Mengenal Kasoami, Pangan Masyarakat Buton, Sudah Mencoba?

Mengenal Kasoami, Pangan Masyarakat Buton, Sudah Mencoba?

Mengenal Kasoami, Pangan Masyarakat Buton, Sudah Mencoba?

Masyarakat Sulawesi terkenal dengan masyarakatnya yang gemar dengan hal-hal yang berkaitan dengan laut. Seperti Suku Bugis di Sulawesi Selatan, maupun Suku Buton di Sulawesi Tenggara. Namun meski begitu, suku-suku di Sulawesi tersebut tidak berarti mengenal makanan hasil tani. Sebab banyak sekali makanan hasil tani khas Sulawesi yang ternyata memang sudah menjadi pangan utama. Seperti Kasoami yang banyak ditemukan di kalangan Suku Buton.

Kasoami memiliki arti makanan dari ubi kayu yang diolah dengan uap panas (soa). Makanan ini dibuat dari tepung ubi kayu dan diolah menjadi gaplek dan difermentasi.

Pangan ini merupakan simbol persaudaraan dan keakraban dikalangan masyarakat Buton. Makanan yang biasanya dibentuk menyerupai kerucut ini dianggap menjadi makanan utama dalam gelaran adat atau tradisi di dalam keluarga Buton. Posisinya bahkan bisa lebih penting dari pada beras ataupun jagung. Menariknya, kasoami juga sering dijadikan bekal dalam perjalanan ataupun menjadi oleh-oleh antar sesama warga Buton.

Menurut hasil penelitian BPTP seperti dilansir laman Kementerian Pertanian, menunjukkan bahwa Kasoami ternyata juga memiliki kandungan kalori yang tinggi. Selain itu, ubi kayu yang masih memiliki kandungan HCN yang bersifat racun menurun kadarnya saat sudah diolah menjadi Kasoami. Sehingga disarankan dalam mengkonsumsi ubi kayu, sebaiknya diolah dahulu menjadi Kasoami.

Dalam pembuatannya, membuat kasoami mirip seperti membuat makanan olahan berbahan singkong seperti umumnya. Ubi Kayu yang telah dipanen akan dikupas dan dicuci. Kemudian akan diparut sampai halus. Hasil parutan tersebut masih basah sehingga untuk menghilangkan kandungan airnya, akan dilakukan pemerasan. Hasil akhirnya akan berupa kaopi atau semacam ampas. Inilah yang kemudian dijadikan bahan baku utama untuk kasoami.

Kaopi yang sudah siap kemudian dipotong-potong, kembali diremas dan diayak hingga sedikit kering. Kemudian tepung kaopi akan dimasukkan dalam cetakan berbentuk kerucut. Cetakan tersebut biasanya terbuat dari daun kelapa yang disulam.

Selanjutnya, cetakan yang telah berisi kaopi tersebut ditutup rapat dan dikukus selama 20 sampai 30 menit agar matang. Setelah matang, kasoami siap disantap. Umumnya Kasoami ini dimakan bersama dengan hasil laut seperti ikan asin atau ikan bakar.

Sumber : Litbang Kementan
Sumber Gambar Sampul : instagram.com/riendsyahril

Pilih BanggaBangga18%
Pilih SedihSedih18%
Pilih SenangSenang18%
Pilih Tak PeduliTak Peduli12%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi24%
Pilih TerpukauTerpukau12%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Bakal Saingi Bandara Changi Milik Singapura Sebelummnya

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Bakal Saingi Bandara Changi Milik Singapura

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020 Selanjutnya

Mau Liburan Tahun Depan ? Yuk, Lihat Tanggal Merah di Tahun 2020

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

Seorang copywriter dan penulis konten yang berusaha menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.