara