Berkarya dan berprestasi bisa dimana saja, seperti yang dilakukan oleh arsitek asal Indonesia, Haris Koentjoro yang sejak tahun 1999 meniti karir sebagai arsitek di Amerika Serikat. Keputusannya untuk terbang ke Negeri PamanSam itu tidak sia-sia sebab dirinya kini telah menjadi seorang arsitek sukses di perusahaan desaindan arsitektur terekmuka, Development Design Group (DDG).

Sebagaimana Haris bercerita pada VOA Indonesia, posisinya saat ini sebagai Principal yang membawahi studio desain di DDG harus melalui berbagai perjuangan. Sepertiharus mengulang sebagai desainer junior saat pertama kali bekerja di Amerika Serikat meski sudah memiliki cukup banyak pengalaman di Indonesia.

"Jadi saya mulai masuk sebagai designer, junior designer waktu itu, meskipun di Indonesia pengalamannya sudah banyak, tapi begitu di AS jadi junior designer lagi," ujar lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Selama hampir tiga dekade di Amerika Serikat, Haris mangaku harus melalui setiap tahap jenjang sebagai seorang arsitek. Hingga akhirnya kini menempati posisi penting di DDG.

"Terus di sini kan ada beberapa tahap, jadi senior designer, kemudian associate, kemudian senior associate, sekarang saya jadi principal," ungka Haris.

Perannya sebagai seorang principal membuatnya bertugas sebagai penaggung jawab studio yang menggarap berbagai proyek arsitektur di Indonesia. Studio tersebut bekerja bersama-sama dengan enam studio milik DDG lain yang ada diberbagai kawasan.

Di DDG Haris dianggap sebagai desainer asal Indonesia yang berprestasi hal tersebut diungkapkan oleh Anthony van Vliet, Presiden dan CEO dari DDG Amerika.

"Haris adalah pria yang sangat berbakat dan kami sangat beruntung memilikinya. Saya menghargai Haris dan hubungan kerja kami sangat baik," jelas Anthony.

Sebagai diaspora Indonesia secara pribadi Haris menilai bahwa talenta asal Indonesia dianggap memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Sebab menurutnya orang Indonesia bisa berpikir secara komprehensif berkat pendidikan yang memang mengharuskan mengetahui banyak hal dari berbagai macam aspek. Selain itu orang Indonesia juga memiliki kekuatan dalam bidang sosial dan kebudayaan. Hanya saja, menurut Haris kekurangan dari talenta Bangsa Indonesia adalah lemahnya komunikasi dalam menyampaikan ide dengan Bahasa Inggris.

Itu sebabnya, Haris menyarankan agar para arsitek muda asal Indonesia untuk bisa berlatih presentasi proyek dalam Bahasa Inggris di sebuah forum. Dirinya juga menyarankan agar arsitek Tanah Air juga turut berkompetisi dalam ajang arsitektur internasional termasuk menjalani program magang sebagai bagian dari latihan tersebut.

"Jadi yang bisa dilakukan untuk arsitek-arsitek kita di Indonesia, terutama yang muda, perbanyaklah pengalaman, jadi intern itu penting, salah satunya untuk mengikuti global trend itu seperti apa," saran pria asal Madiun itu.

DDG dikenal sebagai perusahaan yang memiliki banyak proyek di Indonesia.Selain di Indonesia, perusahaan yang didirikan sejak 1978 itu juga banyak mengerjakan proyek di berbagai negara. Perushaan berbasis di Baltimore Maryland Amerika Serikat itu memiliki spesialisasi dalam bidang perencanaan masal serta desain proyek besar yang kompleks.

Apa yang telah dicapai oleh Haris membuktikan bahwa tenaga ahli dan talenta arsitektur asal Indonesia tidak kalah dengan profesi serupa dari luar negeri. Meski masih terdapat kekurangan, tetapi kekurangan tersebut merupakan tantangan yang harus bisa dijawab oleh anak-anak bangsa Indonesia.

Sumber : VOA Indonesia
Sumber Gambar Sampul : ddg-usa.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu