Nostalgia Tiga Penari Indonesia dengan Masyarakat Yirrkala

Nostalgia Tiga Penari Indonesia dengan Masyarakat Yirrkala
info gambar utama

Tiga penari Indonesia kembali menetap selama dua minggu di Yirrkala, Northern Territory, Australia untuk mengajarkan tari dan musik Indonesia. Mereka adalah Alfira O’Sullivan (direktur Suara Indonesia Dance), Murtala (penari asal Aceh yang menetap di Sydney), dan Ryanto (penari asal Banyumas). Kegiatan ini mereka namakan 'Re-Connection Our Conection'.

Kegiatan yang dilakukan untuk kedua kalinya ini bertujuan untuk menjalin kembali hubungan yang telah terjalin ratusan tahun lalu. Para pelaut Indonesia Timur ternyata dulu kerap mencari tripang di wilayah Northern Territory dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang Yolngu di daerah Yirrkala dan sekitarnya.

Penduduk Yolngu, baik dari anak-anak sampai dewasa mengetahui sejarah hubungan pelaut-pelaut dari wilayah timur Indonesia dengan mereka. Cerita tentang hubungan ini masih diceritakan secara turun menurun hingga sekarang. Maka tak heran apabila orang Indonesia yang datang akan langsung disambut hangat di Yirrkala.

kebersamaan tiga penari Indonesia dengan masyarakat Yirrkala. foto: Suara Indonesia Dance
info gambar

Jika tahun lalu fokus kegiatan ini adalah pertunjukkan dan memperkenalkan kesenian Indonesia, tahun ini lebih fokus pada pengajaran. Kegiatan yang didukung oleh Australia-Indonesia Institut ini mengajarkan beberapa tarian dari Indonesia, mengajarkan musik Angklung dari Jawa Barat, dan talempong dari Sumatera Barat.

Murtala mengajarkan alat musik Talempong. foto: Suara Indonesia Dance
info gambar

Asal mula kerjasama Suara Indonesia Dance dengan masyarakat Yirrkala ini, diperantarai oleh Roseale Person. Ia adalah penari dan mentor bagi murid-murid di Yirrkala Community School. Roseale menceritakan tentang Yirrkala dan hubungannya dengan Indonesia kepada Alfira dan Murtala ketika ia bergabung dengan Suara Indonesia Dance.

Para guru dari Yirrkala Community School mengatakan kegiatan ini menjadi highlight of the year dari sekolah mereka. Kegiatan yang dilaksanakan 1-14 Agustus 2016 ini ditutup dengan sebuah konser yang di Gelar di Yirrakala Art Center yang dihadiri oleh murid, guru, masyarakat lokal, masyarakat Indonesia, dan perwakilan Konsulat Indonesia di Darwin.

Malam pertunjukan di Yirrkala Arts Centre dan penyerahan angklung kepada Yirrkala Community School
info gambar

Di akhir kegiatan ini tiga set Angklung diberikan oleh Konsulat Indonesia di Darwin kepada Yirrkala Comummunity school. Angklung yang diberikan sebagai kenang-kenangan ini digunakan langsung Yirrkala Comummunity school untuk memainkan lagu Yolngu yang juga ditampilkan saat malam pertunjukkan. Mereka memanfaatkan waktu dua minggu tersebut untuk belajar memainkan lagu Yolngu dengan angklung.

Murtala berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan tidak hanya di sekolah yang sama, namun juga di komunitas masyarakat seperti Ibu-ibu dan pemuda. Jika ada kesempatan selanjutnya, penari asal Aceh ini juga berencana untuk melakukan pelatihan membatik dengan komunitas ibu-ibu dan melaksanakan pertunjukkan Indonesia-Yolngu yang menghadirkan seni Indonesia dan Yolngu dalam satu pentas dan kolaborasi seni.




Sumber : detik.com
Sumber Gambar : suaraindonesiadance.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini