Lupa Sandi?

Mendunia karena Sepatu: Niluh Djelantik

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Mendunia karena Sepatu: Niluh Djelantik

Perempuan mana yang tak suka sepatu hak tinggi? Rasa-rasanya, alas kaki yang satu ini masih menjadi pilihan favorit kaum hawa. Tak aneh nila kemudian berbagai merk ternama berlomba-lomba merebut perhatian para penggila sepatu jenis ini. Satu diantaranya adalah Niluh Djelantik. Meski masih asing di telinga orang Indonesia, namun brand sepatu yang telah dipatenkan sejak tahun 2008 ini sangat terkenal di mancanegara.

Adalah Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, perempuan di balik label sepatu Niluh Djelantik. Mengusung nama keluarganya, putri dari pasangan Ni Nyoman Palmi dan Putu Djelantik ini berhasil meraih Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards 2010 lalu. Kecintaannya pada sepatu menuntunnya menekuni bisnis sepatu yang kini telah dikenal dunia.

Tak hanya memenangi penghargaan, label berbau Bali ini juga telah menembus Globus Switzerland, salah satu retailer terkemuka di Eropa, pada 2011. Capaian tersebut terus berlanjut di 2012, dimana ibu satu putri ini kemudian berkesempatan menjalin kerjasama dengan retailer terkemuka dari Rusia.

Kesuksesan perempuan yang berasal dari Denpasar ini tidak berjalan secara instan. Kerja keras dan pantang menyerah merupakan kunci dari kesuksesan yang diraihnya. Masa kecil yang keras menempa perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini menjadi sosok yang kuat.

Baca Juga
Niluh bersama ibunya
Niluh bersama ibunya

Berasal dari keluarga yang sederhana, kedua orangtuanya bercerai sejak ia berusia satu tahun. Dibesarkan seorang diri oleh sang ibu, sulung dari dua bersaudara ini kerap menemani ibunya berdagang di pasar. Meski begitu, memberikan pendidikan terbaik seolah menjadi tekad ibunda tercinta. Sayangnya, karena kekurangan biaya, Niluh kecil hampir tak pernah mendapatkan sepatu baru.

Sepatu yang dimilikinya selalu kebesaran dan tak pernah pas di kakinya. Sepatu tersebut baru terasa pas saat kondisinya sudah rusak dan berlubang. Sejak itulah alas kaki selalu menjadi perhatian Niluh. Ia pun berujar pada sang ibu bila ia akan membeli sepatu yang nyaman di kakinya bila ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri.

Niluh remaja akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Gunadarma Jakarta. Kuliah sambil bekerja pun ia lakoni. Dari gaji pertamanya, perempuan sawo matang ini akhirnya bisa membeli sepatu seharga 15.000 rupiah. Meski terlihat pas di kaki, sayangnya sepatu tersebut masih tak nyaman dipakai. Alhasil, ia pun kembali bersemangat dan bertekad untuk mendapatkan alas kaki yang lebih baik.

Kerja Keras Tak Ingkari Hasil Akhir

Selesai kuliah, Niluh kembali ke Bali dan bekerja di perusahaan fashion milik Paul Ropp, seorang berkebangsaan Amerika Serikat. Dipercaya menduduki posisi direktur marketing pada tahun 2012, penjualan perusahaan tersebut naik hingga 330% dan membuka 10 butik baru di beberapa lokasi.

Keberhasilan tersebut membawanya terbang New York. Sayangnya, ia kemudian jatuh sakit yang membuatnya tak boleh bepergian selama enam bulan. Sadar tak bisa berbuat banyak, Niluh pun memutuskan untuk pulang ke Bali.

Toh begitu, tekadnya membuat sepatu yang nyaman masih tetap membara. Alhasil, meski berada di Indonesia, perempuan penyuka buku ini kemudian mencoba peruntungan dengan menjalin kerjasama bersama Cedric Cador, pria yang kemudian menjadi suaminya. Cedric sendiri bukan pemain baru. Ia kerap menjual barang-barang Indonesia di Eropa. Dari kerjasama ini, lahirlah label Nilou, dimana proses pengerjaan sepatu di bawah label ini benar-benar mendapatkan pengawasan ketat dari Niluh. Untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan agar sepatu yang dihasilkan nyaman untuk dipakai, semua proses pengerjaan dilakukan secara konvensional dengan menggunakan tangan.

Siapa sangka, koleksi pertama Nilou akhirnya tenar di Perancis dan dunia. Pesanan pun membanjir hingga 4.000 pasang. Sejumlah selebriti Hollywood papan atas seperti Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, juga Robyn Gibson merupakan penggemar fanatik sepatu Nilou.

Di tengah kesuksesan yang dialaminya, badai cobaan kembali hadir. Ujian itu bermula kala di medio 2007, Niluh mendapatkan tawaran dari agen Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap dengan memproduksi secara massal sepatu-sepatu dibawah labelnya. Rencananya, produksi tersebut akan dilakukan di Cina. Tak ingin cinta yang terlanjur melekat pada workshop sepatu buatan tangan tergantikan oleh mesin, secara tegas, Niluh pun menolak.

Siapa sangka, keputusan yang ia ambil ini justru menjadi bumerang. Tanpa sepengatahuannya, para penawar tersebut telah mematenkan Nilou dan tetap memproduksi secara massal di Cina.

Sepatu label Niluh Djelantik identik dengan hak tinggi
Sepatu label Niluh Djelantik identik dengan hak tinggi
Sepatu buatan Niluh menyajikan detail yang unik
Sepatu buatan Niluh menyajikan detail yang unik
Sepatu buatan Niluh dengan model Oxford Shoes yang dibuat di Desa Canggu, Bali
Sepatu buatan Niluh dengan model Oxford Shoes yang dibuat di Desa Canggu, Bali

Kembali Bangkit

Tak patah semangat, Niluh yang merasa sedih dan kecewa tetap berusaha untuk bangkit kembali. Masih dengan mimpi yang sama, yakni membuat alas kaki yang nyaman dan pas, ia akhirnya memproduksi sepatu dengan label Niluh Djelantik pada tahun 2008.

Bekerja dengan cinta, begitulah semangat yang melekat pada Niluh. Mengabungkan pekerjaan dengan passion, pengalaman pahit yang ia alami justru membuatnya semakin yakin untuk tetap mempertahankan impiannya semasa kecil, membuat alas kaki yang pas dan nyaman.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli13%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie