Inilah 7 Rencana Aksi Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Luar Negeri untuk Negerinya

Inilah 7 Rencana Aksi Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Luar Negeri untuk Negerinya

Inilah 7 Rencana Aksi Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Luar Negeri untuk Negerinya

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tahun ini dihelat di Kairo, Mesir, akhir Juli lalu. Simposium kali ini mengusung tema “Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia”, dan diisi beberapa seminar dialog kebangsaan, diskusi komisi, rapat tahunan dan sidang kongres PPI Dunia. Dalam acara ini Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin beserta Deputi Grand Syekh Azhar turut hadir dan sekaligus membuka jalannya acara.

Simposium PPI Dunia "Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia"
Simposium PPI Dunia "Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia"

Dalam sesi dialog interaktif bersama Menteri Agama, Lukman Hakim menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ciri khas dalam tata cara berbangsa dan beragama. Hal ini terhimpun dalam pancasila sebagai simbol keberagaman agama. Menurutnya keberagaman ini (pluralitas) mestinya mendorong kita untuk saling melengkapi, bukan bertengkar dan bermusuhan.

Diskusi panel

Rangkaian kegiatan simposium pun dilanjut dengan diskusi panel. Dalam sesi ini terbagi ke dalam empat panel diantaranya: politik, ekonomi, agama, pendidikan dan budaya. Dalam sesi ini juga panitia menghadirkan sejumlah pakar dan tokoh nasional, seperti Prof. Mahfud MD, Prof. Joseph Kristiadi, Prof. Nasaruddin Umar, Prof. Amsal Bakhtiar, Faisal Basri, S.E, M.A., Yudi Latif, Ph.D, Dr. J.B Heru Prakosa, Sabeth Abilawa, M.E, Tubagus Mansur, Ak., M.Acc., Dr. Muchlis Hanafi dan Muhammad Danial Nafis.

Sesuai tema yang diangkat, empat diskusi panel diatas membahas persoalan-persoalan terbaru di Indonesia yang menyangkut keutuhan identitas bangsa. Namun secara umum diskusi-diskusi panel tersebut dibahas untuk menjadi tawaran solusi bagaimana memperteguh identitas bangsa Indonesia, yang kemudian solusi tersebut diramu dalam bentuk rekomendasi atau rencana aksi.

Dalam panel politik misalnya, ditekankan bahwa pilar identitas bangsa adalah pancasila. Maka sejatinya nilai-nilai pancasila harus diturunkan ke dalam berbagai dimensi. Namun persoalannya adalah ketidakmampuan kita dalam membumikan pancasila, sehingga dalam praktik politik itu semuanya bergeser. Akan tetapi bagaimanapun pancasila adalah representatif dari masyarakat Indonesia, yang artinya memiliki nilai kebersatuan dalam keberagaman (Unity in diversity).

Adapun dalam panel pendidikan sendiri, ditegaskan bahwa identitas merupakan suatu hal yang bukan dibicarakan tetapi digerakkan sehingga menghasilkan sebuah perubahan. Semua pergerakan dan perubahan sebagian besar berasal dari mahasiswa.

Sementara dalam kacamata ekonomi, narasumber mengutarakan bahwa Indonesia menempati posisi ketujuh terbesar sedunia yang menunjukkan bahwa 2,3 % dari masyarakatnya yang kaya adalah mereka yang dekat dengan penguasa. Sehingga banyak para politikus adalah orang yang punya kuasa terhadap uang. Meskipun demikian sistem perekonomian yang dibangun di Indonesia memang tidak terarah. Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Maka boleh jadi dengan hadirnya sistem ekonomi syariah dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin meningkat. Sebab tak bisa dipungkiri perkembangan ekonomi syariah sangat pesat dan telah digunakan di berbagai negara.

Sedangkan dalam panel agama sendiri, narasumber menegaskan secara gamblang bahwa terorisme tidak mengenal agama. Penyebab munculnya paham terorisme tidak tunggal, ia bahkan akumulasi dari berbagai persoalan, yang kemudian dibalut dengan dalil-dalil keagamaan. Maka tugas pemuka agama adalah memberikan klarifikasi yang menyeluruh terhadap tafsir-tafsir keagamaan yang selama ini dipahami secara menyimpang.

Diskusi Komisi: Tujuh Butir Rencana Aksi untuk Indonesia

Diskusi komisi yang diselenggarakan pada tanggal 26 Juli 2016 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penting simposium. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini untuk pertama kalinya PPI Dunia melahirkan gagasan bukan dalam bentuk Deklarasi ataupun Rekomendasi, melainkan Rencana Aksi untuk Indonesia.

