Lupa Sandi?

Wow, Baca Buku dengan Teknologi Virtual Reality? Bagaimana Sensasinya?

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Wow, Baca Buku dengan Teknologi Virtual Reality? Bagaimana Sensasinya?

Bagi para penyuka membaca sekarang bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda dan jauh lebih seru saat membaca buku. Semua orang tentu sudah banyak yang mengenal teknologi virtual reality (VR) di mana dengan teknologi ini pengguna bisa merasakan interaksi dengan lingkungan yang disimulasikan dengan komputer. Sejauh ini, VR masih digunakan untuk hiburan-hiburan visual seperti game dan film.

Namun, teknologi virtual reality (VR) di Indonesia sebentar lagi tidak hanya dapat dinikmati dalam gaming, tetapi juga membaca buku.  Maisie Junardy, Donna Widjajanto, Bobby Arthawan, Steve Makalew, dan Henky Christianto memperkenalkan terobosan baru di dunia perbukuan Indonesia. Mereka meluncurkan novel berjudul ‘Man’s Defender’ dalam bentuk virtual reality.

Bagaimana buku bisa dinikmati dengan teknologi virtual reality?

Maisie dan rekan-rekannya dalam karya novel ini memasukan imajinasi dan tekonologi VR untuk menghadirkan pengalaman membaca buku yang lebih nyata. Mereka mengajak pembaca untuk ikut tenggelam dalam cerita dunia fiksi novel Man's Defender ini. Nantinya, di dalam Man’s Defender VR Book, pembaca tidak hanya akan disuguhkan oleh tampilan teks semata, namun juga dapat memilih untuk mendengar cerita tersebut yang dinarasikan oleh pengisi suara.

Buku tersebut menceritakan Alex Rosetti, keturunan Indonesia-Italia, yang merasa terasing karena sering berpindah negara. Ia berubah ketika berkenalan dengan Culture-Art Application and Simulation Interface (CAASI) dan bersahabat dengan gadis avatar bernama Viska.

"Pembaca akan melihat berbagai tempat unik di dunia yang dikunjungi Alex dan Viska, serta terjun ke adegan seru di buku dari balik kacamata VR," kata Maisie.

Bobby Arthawan dari Bilcom, pemimpin dan penasihat tim pembuatan buku VR tersebut, mengatakan adegan yang dialami tokoh dalam buku dapat digambarkan dalam VR dan pengguna dapat memilih suasana membaca buku, misalnya, di pantai.

Gerak-gerik pembaca buku VR, seperti apa yang dilihat pertama kali, apa yang menarik perhatian pembaca, dapat menjadi referensi bagi penulis untuk mengembangkan cerita.

Dengan buku VR ini, diharapkan pembaca dan pengarang dapat menyamakan imajinasi mereka mengenai dunia dalam novel. Namun, dia menegaskan, pembaca tetap akan dibiarkan berimajinasi, hanya saja, aplikasi VR yang mendampingi novel Man’s Defender ini akan berfungsi layaknya referensi.

“Setiap orang punya theater of mind yang berbeda-beda. Aplikasi VR ini dapat mengarahkan pembaca ke referensi sang penulis, jadi tidak seluruhnya menutupi imajinasi pembaca,” ujarnya.

Bobby menambahkan, versi VR akan diluncurkan pada saat yang bersamaan dengan buku fisik. Pengguna Android dan iOS perlu mengunduh aplikasi di gawai mereka dan memakai perangkat VR yang memiliki gyro .

Man's Defender juga akan dapat digunakan di VR sederhana seperti Google Cardboar dengan mengoperasikannya secara manual melalui tombol yang ada di ponsel. Man's Defender , yang terbit dalam bahasa Indonesia dan Inggris pada Maret 2017 mendatang merupakan seri pertama dari Distinguished-Trilogy . Menurut Bobby, buku VR juga akan dibuat trilogi, mengikuti cerita dalam novel.

“Dengan Man’s Defender, kami ingin menyampaikan pesan bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk melestarikan dan mengenalkan kekayaan budaya dunia. Ini merupakan fondasi dari formasi akrakter setiap individu di dunia, masing-masing dengan keunikannya sendiri,” papar Maise Junardy.

Teknologi, lanjutnya, juga harus digunakan untuk membuat hidup harmonis dalam pengaturan mulikultural. Dan, hal ini tercermin dari perjuangan Alex Rosetti.

Donna Widjajanto ikut menambahkan, buku VR tersebut dapat menginspirasi para pembacanya untuk mengeksplorasi kebudayaan lokal maupun internasional.

“Kami juga mengajak pembaca untuk merayakan keanekaragaman budaya di tengah kondisi dunia saat ini yang penuh konflik antar budaya,” katanya.

Dalam pembuatannya, ketiga orang ini juga dibantu oleh Steve Makalew dari Bilcom sebagai pengembang aplikasi dan Henky Christianto dari 360 Indonesia, yang menyediakan konten 360 derajat dari tempat-tempat yang digunakan dalam buku VR ini.


Sumber : ANTARA | possore.com

Pilih BanggaBangga7%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau53%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie