Delilah, Sang Badak Harapan Way Kambas

Delilah, Sang Badak Harapan Way Kambas
info gambar utama

Upaya konservasi di Indonesia khususnya Badak Sumatera, beberapa waktu lalu mendapatkan harapan baru. Harapan tersebut datang setelah lahirnya badak betina pada 12 Mei 2016 yang lalu di Suaka Badak Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Badak Harapan itu lahir dari sang induk yang bernama Ratu (15 tahun) dan pejantan bernama Andalas (15 tahun). Sehingga total badak yang berada di suaka ini berjumlah tujuh individu.

Badak betina harapan Way Kambas itu kemudian diberi nama Delilah. Sebuah nama yang memiliki banyak penafsiran yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia.

Berbagai spekulasi muncul terkait penamaan tersebut. Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), Widodo S. Ramono yang sempat mengungkapkan pada Mongabay Indonesia mengatakan bahwa ada tiga penafsiran terkait hal itu. Pertama, Delilah adalah kekasihnya manusia kuat, Samson, yang terkenal dalam cerita. Kedua, Di’l Allah yang merupakan Bahasa Arab berarti anugrah dari Allah. Ketiga, dalam Bahasa Jawa ada juga tafsiran Ndelalah kersaning Allah yang artinya keajaiban atas karunia Allah.

“Jelasnya, ya harus tanya Presiden langsung,” ujar Widodo.

Widodo mengungkapkan bahwa kelahiran Delilah merupakan buah dari kerja keras upaya konservasi guna melindungi dan meningkatkan populasi Badak Sumatera. Sampai saat ini, jumlah Badak Sumatera diperkirakan sekitar 100 individu.

“Di alam memang ada juga badak sumatera yang lahir, tapi apakah kita bisa memastikannya? Mengingat, populasi badak sumatera yang ada saat ini terbatas dan berada di kantong-kantong yang terisolasi satu dengan lainnya,” jelasnya.

Delilah, juga berdasarkan berita yang dilansir Mongabay Indonesia, di usianya yang akan memasuki 5 bulan terlihat sehat. Pertumbuhannya baik, dan diharapkan akan mampu menghasilkan keturunan badak yang sehat di masa mendatang.

“Kondisi fisik secara umum sehat, tidak ada gangguan. Darahnya juga normal, sebagaimana badak lainnya,” tutur Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera, drh. Zulfi Arsan.

Delilah bersama induknya, Ratu (Foto: Bachran/YABI)
info gambar

Sampai saat ini, Delilah sepenuhnya masih diasuh oleh induknya, Ratu. Itu mengapa Ratu dan Delilah akan terus diperhatikan oleh keeper (penjaga badak) dan tim dokter SRS, 24 jam penuh. Langkah ini diperlukan sebab selama Delilah belum lepas dari asuhan induknya, perkembangan hariannya harus terus dipantau dan dijaga.

Zulfi mengungkapkan berdasarkan pengalamannya, secara umum anak badak akan diasuh oleh induknya sampai dengan umur tiga tahun. Namun bila anak badak lahir di kebun binatang, masa asuh tersebut bisa lebih singkat menjadi sekitar 1,5 tahun saja.

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan badak yang disebut-sebut paling primitif sebab telah hidup di muka bumi sejak 20 juta tahun silam. Cirinya adalah berambut, bercula dua dan merupakan badak dengan ukuran terkecil yang ada saat ini. Dahulu, persebarannya ada di Asia Tenggara. Namun kini, populasinya menurun drastis dan diperkirakan hanya tersisa 100 individu.

“Satu individu badak betina sumatera saat ini sangat berharga untuk menambah jumlah yang ada sekarang,” ungkap Pakar badak Indonesia sekaligus Program Manajer Yayasan Badak Indonesia, Haerudin R. Sudjudin.

Delilah jelas merupakan badak harapan Way Kambas. Tidak hanya untuk sumatera tetapi juga Indonesia sebab badak ini merupakan salah satu kekayaan fauna yang dimiliki Nusantara. Delilah juga menjadi pelengkap kabar gembira konservasi badak setelah empat tahun yang lalu badak jantan bernama Andatu juga dilahirkan dari induk yang sama, Ratu.

Andatu saat berusia 3 tahun (Foto: Haerudin R. Sadjudin / YABI)
info gambar

Tentu tindakan konservasi bukan merupakan upaya yang bisa dilakukan dalam satu generasi. Sebab pemulihan populasi membutuhkan waktu bertahun-tahun dan harus berhadapan dengan tantangan-tantangan yang tidak mudah seperti perburuan liar. Oleh karena itu, perlu adanya peran banyak pihak agar jangan sampai Badak Sumatera hanya menjadi cerita pada anak cucu bangsa Indonesia.

Sumber : Mongabay Indonesia
Sumber Gambar Sampul : Rhett Butler / mongabay.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini