Lupa Sandi?

Filosofi Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Asli Yogyakarta

Nudia Imarotul Husna
Nudia Imarotul Husna
0 Komentar
Filosofi Jemparingan, Tradisi Panahan Kuno Asli Yogyakarta

Olahraga telah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tidak hanya olahraga lari dan sepak bola yang kini semakin eksis di kalangan anak muda, olahraga panahan pun tengah menjadi aktivitas favorit. Sebut saja, Jemparingan, misalnya-- tradisi panahan kuno asli Yogyakarta yang sampai sekarang masih dilestarikan. Tidak seperti aktivitas panahan pada umumnya, Jemparingan memiliki sejarah, filosofi, dan teknis dasar sendiri.

Tradisi Jemparingan telah ada sejak zaman kerajaan ratusan silam. Dahulu kala, tradisi ini dimainkan oleh para bangsawan kerajaan dan juga keluarganya. Raja Kerajaan Mataram pun menjadikan permainan ini sebuah perlombaan wajib di wilayah kerajaan kala itu. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai dimainkan oleh rakyat biasa sebagai bagian dari hiburan dan juga pelestarian budaya yang sangat berharga. Tradisi panahan jemparingan ini terus bertahan meski dalam beberapa waktu sempat meredup dan jarang dimainkan lagi, dan kini, jemparingan kembali muncul dan diminati oleh generasi muda.

Para prajurit di zaman kerajaan melakukan tradisi jemparingan ini guna melatih ketajaman konsentrasi dalam melesatkan anak panah. Lambat laun, tradisi jemparingan ini menyebar ke kerajaan sebelah bahkan bangsa asing juga melakukannya. Eksistensi tradisi ini semakin menjamur kian hari mengingat panahan juga merupakan olahraga yang bukan hanya berfungsi untuk latihan fisik namun juga latihan jiwa.

Tidak seperti permainan panahan pada umumnya yang dilakukan dengan posisi berdiri seperti yang kita tonton di film Hunger Games, jemparingan ini dilakukan dengan posisi duduk bersila. Peserta biasanya duduk dengan gaya mataraman membentuk dua barisan dengan menghadap ke barat. Posisi duduk ini bukan muncul tanpa alasan. Konon katanya, posisi duduk ini disebabkan karena dahulu para bangsawan biasanya memanah sambil bercengkrama membicarakan bisnis sambil menikmati kopi, teh, atau makanan ringan. Oleh karenanya, posisi duduk dirasa paling sesuai dan nyaman.

Baca Juga
Para peserta mengenakan pakaian adat tradisional dalam melakukan Panahan Jemparingan dengan posisi duduk. wego.co.id
Para peserta mengenakan pakaian adat tradisional dalam melakukan Panahan Jemparingan dengan posisi duduk. wego.co.id

Selain itu, aktivitas memanah juga mewajibkan para peserta untuk mengenakan pakaian adat tradisional Jawa lengkap dengan jarik, blangkon, kebaya untuk peserta perempuan dan beskap untuk peserta laki-laki. Bahkan ada yang melengkapinya dengan keris. Oleh karena itu, tidak jarang nuansa tradisional zaman dahulu kerap dijumpai pada aktivitas panahan jemparingan ini.

Metode memanah ini adalah dengan busur yang terbuat dari bambu ditarik ke arah kepala sebelum akhirnya ditembakkan untuk mengenai sasaran berupa bedor atau wong-wongan yang memiliki panjang 30 cm dan diameter 3,5 cm. Jarak antara posisi duduk dengan target adalah 30 meter.

Secara garis besar, olahraga jemparingan ini bukan hanya sekedar permainan namun juga merupakan olahraga yang digunakan untuk melatih ketajaman mata dan konsentrasi. Keberhasilan memanah biasanya tergantung pada suasana hati. Jika suasana hati sedang gembira, anak panah akan lebih mudah mengenai target. Namun, jika suasana hati sedang penuh amarah atau sedih, anak panah akan sulit mengenai target. Oleh karenanya, perlu kesabaran dan konsentrasi yang mendalam dalam melakukan permainan panahan jemparingan ini apalagi dilakukan dengan posisi duduk karena konon katanya panahan akan lebih sulit dengan posisi duduk bersila.

Permainan Jemparingan yang dimainkan oleh anak-anak. tapakasmo.com
Permainan Jemparingan yang dimainkan oleh anak-anak. tapakasmo.com

Hingga kini, panahan masih sering dijadikan permainan dan perlombaan di berbagai acara di Yogyakarta, seperti acara HUT Kulon Progo ke-65 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan KulonProgo di Alun-alun Wates bulan Oktober lalu, acara Yaqowiyyu yang digelar setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa, juga perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh kampus-kampus di Yogyakarta. Perlombaan ini tidak hanya melibatkan para pemuda namun juga anak-anak.  


Sumber : Dirangkum dari beberapa sumber.

Pilih BanggaBangga68%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau16%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG NUDIA IMAROTUL HUSNA

Peminum kopi, penikmat buku, pemburu ilmu. Sedang tertarik dengan Sejarah. ... Lihat Profil Lengkap

Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata