Lupa Sandi?

Merayakan Kembalinya Indonesia di Takhta Bulu Tangkis Dunia

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Merayakan Kembalinya Indonesia di Takhta Bulu Tangkis Dunia
Keterangan Gambar Utama ©radarindo.com

Kemenangan indonesia di China Open 2016 masih hangat – hangatnya dibicarakan. Prestasi membanggakan yang dicetak oleh dua pasang atlet Indonesia tentunya merupakan sesuatu yang perlu diperhitungkan. Sejak dulu, bangsa ini memang dikenal sebagai negara pencetak atlet – atlet bulutangkis yang handal, macan – macan lapangan yang sanggup membuat lawan menjadi gemetar setiap kali mereka turun bertanding.

Awal yang Menakjubkan

Sejak awal kemunculannya dalam panggung bulutangkis dunia, Indonesia sukses mencuri perhatian. Perhelatan Piala Thomas tahun 1958 di Singapura menjadi awal yang manis. Di zaman itu, dominasi bulutangkis dunia masih dipegang Amerika Serikat, Malaysia, Inggris, Denmark, dan Thailand. Namun siapa sangka, Indonesia mencetak prestasi besar dengan  tampilnya all Indonesian final di cabang tunggal putra, Tan Joe Hok dan Ferry Sonnevile. Pembuka yang menakjubkan.

Demikian pula, pada rentang tahun 1960 hingga 1970 piala Thomas tidak pernah absen dari tangan Indonesia. raksasa – raksasa dunia ditumbangkan dari tahun ke tahun. Thailand, Denmark, mati kutu di tangan Indonesia. Hanya satu kali tim Indonesia tidak berhasil membawa gelar, yaitu pada tahun 1967 dikarenakan insiden skors.

Baca Juga
Rudy Hartanto, sang legenda yang jadi perbincangan dunia (sumber : asset.kompas.com)
Rudy Hartanto, sang legenda yang jadi perbincangan dunia (sumber : asset.kompas.com)

Pula, muncul nama – nama besar yang kini menjadi legenda dunia. Sebut saja Rudy Hartono, yang kelak namanya tercatat di Guinness Book of World Records sebagai pemegang rekor All England terbanyak sepanjang masa, delapan kali dengan tujuh kemenangan berturut – turut. Liem Swie King, pemain yang berjuluk King Smash ini juga menjadi mega bintang pada saat itu. Ada juga ganda putra Tjuntjun – Johan  Wahjudi yang menjadi jawara selama enam kali. Indonesia benar – benar unjuk gigi.

Pasang – Surut Prestasi

Pada tahun 1980, China muncul sebagai saingan. Dominasi negeri tirai bambu di arena pertandingan mulai terlihat. Berbagai gelar pada berbagai kejuaraan mampu mereka rebut. Walau begitu, Indonesia masih mampu mengoleksi satu dua gelar.  

Namun hal itu tidak berlangsung lama, pada periode 1990-an, sang jawara kembali Berjaya. Olimpiade Barcelona tahun 1992 menjadi titik balik kejayaan Indonesia di arena bulutangkis. Untuk pertama kalinya, Indonesia membawa pulang medali emas dari ajang olimpiade. Tidak tanggung – tanggung, dua medali emas dipersembahkan oleh pasangan kekasih Susi Susanti dan Alan Budikusuma, dilanjutkan dengan dua medali perak masing – masing dari Ardi Wiranata serta pasangan Eddy Hartono – Rudy Gunawan. Sementara itu, medali perunggu dipersembahkan oleh Hermawan Susanto. Empat tahun berikutnya, pasangan legendaris Rexy Mainaky – Ricky Subagja membawa emas dari Olimpiade Atlanta. Sedangkan pada Piala Thomas Indonesia meraih juara lima kali secara berturut turut pada periode 1994 – 2002. Di kejuaraan All England, Indonesia menjadi juara tiga kali. Sedangkan di Piala Uber, Indonesia meraih kemenangan sebanyak dua kali.