Steven Guntur selaku Koordinator PPI Dunia 2015-2016 mengungkapkan bahwa tugas membangun bangsa bukan hanya menjadi tugas pemerintah semata, lebih dari itu juga adalah tugas setiap rakyatnya. Maka pada tahun ini PPI Dunia melibatkan seluruh elemen yang terdiri dari kurang lebih 51 PPI Negara dan 20 BEM kampus di Indonesia untuk merumuskan sebuah gerakan dimana dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat Indonesia. Berikut ini adalah tujuh butir Rencana Aksi:

Komisi Agama

  1. Radikalisme dan ekstremisme yang semakin marak di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemikiran yang melenceng dari ajaran agama yang dianut masyarakat Indonesia dewasa ini. Kemudian mengakibatkan terorisme yang semakin meningkat dan banyaknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Atas dasar itu, PPI Dunia mencoba membentuk sebuah tim kajian sebagai wadah diskusi online secara rutin. Tim kajian ini akan menjalin kerjasama dengan instansi pemerintahan terkait, diantaranya Kementrian Agama, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Selain itu akan dibentuk pula sebuah tim media kerohanian di PPI Dunia.
  1. Kasus pelecehan agama antar umat beragama di Indonesia yang berdampak pada pengikisan rasa persatuan rakyat Indonesia, dan hal ini bertentangan dengan asas pancasila dan UUD. Atas dasar itu dibentuklah tim media kerohanian di PPI Dunia untuk mengatasi isu tersebut. Tim ini diharapkan mampu menghasilkan karya berupa tulisan, foto dan video tentang isu-isu agama yang dikemas dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Komisi Politik

  1. Gerakan Separatis Papua Barat. Sebagaimna diketahui gerakan tersebut mencoba membentuk opini internasional bahwa kemerdekaan Papua merupakan hal yang patut didukung oleh dunia. Menanggapi isu tersebut, PPI Dunia tergerak untuk memberikan pandangan dan gagasan serentak bahwa Papua harus tetap menjadi bagian dari Indonesia.Untuk menindaklanjuti isu tersebut, tim kajian Papua yang dihimpun oleh PPI Dunia terus bersinergi dan memperkuat gerakannya untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan yang sudah direncanakan. Kegiatan tersebut dapat melahirkan opini alternatif di dunia internasional tentang harapan kondisi Papua sesungguhnya (masih dalam NKRI). Dalam hal ini, diawali dengan memperkuat tim kajian Papua PPI Dunia serta mengirimkan tulisan hasil kajian mengenai Papua ke setiap media di Negara masing-masing PPI Negara.
  1. Munculnya gerakan anti demokrasi di berbagai negara, seperti terjadinya banyak kudeta hasil pemilihan umum yang demokratis. Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, berkewajiban mempromosikan nilai demokrasi yang sudah dilaksanakan di Indonesia ke negara-negara tersebut. Atas dasar itu, setiap PPI di seluruh Negara akan mengadakan kegiatan lintas budaya dengan bertemakan demokrasi di Indonesia.

Komisi Pendidikan dan Budaya

  1. Kesejahteraan guru dan pendidikan daerah terpencil. Isu ini diangkat karena terdapat kesehjateraan guru yang memprihatinkan. Selain itu standar pendidikan yang kurang merata merupakan isu yang harus diperhatikan. Berangkat dari hal itu, PPI Dunia menghimpun gerakan pengumpulan dana dan dapat digunakan untuk melaksanakan gerakan pembangunan 100 sekolah dasar. Selain itu gerakan pengumpulan koin untuk kenaikan gaji guru di Indonesia juga menjadi target utama PPI Dunia.

  1. Isu tentang media dan sistem informasi. Sedikitnya informasi yang diterima oleh siswa SMA dan universitas di sekolah di wilayah marginal menjadi poros gerakan pelajar Indonesia di luar negeri untuk membentuk sebuah wadah yang inspiratif di sejumlah kota di Indonesia, baik dalam bentuk online (video, web, atau aplikasi) maupun offline (datang langsung ke SMA, Universitas dan masyarakat umum di daerah tertinggal).

Komisi Ekonomi

  1. Peningkatan perekonomian masyarakat Indonesia di level grass root, dalam ranah penguatan dan perluasan sistem informasi perdagangan dari petani ke konsumen.Berangkat dari isu ini, PPI Dunia mencanangkan beberapa langkah strategis. Pertama, PPI Dunia akan memilih desa binaan bekerjasama dengan LPPM IPB, UIN Jakarta, UIN Palembang, UNPAD, UGM. Kedua, pelaksanaan Summer Vacation, yaitu kolaborasi antara PPI Dunia Dan BEM yang nantinya akan memberi kontribusi nyata dalam program Bina Desa. Selain itu PPI Dunia akan menjalin kerjasama dengan para pemangku kebijakan/stakeholder yang terdiri dari kelompok tani, perangkat desa, pelaku usaha terkait, dan juga pemuka agama setempat.

sicairo2016.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Hari Maritim Nasional, Sejauh Mana Indonesia Sudah Berlayar? Sebelummnya

Hari Maritim Nasional, Sejauh Mana Indonesia Sudah Berlayar?

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia Selanjutnya

Jamur Tudung Pengantin, Jamur Cantik yang Tumbuh di Indonesia

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.