Jadi Nama Bandara Udara, Siapakah Juanda?

Jadi Nama Bandara Udara, Siapakah Juanda?

Bandar Udara Juanda © adiart

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Siapa yang tak kenal dengan Bandara Internasional Udara Juanda, Surabaya?

Nama salah satu bandara terbesar di Asia Tenggara itu diambil dari nama salah satu pahlawan nasional Indonesia, Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja atau Ir. Haji Juanda yang lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911. Beliau merupakan Perdana Menteri Indonesia ke-10, menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Lalu, beliau menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Ir H. Juanda
Ir H. Juanda

Kontribusi terbesar Juanda adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Juanda merupakan anak seorang bangsawan bernama Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Raden Kartawidjaja merupakan Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS) dan kemudian ia pindah untuk mengenyam ke sekolah Europesche Lagere School (ELS) alias sekolah khusus untuk anak orang Eropa. Lalu, ia lanjut mengenyam pendidikan di Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Setelah itu, ia memilih untuk menjadi pengajar di SMA Muhammadiyah di Jakarta dengan gaji seadanya walaupun telah ditawari menjadi asisten dosen di Technische Hogeschool dengan gaji lebih besar.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Djuanda memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang pada tanggal 28 September 1945. Lalu, ia menjabat Menteri Perhubungan. Ia juga pernah menjabat menjadi Menteri Pengairan, Kemakmuran, Keuangan, dan Pertahanan. Oleh pers, ia dijuluki ‘menteri marathon’ karena jabatan menteri yang ia miliki.

Djuanda wafat di Jakarta 7 November 1963 karena serangan jantung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Selain namanya diabadikan sebagai Bandara udara di Surabaya atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut, namanya juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Sumber : Biografiku

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga54%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Xplorindonesia, Platform Digital untuk Perkuat Pariwisata Indonesia Sebelummnya

Xplorindonesia, Platform Digital untuk Perkuat Pariwisata Indonesia

Sejarah Hari Ini (7 Juli 1977) - Museum Bahari, Tempat Memamerkan Kemaritiman Indonesia Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (7 Juli 1977) - Museum Bahari, Tempat Memamerkan Kemaritiman Indonesia

Athaya P. Belia
@ayapritabelia

Athaya P. Belia

ohstammered.blogspot.co.id

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.