Alan - Susi, sepasang pencetak sejarah emas olimpiade (sumber : asset.kompas.com)
Alan - Susi, sepasang pencetak sejarah emas olimpiade (sumber : asset.kompas.com)

Pada periode 2000-an, Indonesia seakan naik turun. Medali emas olimpiade diraih Taufik Hidayat pada Olimpiade Athena tahun 2004, gelar juara pada kejuaraan dunia BWF sempat beberapa kali diraih. Medali Emas Olimpiade 2008 pun tetap diraih.  Namun mulai tahun 2004 hingga tahun 2011 indonesia tidak pernah lagi membawa pulang piala Thomas dan piala Uber. Bahkan, bahkan piala All England pun tak pernah tersentuh. Untuk pertama kalinya, pada piala Thomas tahun 2012 indonesia gagal masuk semifinal. Di masa – masa ini, nama – nama pebulutangkis dari China seperti Lin Dan, Chen Long dan sederet nama lainnya mulai mendominasi. Tidak hanya itu, Malaysia mulai menggoncang dengan Lee Chong Wei sebagai andalan utama.  Indonesia miskin gelar, bahkan pada kompetisi yang diselenggarakan dalam negeri pun suram setelah Indonesia Open dijuarai oleh pasangan Vita Marissa – Liliyana Natsir.

Tahun 2012, awan cerah mulai menunjukkan titiknya. Tahun 2012,  Simon Santoso menjadi juara pada Indonesia Open, disusul Muhammad Ahsan – Hendra Setiawan pada ajang yang sama di tahun 2014. Senjakala prestasi Indonesia mulai tampak. Krisis juara mulai menghantam PBSI untuk mencetak atlet – atlet handal yang mampu meraih kembali tahta Indonesia pada bulutangkis dunia. Sederet nama baru mulai muncul ke permukaan.  Pemain – pemain muda yang potensial mampu menujukkan bahwa Indonesia kini sudah siap untuk kembali sebagai penguasa lapangan.  Sebut saja Praveen Jordan, Debby Susanto, Kevin Sanjaya, Jonatan Christie, dan sejumlah nama lainnya.

Sederet nama baru mulai melambung. Akankah Indonesia kembali berjaya? (sumber : print.kompas.com)
Sederet nama baru mulai melambung. Akankah Indonesia kembali berjaya? (sumber : print.kompas.com)

 Meski pada saat itu tradisi emas olimpiade sempat terhenti, gelar juara disambung kembali oleh Tontowi Ahmad – Liliyana Natsir pada Olimpiade Rio 2016, tepat pada puncak perayaan proklamasi Kemerdekaan yang ke-71. Sebelumnya, Praveen Jordan – Debby Susanto meraih juara All England 2016. Lalu pada  November ini, China Open menjadi ajang pembuktian dengan dua gelar juara di cabang Ganda Putra dan Ganda Campuran. Indonesia kembali Berjaya dengan membawa pulang dua gelar juara yaitu ganda putra dan ganda campuran dalam turnamen tersebut, sementara tiga tempat lainnya diisi oleh Korea, India, dan Denmark. Sang tuan rumah, Tiongkok, harus berbesar hati dengan kekosongan gelar. Ini pertama kalinya Tiongkok gagal dalam sejarah 30 tahun perhelatan China Open.

Kemenangan pasangan Indonesia dalam turnamen super series ini tentunya semakin mengukuhkan taring Indonesia sebagai raja bulutangkis dunia. Prestasi gemilang di tahun – tahun silam mulai terulang kembali, tanda kerja keras yang menjadi harga mati. Atlet – atlet kini semakin mantap dalam berlaga, menunjukkan siapa macan dunia yang sebenarnya. Mereka kini siap menjadi para legenda.


Dari : berbagai sumber 

Pilih BanggaBangga86%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli1%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi2%
Pilih TerpukauTerpukau7%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata