Bukan warga negara Indonesia, bukan pula keturunan Jawa. Tapi Maria Wronska-Friend telah menekuni Batik Jawa selama 30 tahun. Di penghujung tahun 2016 ini, Maria yang sekarang tinggal di Australia meluncurkan ‘Batik Jawa Bagi Dunia’, buku dua bahasa yang ia persembahkan untuk masyarakat Indonesia.

Lahir di kota Lodz, Polandia, Maria Wronska-Friend, adalah antropolog budaya yang telah mempelajari tekstil selama sekitar 3 dekade.

Ketertarikannya pada Indonesia, khususnya Batik Jawa dimulai sejak tahun 1970an ketika ia menempuh pendidikan di Universitas Lodz jurusan Antropologi.

Uniknya, perhatian Maria terhadap Batik dipicu oleh tradisi yang justru dilakukan di negara asalnya.

“Di Polandia, ada cara kuno untuk menghias telur Paskah atau Pisanki, yang sangat mirip dengan Batik Jawa. Tapi hiasan dari lilin ini tak dicetak di atas baju, melainkan di kulit telur. Nah, salah seorang teman menunjukkan kesamaan dua teknik ini pada saya lalu saya memutuskan untuk meneliti Batik Jawa sejak saat itu,” cerita Maria kepada Nurina Savitri dari ABC Australia Plus Indonesia.

Selama 25 tahun terakhir, Maria menetap di Australia untuk mengajar dan menjadi peneliti senior di Universitas James Cook di Cairns, Queensland utara. 

Pada akhir bulan November 2016, perempuan yang pernah tinggal selama 10 tahun di pedesaan Papua Nugini ini meluncurkan buku berjudul ‘Batik Jawa Bagi Dunia’ atau ‘Javanese Batik To The World’.

Buku yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, ini menceritakan tentang sejarah Batik Jawa dan perjalanannya hingga menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Maria melucurkan buku sejarah batik Jawa yang dipersembahkan bagi masyarakat Indonesia (source image: australiapulus)
Maria melucurkan buku sejarah batik Jawa yang dipersembahkan bagi masyarakat Indonesia (source image: australiapulus)

Dikisahkan Maria, sejak akhir abad ke-19, teknik dan motif dan juga keindahan Batik Jawa telah menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah produsen tekstil, perancang dan seniman di seluruh dunia.

Awalnya, diaspora Batik Jawa dipicu oleh kolonialisme. Pada saat itu, teknik menggambar dengan lilin panas dikenalkan pertama kali sebagai seni dekoratif di Belanda. Tak lama kemudian, Batik menjadi sangat populer di kalangan seniman dan pengrajin Eropa. Menariknya, meski Batik pada zaman itu disesuaikan dengan budaya Barat, di sisi lain ia juga digunakan sebagai perwujudan fantasi dari Timur.

Batik Jawa juga melanglang hingga Afrika. Pengaruhnya terhadap tekstil Afrika merupakan hasil tak langsung dari kolonialiasi Eropa dan dimulai pada akhir abad ke-19, ketika imitasi Batik Jawa yang dicetak di Belanda dan Inggris mulai diperdagangkan di Afrika Barat.

Kini, tulis Maria, Batik Jawa telah diterima secara luas oleh masyarakat Afrika dan menjadi bagian yang menyatu dari tradisi dan identitas tekstil Afrika.

Teknik melukis kain ala Jawa ini juga masuk ke India di akhir tahun 1920an, ketika penyair Rabindranath Tagore berkunjung ke Pulau Jawa dan Bali.

Sampul depan buku 'Javanese Batik to the World. Buku ini ditulis ke dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia (source image: australiaplus)
Sampul depan buku 'Javanese Batik to the World. Buku ini ditulis ke dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia (source image: australiaplus)

Ia sangat terpukau dengan budaya Indonesia lalu mengenalkan beberapa di antaranya dalam perkuliahan di Universitas Visva Bharati, Bolpur, India. Yang terbaru, pertemuan Batik Jawa dengan budaya lain terjadi pada era 1970an ketika teknik ini diperkenalkan ke komunitas Aborijin di wilayah gurun Australia.

Ditulisnya buku ‘Batik Jawa Bagi Dunia’ dalam dua Bahasa bukan tanpa sebab. Maria mengaku memiliki misi khusus.

“Saya ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia akan punya akses yang mudah untuk mendapat buku ini, karenanya, meski saya biasanya hanya menerbitkan buku dan artikel dalam bahasa Inggris, kali ini saya bersikeras untuk juga menerbitkannya dalam bahasa Indonesia,” terang Maria.

Menurutnya, hanya segelintir orang Indonesia yang mengetahui bahwa motif tekstil mereka telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman, perancang dan pengrajin di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika, India hingga komunitas Aborijin di Australia.

“Orang Indonesia seharusnya sangat bangga karena tekstil mereka dihargai di banyak negara dan saya harap buku ini akan membantu mereka untuk juga menghargainya,” tutur peneliti berambut sebahu ini.

Maria kerap prihatin akan betapa generasi muda Indonesia tak banyak yang mengetahui, terlebih lagi mendalami, soal tradisi dan pengaruh Batik Jawa di dunia.

“Sementara dunia mengagumi seni dari Batik Indonesia, generasi muda saat ini justru memiliki pengetahuan terbatas akan aspek penting warisan budayanya. Padahal sejak tahun 2009, ketika Batik diakui oleh UNESCO, makin banyak orang yang tertarik akan tradisi ini,” jelasnya seperti ditulis Australia Plus.

Maria juga berharap, masyarakat Indonesia juga tak meninggalkan kain Batik tradisional yang dibuat dengan tangan. 

“Kini, orang lebih sering memakai tekstil hasil industri yang dihias dengan motif Batik, bukan Batik sebenarnya. Ini hanyalah kerja mesin yang tak banyak memiliki sentuhan tangan manusia yang justru membuat kain ini sangat unik,” paparnya.

Ia menyambung, “Karena itu, saya sangat senang melihat peluncuran buku saya di kampus Univeristas Indonesia, Depok. Begitu banyak orang yang hadir menggunakan Batik terbaik dan ini sungguh menggembirakan. Meski harus saya akui yang banyak memakainya adalah orang-orang berusia paruh baya dan lebih tua lagi, tak banyak generasi muda.”


Sumber : australiaplus

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu